Menjadi seorang muslimah itu gampang –
gampang susah. Apalagi jika lingkungan tidak mendukung kita untuk menjadi
seorang muslimah sejati. Ada
– ada saja yang akan menguji kesabaran kita.
Karena saya muslimah, saya harus sabar.
Sabar dalam menghadapi berbagai cobaan Allah SWT. Karena di balik ujian yang
Dia berikan tersimpan cinta untuk hambaNya.
Saya sempat b – e – t – e sama muslimah
yang kadang nyebelin. Sebut saja ia Mbak Farah . Mbak Farah ini salah satu
karyawan di tempatku bekerja. Bedanya, dia sudah senior dan jadi karyawan
tetap. Sedangkan saya masih anak baru.
Dari dulu, Mbak Farah ini terkenal
banget kalau orangnya nyebelin. Bahkan beberapa di antara mereka menyebutnya Nenek Lampir karena saking galak dan
nyebelinnya.
Saya
sering menjadi korbannya. Sakiit sekali. Tapi saya diemin. Mudah – mudahan saja
Allah mengampuni saya yang sempat membalasnya sesekali.
Awal ceritanya, sewaktu mau ke toilet saya
melihat tamu sedang menunggu seseorang di Lobi. Karena di desak keadaan saya tidak
sempat bertanya hendak bertemu siapa. Setelah hajat selesai, ternyata dia mencari Mas Roni. Karena dia biasanya
di tempat Mbak Farah, maka saya gt-in
tuh ke Mbak Farah. E, saya malah kena semprot habis – habisan sama dia.
Nyebelin banget kan ?
Sakit hati banget waktu itu.
Saking keselnya, saya yang tidak pernah
membalas omongannya lama – lama terpancing juga.
“ Ya udah si Mbak, orang di sini dia
nggak ada. Biasanya kan
dia di situ. Saya cuma ngasih tahu doang, kalo nggak ada ya udah nggak usah
marah – marah gitu!” saya membalas dengan marah dan jengkel yang telah
bercampur jadi satu. Bahkan sampai saya nulis ini pun kami belum pernah
bertegur sapa.
Itu hanya satu yang saya tuliskan.
Masih banyak sesuatu yang membuatku sakit hati sama Mbak Farah ini. Waktu itu saya
pernah menangis karena cemoohannya.
Pernah juga saya menangis lagi di PT
oleh rekan kerja. Walaupun niatnya cuma bercanda, tapi kan seharusnya dia punya batas yang nggak
boleh di lewati.
Tapi
dari semua hal itu saya menerima pelajaran berharga tentang pentingnya menjaga
perasaan.
Bahwa
ketika saya di permalukan, saya tidak mau mempermalukan orang lain karena saya pernah
menjadi orang yang di perlakukan seperti itu. Terlebih di depan orang banyak.
Ketika
menangis karena sikap – sikap teman kerja, saya mengambil pelajaran bahwa
sebuah perasaan tak seharusnya hancur oleh sikap – sikap nyebelin kita. Bisa
saja kita hanya berniat bercandaan, ee tapi karena suasana korban sedang sensitive, maka kita juga harus mengurangi porsi membuli atau bercanda.
Dan
yang terpenting, kita jangan jadi orang yang nyebelin. Karena kalau kita
nyebelin orang di sekitar yang menjadi korban
biasanya juga akan melampiaskan kekesalannya kepada orang lain.
Jadi,
sebagai muslimah saya harus sabar menghadapi cobaan. Ini belum seberapa dengan
cobaan Allah pada zaman Nabi. Dan nyatalah dengan kesabaran itu berbuah manis.
Allah, semoga Engkau mengampuni kami karena belum mampu bersabar. Aamiin
*****
Raudhatul Jannah. Penulis lahir di
Kebumen, 03 Oktober 1994. Saat ini penulis bekerja sebagai karyawan di salah
satu perusahaan swasta di daerah Cikarang.
Teman – teman bisa berteman dengan saya di Facebook
dengan account name Supinah atau twitter
@supinah94. Atau bisa juga menghubungi supinah94@gmail.com.
Do’akan
ya teman – teman supaya bisa terus
menebar manfaat melalui tulisan, aamiin.
Komentar