Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2023

Something Old, Something New

Dear Pejabat di lingkungan kantor M******* yang baru,  Saya telah kembali dari masa studi yang amat lama. Saya katakan sangat lama, sebab dalam masa studi itu, saya merasakan banyak sekali perubahan-perubahan. Baik perubahan pada diri saya maupun perubahan-perubahan kantor.  Beberapa membuat saya senang, karena perubahan itu baik menurut pandangan idealis saya. dan banyak sekali perubahan-perubahan yang membuat saya tercengang. Adapun hal-hal tersebut saya tidak bisa katakan secara langsung, oleh karena itu saya tuliskan sahaja di laman ini. Tentunya, bapak dan ibu pejabat tak ada menemukan tulisan ini.  Pertama kali saya menjadi anggota di kantor kita ini ialah September 2015, yang mana kala itu saya masih buta dan tidak tahu apa-apa. Jangan tugas dan tanggungjawab, bahkan nama instansi kita pun saya tidak tahu. Sepertinya Tuhan sengaja membawa saya ke sini, agar saya bisa belajar lebih banyak.  Perkiraan saya benar, saya betul-betul belajar lebih banyak dari yang b...

One Step Closer

Kemarin, aku menghubungi salah satu dosen bahwa aku tertarik untuk belajar menulis. Nice start, i think because if i want to get scholarship, i must learn how to write. It doesn't have to write in English, but write everything instead.  Why? because in master degree i heard that student must be write a lot of their task. and it would really struggle if i never write before.  i said, i know nothing about scientific journaling.  i have been writen on blog for 10 years, but not really active and i just wrote random things. Indeed, i wrote about my life, my curiousity, my feelings, and so on.  So, from now on, i want to learn how to write scientic journal.  My lecturer said, i just need to be looking for some problem around my job, and write it on essay. I think, it is different about essay and scientific work. the difference is about the array.  From now on, i must be write a lot so that i can get the feel of.  and i have to manage my time better as well,...

Kok aku yang telfon terus?

Yak. sesi curhat lagi hehe Berhubung ngga tau apa masalahnya gabisa tidur, jadi awalnya buka laptop niat mau latihan mock test english, tapi tiba-tiba aja kepikiran, kenapa yang dari semua teman-teman aku, hampir 100% aku yang selalu chat/telfon mereka dulu. Ngerti sih, makin dewasa, circle makin sempit, makin banyak kesibukan-kesibukan yang mengharuskan kita menghabiskan waktu sendiri atau dengan orang-orang yang memiliki kesamaan dengan kita. Rasanya begitu lulus, ilang aja gitu teman-temannya. Walaupun emang sih, sejak sekolah pun aku bukan tipikal orang yang gampang punya teman.  Tetap aja, kalau bisa dibilang sedih, iya sedih sih.  Kadang hal-hal yang gabisa kita cerita ke orangtua, masa-masa sulit kita, bebas kita curahkan ke teman dekat, ga selalu mengharapkan saran atau bantuan apa. Mostly we just need to be listened.  And my overseas friend as well. We have nothing to say anymore. Not really close as before, just send some random reels and talking a bit.  No...

Serang dan segala kemungkinan

Satu hari lagi. Ya, satu hari lagi tempatku di sini. Padahal baru kuingat betul 18 Mei itu baru hari kemarin, tapi sekarang Juli sudah habis, berganti Agustus kemudian memangkas waktuku (lagi). Fiuh. Apa yang bisa kuperbuat? Mengulur waktu? Mulai menghisapnya, menghabiskannya? Serang, salah satu kota yang 'rama' di provinsi Banten. Satu dari kota yang menjadi kenangku. Karena banyak lagi orang-orang yang menjadi bagian dari hidupku. Enam orang. Aku termuda di antara mereka. Pun paling sering tidak paham ketika mereka membahas hal-hal yang rumit. Hei, siapa aku? Lahir di suasana dusun yang sunyi, bergelut dengan burung yang terbang tinggi. Aku tak bisa menjadi angin, yang mengerti semua orang. Yang bisa memeluk mereka yang membutuhkan. Aku hanya batu. Yang hanya diam. Mencuba memahami hidup yang memaksaku dewasa. Aku tidak ingin menjadi orang dewasa. Itu sesuatu yang sulit. Banyak masalah, banyak yang harus dipikirkan. Dan tentu saja, banyak memiliki perasaan. Ka...

Ternyata sudah 10 tahun Ngeblog

Yaps.  Aku juga tidak menyadari sampai tidak sengaja membuka arsip postingan blog. Rupanya waktu cepat sekali berlalu.  Dulu postingan blog gak jauh-jauh banget dari lomba, catatan puisi entah dimana terus di copy di blog.  Senang dulu punya blog yang dibuat sendiri, di utak atik desain sendiri. Puas rasanya.  Sekarang, jangankan kreatif mendesain, menulis saja hanya berbilang jari.  Aku kadang berfikir, atau lebih tepatnya mengandai-andai jika di sepuluh tahun aku membuat blog dan konsisten menulis, apa ya yang bakal aku raih. Adakah sesuatu yang bakal aku capai jika aku hidup dengan menulis?  Tetapi pikiran itu mengacaukan hidupku. Bukan hanya menjadi minder dengan teman-teman yang sudah mendapatkan penghasilan dari menulis, tetapi aku juga mengingkari keberadaan diriku yang sekarang.  Orang-orang besar dilahirkan melekat dengan aksara. Orang bijak menulis, orang romantis belum tentu menulis. Orang kaya sepertinya membaca buku, dan seorang pemikir pa...

