Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Juni, 2014

Sayap yang retak

Tanggal 16 Juni ini, ia pun masih menyematkan luka padaku. Entah apa yang membuatku masih ingin terus menatap meski awan putih menyelimutinya. Bulan ke 18 dalam dekapan Juni ini masih tersimpan rapih namamu, juga surga yang belum sempat terjamah itu.   Ende, kamu tahu itu. Di mana lagi aku ' kan menziarahi kota-kota dalam pelukan gelombang laut. Juga gunung-gunung yang menjulang tinggi bak tangga menuju langit. Dan gugusan bintang yang sekarang semakin menyepi menambah sisa-sisa rinduku yang entah beralamatkan siapa.             Di hari yang menjadi sejarah bagimu, dan bagiku, tapi bukan bagi kita. Aku ingin menitipkan satu bintang yang dulu selalu kamu hadiahkan untukku setiap malam.  Ah, ingin aku merutuki malam-malam ini. Semua tentangmu membias kembali dalam memori kenangan yang mengakar dalam sudut hati ini. “Kamu galau lagi?” Bintang seolah bertanya, membuyarkan barisan-barisan kenangan yang mulai jelas mem...

Kenapa Harus Ramadhan?

Kenapa harus Ramadhan? Akhir-akhir ini kita banyak dikejutkan olehh berita-berita razia PSK oleh kepolisian. Hal ini bukan kali pertama. Bahkan seolah telah menjadi tradisi atau kegiatan turun-temurun yang dilaksanakan tiap tahun. Tapi, pernahkah kita mendengar berita penggrebekan itu ketika bulan-bulan biasa? Ah, satu pertanyaan mengusik hati saya. Mengapa harus Ramadhan? Kenapa kegiatan razia itu tidak menjadi rutinitas tiap hari supa bisa meminimalisir angka zina yang telah meroket? Suatu perbuatan baik alangkah baiknya jika kita mengupayakan tiap hari. Bukan sekali setahun hanya menjelang bulan puasa. Masih hangat dalam ingatan kita tentang penutupan Dolly di Surabaya. Mengapa warga menolak penutupan itu? sungguh sebuah tradisi yang maaf bejat itu sudah menjadi warisan yang entah akan berakhir kapan. Sudah seharusnya kita berusaha menjadi hamba-Nya yang baik. Apa-apa yang kita lakukan di dunia ini mestilah dengan tujuan mencari Ridho-Nya. Apalah artinya harta yang be...

Musuh Bebuyutan

Sedari kecil, aku tidak begitu suka dengan binatang. Salah satu alasannya karena aku tipikal orang yang kagetan. Kalian tahu sendiri, kan ? Sebagian besar binatang itu ‘selalu’ mengagetkan. “Aaargh.” Teriakan kencang  keluar spontan begitu saja. Sambil berjingkat-jingkat menghindari serangga  berwarna coklat dan mempunyai sepasang sayap. Sungguh menjijikkan hewan itu. Sepagi ini berani-itu beraninya membuat ulah denganku.   “Ih, Rara! Ngapain sih pagi-pagi sudah berisik!”suara itu membuatku merasa bersalah. Tapi mau gimana lagi. Aku hanya ingin menyelamatkan diri dari makhluk jelek itu. “Eh, nggak apa-apa mbak, tidur aja lagi,” kataku sambil nyengir seolah tak ada sesuatu yang terjadi. Masih jam 5 pagi. Tapi sialnya, aku sudah kena semprot oleh Mbak Risa. Setelah puas berteriak bak sedang di kepung oleh tentara VOC, aku mengambil semprotan pembasmi serangga. Benda itu kini menjadi senjata untuk melawannya. Dengan kaki gemetar dan mata yang nengok-takut tib...

