Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Juli, 2014
Menyanyilah, Sayang Fajar telah melepas peluk langit kala itu Bertabur cahaya merah ke-emasan Tapi bukan mentari, sayang Dan kedamaian-kedamaian seolah hanya teori Sepenggal humoran yang menikam hati Anakku, jangan menangis Di luar kita telah dikepung teroris Tenang, tenanglah, Sayang Akan Ibu beri engkau susu sampai kenyang Jangan kau pinta bermain di luar, permata kecilku Di sana mereka  mengincar jantungmu Dengan  bedil-bedil yang penuh dengan peluru                 Diamlah, menyanyilah di sini Bersama dawai-dawai kerinduan pada Ilahi Lantunkan kalimat rindumu, Sayang Sebentar lagi kita akan pulang
Cinta, bibirku tak henti ingin berkisah tentangmu, tentangku, tapi bukan lagi tentang kita. Aku seharusnya tahu bahwa kamu tak bisa dipaksakan. Aku harusnya sadar dan tahu alasan kenapa harus menjauh saat ini. Ini salahku, cinta. Biarkan aku menjauh, mencari cinta yang hakiki. Bisakah kau antarkan aku pada kebahagiaan yang sesungguhnya? Aku sungguh tak tertarik lagi denganmu. Aku ingin pulang. Meninggalkanmu di sudut-sudut kotor hati ini. Cinta, biarkan aku memilih-Nya sebagai cinta terakhirku. Biarkan aku pergi. Sepandai apapun kau berdusta, tetap akan terbongkar jua.. Kini luka itu kembali basah setelah sekian lama hampir mengering. Kaukah itu, sebuah perasaan yang banyak dipuja orang? Namun kini justru menjadi bumerang yang amat menyakitkan. Cinta, biarkan aku memilih Dia sebagai pelabuhan cinta terakhirku. Aku memilih-Nya karena Dia memang benar-benar mencintaiku. Yang membuka semua kebohongan-kebohongan itu. Aku ingin damai... Jika wanita itu benar-benar menjadi pilih...

Untukmu, Ibu

Kupersembahkan sepucuk surat rindu ini. Bu, apa kabrmu di sana? Semoga kau sentiasa dalam limpahan kasih sayang-Nya. Aamiin. Bu, tak terasa sudah tiga kali ramadhan nanda lalui tanpa sepenuhnya bersamamu. Apa kau merasakan rindu yang sama seperti nanda, Bu. Sekarang, nanda harus bangun sendiri. Nggak ada yang mengingatkan nanda untuk shalat, bakti sama orang tua, dan berbagi. Bu, kau tahu? Selalu nanda sematkan namamu dalam kidungan rinduku. Tahukah, Bu, nanda bahkan kini tak menyadari sudah sama dari separuh dari usiamu. Tapi sejauh ini nanda belum bisa memberikan apa-apa. Maafkan nanda, Bu. Bu, nanda rindu. Sungguh teramat rindu. Kampung halaman yang telah lama nanda tinggal, embo'an sapi di kandang, ah.. semua Bu. Aku menginginkan semuanya. Tapi bagaimanalah mengeja rerupa rindu itu? Cukupkah do'a yang akan mempertemukan kita, Bu. Nanda ingin pulang... :(