Kuliah (yang) Jauh, Haruskah Kembali ke Indonesia?

Hari ini menarik sekali mendengarkan pod-cast dari Gita Wirjawan dengan Bagus Muljadi. Judul Pod-castnya 'Buru Beasiswa, Jadikan RI Kiblat Riset'. Awalnya aku iseng buka youtube dan judul itu tidak sengaja lewat beranda. Karena judulnya yang unik, saya pun memutarnya sambil makan. Dan ketebak hasilnya, saya tidak terlalu mencerna semua perbincangan mereka.  Saya bilang menarik setelah di akhir-akhir dan rupanya yang dibahas daging semua. Tentang perspektif dua ilmuwan (saya sebut ilmuwan karena keduanya dosen) tentang Indonesia dan masa depan bangsanya. Alasan lain mengapa judul pod-cast ini menarik karena akhir-akhir ini banyak diperbincangkan soal penerima beasiswa LPDP yang kuliah di luar negeri, tetapi setelah selesai menempuh studi tidak pulang ke Indonesia, sehingga menuai pro dan kontra.  Pihak yang kontra (termasuk penyelenggara beasiswa) menuntut agar para awardee ini segera pulang setelah studi sesuai dengan surat pernyataan kembali ke Indonesia yang mereka tuliskan ...

Sebab Aku Anak Perempuan Pertama

Hari itu lepas magrib, dan aku baru saja tiba setelah seharian bekerja.  sebenarnya, hari itu tidaklah terlalu melelahkan, bahkan bisa dibilang agak biasa saja.  Pekerjaan memang agak menumpuk-selain karena PEER kerjaan tahun lalu (read-SIPT) juga sebab aku mendapat job lain yang tidak ada hubungannya dengan jenis pekerjaan teknisku yang sekarang.  Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak.  Sebab, bagaimanapun aku memandang semua pekerjaan adalah sama. Tidak berpengalaman bukan berarti tidak bisa untuk mempelajari hal yang sebelumnya tidak kita ketahui.  Singkat cerita, aku menerima job baru itu, sembari tetap mengerjakan yang sudah semestinya.  Entah, sore itu aku merasa sebuah beban diletakkan di pundakku. Jika kuingat seperti apa rasanya, itulah perasaan yang dulu, saat aku mengemban jabatan sebagai Bendahara.  Berat, tanpa terlihat beban yang dipikul. Mungkin seseorang menganggap pekerjaan itu menyenangkan, walaupun memang kenyataannya ben...

Kenapa Suka Nangis Tiba-Tiba?

Aku memang tipikal orang yang bisa nangis tanpa alasan.  Tiba-tiba khawatir dan takut, padahal gatau apa yang ditakutin.  Aku ngrasa kangen, jadi nangis. padahal aku gatau kangen sama siapa.  Memang, ketika nangis tu ada gambar seseorang, tapi rasanya aku bukan kangen sama dia.  Perasaan ini aku gatau dan entah kenapa, paling bisa bikin aku mewek yang sampe tertidur. Rasanya sakit, tapi entah sakit kenapa.  Harusnya pas nangis tu aku nulis. Biar tersalurkan apa aja ketakutan-ketakutan yang menghampiri.  Kalau di pikir-pikir, dulu aku erat kali kaitan sama laptop, nangis dikit nulis. Sekarang makin ke sini makin malas nulis dan payahnya aku makin ga bisa ngomunikasiin hal sepele kaya gini.  Aku mungkin takut sama masa depan.  Aku mungkin kangen sama seseorang, yang ika bersamanya aku bisa jadi diri aku sendiri. Aku bisa mengandalkan dia di segala situasi, tempat ternyaman yang aku mau. Karena rupanya, saat-saat sulit makin banyak bikin aku nangis. ...

Rumah Impian

Belakangan entah kenapa suka mikir, dan bertanya sama diri sendiri,  Besok, kalau dah rumah tangga mau punya rumah yang kayak gimana si?  Pertanyaan pertanyaan seperti ini, semakin sering muncul di kepala, sama halnya dengan aku pengen rumah tanggaku besok bakal gimana.  Bicara tentang rumah, aku rasa bukan hanya bicara tentang hunian mewah dengan berbagai perabotan estetiknya.  Bukan juga tentang desain dan mode yang digunakan. Meski, itu juga salah satu bagian yang penting karena bagaimana kita akan nyaman di tempat yang bahkan desain warna dan modenya tidak kita suka.  Mungkin jika sekedar nyaman bisa di kondisikan. Artinya, akan menyesuaikan dengan kemampuan dan kemampuan penghuninya.  Tetapi yang terpenting dalam membangun rumah bagiku pada dengan siapa dan mengapa?  Kita harus tahu apa yang kita butuhkan dan kita inginkan.  Rumah impianku sendiri, ialah bangunan kokoh yang mengadopsi gaya jepang (pada tampilan luarnya).  Warna coklat pa...