Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Mei, 2014

Airmata Berharga

Menjadi seorang muslimah itu gampang – gampang susah. Apalagi jika lingkungan tidak mendukung kita untuk menjadi seorang muslimah sejati. Ada – ada saja yang akan menguji kesabaran kita. Karena saya muslimah, saya harus sabar. Sabar dalam menghadapi berbagai cobaan Allah SWT. Karena di balik ujian yang Dia berikan tersimpan cinta untuk hambaNya. Saya sempat b – e – t – e sama muslimah yang kadang nyebelin. Sebut saja ia Mbak Farah . Mbak Farah ini salah satu karyawan di tempatku bekerja. Bedanya, dia sudah senior dan jadi karyawan tetap. Sedangkan saya masih anak baru. Dari dulu, Mbak Farah ini terkenal banget kalau orangnya nyebelin. Bahkan beberapa di antara mereka menyebutnya Nenek Lampir karena saking galak dan nyebelinnya.             Saya sering menjadi korbannya. Sakiit sekali. Tapi saya diemin. Mudah – mudahan saja Allah mengampuni saya yang sempat membalasnya sesekali. Awal ceritanya, sewaktu mau ke toilet saya...

Merebut CintaNya

Aku masih berkutat pada buku – buku di depanku. Membolak – balik seolah  mencari sesuatu yang hilang. Sebentar – sebentar meraih tumpukan buku yang lain di samping kiri dan kanan. Bercecer. Sementara suara keras TV di ruang tamu semakin membuatku tak bisa konsentrasi. Coratan di kertas yang sedang aku pegang semakin tak beraturan. Angka – angka yang tertulis rapi di dalam otak sepertinya enggan untuk keluar. “Sudah malam, waktunya tidur Nduk,” Ibu memergoki masih setia mengerjakan soal seabreg yang ku pinjam dari tetangga tempo hari. “Belum ngantuk Bu, nanggung, sebentar lagi.” Jawabku. Beberapa saat setelah itu seisi rumah gelap. Hanya tinggal lampu kamarku saja yang masih menyala ditemani suara – suara berisik kertas yang kubuka dengan kasar. ****             Kaki langit menghitam, seolah hendak menumpahkan amarahnya kepada bumi dan isinya. Suara gemuruh di sertai kilatan petir menambah heboh suasana di rumahku. ...

Ending Cerita

Tips Menulis: Beberapa Pertanyaan Tentang Ending Apakah menulis harus sudah tahu endingnya? Beberapa penulis sudah tahu ending ketika memulai menulisnya. Sehingga ia sudah menyiapkan berbagai informasi yang membuat ending jadi tak terduga. Beberapa penulis ada yang mulai menulis sebelum tahu ending dan meyakini akan menemukan ending terbaik untuk kisahnya. Beberapa lainnya bahkan punya beberapa alternatif ending dan belum memutuskan yang mana yang dipilih sampai titik tertentu dalam tulisannya. Mana yang tebaik? Tidak ada yang yang lebih baik satu dan lainnya, dan tidak ada yang salah dan benar, yang penting dimulai saja proses menulisnya. Beberapa penulis mengalami ketiganya, tergantung yang mana dulu ide muncul, ada yang ide openingnya duluan, ada yang ending duluan, jadi tidak sama prosesnya dalam setiap cerita. Bagaimana mengakhiri cerita yang baik? Cerita yang baik harus berakhir dengan penjelasan yang memuaskan atas semua konflik yang disajikan. Semua pertanyaan yang belum t...

Twist Ending

Tips Menulis: Twist Ending Salah satu keahlian yang membuat penulis dihormati karyanya adalah kemampuan membuat twist ending atau ending yang menipu. Banyak istilah yang bisa kita sebut untuk ending jenis ini seperti plot twist, shocking ending (ending yang mengagetkan), unpredicable ending (ending yang tidak terduga) atau ending yang menjebak. Bahkan di cerita yang hebat bukan sekedar ending yang menjebak dalam cerita sebelum ending pun banyak kejadian atau penyelesaian yang tidak terduga. Untuk membuat ending yang menjebak kita harus menggiring pembaca menduga dan menebak-nebak. Semakin kita berhasil membuat si pembaca bisa menebak semakin bagus. Mereka akan kagum pada penulis kalau ternyata tebakannya salah. Istilahnya menghasilkan efek jaw dropping atau melongo, gila! gue ketipu. Tapi ada syarat membuat twist ending. Pertama, ada lanjaran yang kuat (fore shadowing). Jadi orang sekalipun salah tebak akhirnya menerima karena ternyata sebagai pembaca atau penonton mereka lupu...

mercusuar kerinduan

Teeeettt... Teettt.. Teeetttt  "Ayo Mbak, nanti kita terlambat" "sebentar ih Mae, itu teman - teman juga masih di sini kan?" Di sini tempat cari senang Salah tempat kalo kau cari uang Di sini orang-orang penuh kreativitas Tempat orang-orang yang terbaik Di sini bukan anak-anak malas Tempatnya para pekerja keras Di sini bukan anak-anak manja Sedikit kerja … banyak mintanya Kerja … kerja … ayo kita kerja 

Kisah Irfan

"Anak sekolah kerjaannya main melulu. Belajar !" Teriakan itu di susul dengan serangkaian caci maki yang lain. Wanita paruh baya itu begitu geram. Marah. Anak sulungnya selalu saja membantah. Bahkan beberapa kali ini dia mulai berani membantah perintahnya. "mau jadi apa kamu kalau tidak pernah mau belajar. Jadi gelandangan? Hah" Remaja tanggung itu beringsut dari tempat duduknya. Padahal baru saja ia pulang sudah kena semprot. Bukan hal baru baginya menerima cacian - cacian itu. Setiap hari bahkan sejak ia berumur enam tahun pemandangan itu selalu ada. Menyebalkan. Selalu saja wanita itu menyuruhnya belajar. Memangnya kenapa kalau tidak belajar? Mati? Ia masih tak kalah geram mendengar semprotan wanita paruh baya itu. "Nah Molor. Main molor main molor. Di terus - terusin aja. Anak tak tahu di untung!. Brengsek!" "Kalau anaknya brengsek berati orangtuanya juga brengsek! Anjing" anak muda itu tak mau kalah. "Apa!!! bicara sekali lagi...

