Saya telah kembali dari masa studi yang amat lama. Saya katakan sangat lama, sebab dalam masa studi itu, saya merasakan banyak sekali perubahan-perubahan. Baik perubahan pada diri saya maupun perubahan-perubahan kantor.
Beberapa membuat saya senang, karena perubahan itu baik menurut pandangan idealis saya. dan banyak sekali perubahan-perubahan yang membuat saya tercengang. Adapun hal-hal tersebut saya tidak bisa katakan secara langsung, oleh karena itu saya tuliskan sahaja di laman ini. Tentunya, bapak dan ibu pejabat tak ada menemukan tulisan ini.
Pertama kali saya menjadi anggota di kantor kita ini ialah September 2015, yang mana kala itu saya masih buta dan tidak tahu apa-apa. Jangan tugas dan tanggungjawab, bahkan nama instansi kita pun saya tidak tahu. Sepertinya Tuhan sengaja membawa saya ke sini, agar saya bisa belajar lebih banyak.
Perkiraan saya benar, saya betul-betul belajar lebih banyak dari yang bisa saya bayangkan.
Betapa tidak, impian dan bayangan saya sekejap hancur manakala mengetahui bagaimana sistem di kantor pemerintah itu bekerja.
Meskipun dalam surat penyataan tidak dituliskan 'bersedia bekerja di bawah tekanan' rupanya tekanan yang sebenarnya jauh lebih besar yang pernah saya bayangkan.
Pekerjaan ini, sungguh telah membawa saya menjadi seorang yang sangat berbeda.
Pemikiran-pemikiran saya yang sebelumnya tenang dan damai. Idealisme bangkit kembali seiring keadaan kantor yang semakin kacau.
Sampai saat ini, sejujurnya saya tidak begitu mengerti, mengapa kalian-kalian seolah tidak memikirkan idealisme yang menjadi pokok dalam pembangunan bangsa ini.
Kalian secara bersama-sama telah membiarkan korupsi, dan pemerasan rakyat dengan sukarela.
Mempersulit rakyat untuk memperoleh layanan, serta lain sebagainya.
Saya tidak ingin menyebut segala hal, karena semuanya menyakitkan untuk disebutkan.
Duhai, apakah kata para pendiri bangsa ini, jika seandainya mereka bangkit dari kuburnya dan menanyai kita tentang tongkat pekerjaan membangun bangsa ini.?
AKan kah kita akan berbangga, menunjukkan negeri yang semakin makmur atau lebih jujur dikatakan, kita telah menjual jiwa dan raga bangsa ini kepada kapitalis?
Kita memang tidak berpangku tangan, tetapi kita turut serta pada kejahatan moral...
Duhaiii
Saya menulis ini, sembari menahan tangis dan merasakan sesak di dada. Terasa sakit, tanpa bisa diobati.
Saya tahu diri, dan tahu tempat dimana saya berpijak.
Oleh sebab itu, saya tak kuasa berlari lebih jauh, mendaki lebih tinggi.
Karena dengan itu, bisa saja saya mati.
Dan 7 tahun berlalu, saya tetap pada pemikiran-pemikiran saya.
Bahwa segala sesuatunya, mestilah digunakan untuk kemakmuran bersama dan meningkatkan pelayanan pada masyarakat.
Saya tak peduli dengan caci maki kalian, sebab ini lah saya dengan segala idealisme yang masih tersisa.
Semoga, dalam segala kesusahan ini, berkat Tuhan selalu menyertai saya sekarang dan di masa depan.

Komentar