Rezeki Itu...

Tentang rezeki, mungkin sebagian orang dari kita akan berfikir tentang uang. Tapi tahukah anda, bahwa rezeki mencakup lebih jauh dari sekedar itu. Dari Rizki kesehatan,   waktu, kesempatan, kecerdasan, istri, anak, orang tua, tetangga, teman, lingkungan, hujan, tanaman, hewan piaraan, dan lain – lain itu juga merupakan rezeki loh. Rezeki adalah sesuatu yang di manfaatkan. Nah, teman – teman pasti tahu apa – apa saja yang dapat di manfaatkan itulah rezeki. Tapi teman – teman harus ingat ya, kita harus memanfaatkan rezeki yang di berikan oleh Allah untuk sesuatu yang baik. Sebahagian ulama’ ada yang mengaitkan sebab rizki tersebut dengan tawakkal kepada Allah SWT. Ini artinya, bahwa sebab rezeki ini adalah Allah SWT. Karena itu yang menentukan banyak dan sedikitnya rizki adalah keyakinan seseorang kepada Allah sebagai ar-Razzâq (Maha Pemberi Rizki), sebagaimana yang dinyatakan oleh hadits Nabi saw.: “Jika kalian bertawakkal dengan tawakkal yang sebenar-benarnya, niscaya Al...

Aku ingin Jatuh Cinta

Cinta,, mengapa kau begitu spesial di mata semua orang. Ada apa dengamu? Sehingga setiap detik kau menjadi buah bibir bagi anak - anak Adam ini. Cinta,, ku berusaha mencari dalam kegamanganku. Mencarimu. Menginginkan agar engkau dapat singgah di hati kecil ini. Tapi aku tak tahu cinta, aku tak tahu bagaimanakah rupamu, perangaimu, dan semua tentangmu. Haruskah aku melukis tanpa wajah? Lukisan dalam bingkai - bingkai do'aku pun turut menyambangimu. Tapi kau masih bersembunyi, tak sudikah kau menyapaku? Cinta. Ada apa dengan cinta? Mengapa orang - orang mengelu - elukannya? Ada apa dengan cinta? Sehingga beberapa orang mengumpat, mencaci dan bahkan membenci. Apakah aku ingin jatuh cinta? Apakah aku ingin memiliki cinta? Lalu dengan siapa aku akan jatuh cinta? Lalu dengan siapa aku menanam benih - benih cintaku? Allah,, aku yakin hanya Engkau yang patut aku cintai saat ini. Jika ada barang setitik nafsuku, sesungguhnya Engkau adalah pengampun. Aku jatuh cinta denganMu, ya Rabb. ...

Asal - Usul Batu Golong

Mentari mulai mengintip aktivitas bumi dengan malu – malu. Di kaki langit sana semburat warna kuningnya mulai nampak. Sepertinya dia enggan memulai aktivitasnya sendiri, tak seperti hari – hari biasanya. Pemandangan jalan masih lengang. Tapi tidak, terlihat beberapa laki – laki dan wanita memakai seragam lusuhnya, memakai caping hendak menjemput fajar di kaki langit bukit sana , di sebelah timur Desa mereka. Satu dua orang mulai menyusul orang – orang tua itu. Semakin ramailah mereka berjalan menyusuri bukit keberkahan, tempat bercocok tanam mereka. Sang Surya mulai merangkak tinggi ketika serombongan anak – anak gadis mengantarkan makanan untuk orang tua mereka. Mereka pun terlihat anggun, memakai kebaya serta selempang di pundak mereka. Bertapian kain panjang menutup betis – betis nan elok itu serta tak lupa pula dengan bakul – bakulnya. Sungguhkah mereka bak seorang pengantin pada masa lampau di sebuah kerajaan mereka. Satu dua canda terlihat meramaikan jalan, membuat iri ...

Ketika Sakarotul Kantong Menjemput

Sebagai seorang karyawan saya dituntut harus jeli melihat kebutuhan yang akan datang. Sebisa mungkin memilah dan memilih kebutuhan yang penting (primer), kurang penting (sekunder) dan tidak penting (tersier). Kebutuhan sekunder meskipun kurang penting namun keberadaannya juga patut di perhitungkan dalam kebutuhan bulan depan. Belum lagi kebutuhan orangtua di kampung. Wah, banyak juga ya? Tapi jangan lupa saya juga butuh menabung untuk kehidupan masa depan nanti.  Untuk pemasukan tetap dan pengeluaran yang naik turun, kadang membuat saya kalang kabut mengatur pengeluaran. Banyaknya biaya tak terduga menuntut saya untuk menepis biaya - biaya yang kurang / tidak perlu di keluarkan. Pangkas sana - sini perlu di lakukan supaya tidak berbuntut panjang di akhir bulan.  Tapi hal itu tidak perlu di khawatirkan lagi. Sekarang saya sudah mempunyai beberapa tips hasil belajar setiap bulannya, hehe. Beberapa tips untuk mengatur keuangan supaya tidak terjadi krismon di akhir bula...