Jawaban Rindu Nenek Buyut

Ada yang berbeda dengan lebaran tahun lalu. Tak terlihat gurat kesedihan di wajah Nenek buyutku. Biasanya setiap lebaran beliau menanyakan cucu-cucunya yang tak bisa berkumpul  semua.  Tapi kali ini semua kesedihan itu tak nampak lagi. Paman Rasimun, Paman Raswan, dan Paman Rajiman saudara dari Ibu semuanya berkumpul.  Mereka pulang beserta anak-anaknya yang seringkali menjadi pertanyaan oleh Nenek buyutku. “Bani, sini! Jangan di situ. Nanti jatuh.” Bani, adik sepupuku yang baru berusia 2 tahun itu masih tak mau menjauh dari tangga. Tak sabar, aku menggendongnya, menjauhkan ia dari kemungkinan terburuk yang mungkin menimpanya. Tak lama setelah itu, Robi-anak dari Paman Rajiman merengek. Badannya panas dan hanya mau di gendong oleh Mamanya. Kasihan dengan Bibi yang menggendong sudah 2 jam-an lebih, aku berusaha membujuk Robi agar mau pindah ke punggungku. Kami yang baru mudik bersama tentu masih merasakan lelah. Alhasil, baru sebentar menggendong Bani, kini Rob...

Rumahku Berdarah

Beberapa orang mendekati kami. Mereka mengamati, bahkan beberapa mengambil gambar. Kemudian ada satu lagi yang menelefon. Entah dengan siapa aku tak tahu. Tapi, setelah pembicaraan di telepone itu selesai mereka lantas menyiapkan sesuatu. Ada yang mengeluarkan sangkar, karung, dan  seutas tali. Semuanya terlihat sibuk. Kami semakin tertarik melihat adegan itu. Lima orang mendekati kami dan dalam sekejap beberapa sudah berada dalam dekapan para manusia itu. Dua temanku berhasil masuk kurungan besi berbentuk bujur sangkar itu. Dua orang membawa ‘tempat baru’ itu ke dalam sebuah kendaraan berroda empat.  Aku masih mengamati, tanpa perlawanan sedikitpun. Sedangkan lima orang lainnya juga sibuk mempersiapkan sesuatu. Rumit sekali. Satu orang diantara mereka berteriak-teriak, sepertinya dia adalah ketua dari rombongan tujuh manusia itu. “Cepat tembak mereka, bodoh!” suaranya melengking hampir menyamai letupan senjata api yang dibawanya. Sekejap rumah kami ibarat nera...

"Keping Hati"

Resensi novel “Keping Hati” Judul Buku       : Keping Hati Penulis              : Rina Rinz, dkk. Penerbit            : Indie Book Corner Kota Terbit      : Yogyakarta Tahun Terbit     : Maret 2014 Jumlah Hlm       : 291 Hlm. Harga               : IDR 69.000 Ketika cinta dan persahabatan dihadapkan pada satu masalah, mana kah yang harus di pilih? Haruskah cinta mengalah demi persahabatan yang telah dibina bertahun-tahun? Ataukah persahabatan itu justru akan hancur seiring kedatangan cinta yang menyelinap ke dalam hati seseorang? Begitu susah cinta di terka. Seperti kepingan-kepingan puzzle yang susah untuk menyatukan gambarnya. Kadang gambar itu tidak selalu sesuai dengan ha...

Ketika Allah Merengkuh Rinduku

Ketika rindu pada seseorang yang telah tiada, kepada siapa kah rindu itu kan ku labuhkan? Allah, Engkaulah yang Maha Mengetahui, Maha Bijaksana. Engkaulah yang menurunkan kebenaran itu di saat manusia tengah berada dalam kejahilan yang nyata. Karena Engkaulah Islam kini Berjaya, sehingga dakwah-dakwah terus berkibar. Izinkan kami agar tetap bisa mengibarkan pani-panji Islam. Untuk menegakkan kebenaran dan syari’at-Mu. Seperti Bilal Bin Ribah, salah satu hamba-Mu, mudah-mudahan menjadi hamba terkasih-Mu. Ia yang hitam, seorang budak milik salah satu penguasa Quraysi. Apalah artinya seorang budak, Allah? Namun rupanya keadilan-Mu sungguh nyata. Engkau tak pernah memberikan cobaan melebihi batas kemampuan hamba-Nya. Ia sungguh mulia dengan semua pengorbanannya demi agama ini. Agama yang kini menjadi peganganku. Allah, muliakanlah ia di sisi-Mu. Allah, ketika Engkau mengambil kekasih kami-kekasih-Mu juga. Hati ummat mana yang tak merasa kehilangan? Jika mereka sempat ikut berju...

Pro dan Kontra Penutupan Lokalisasi Dolly

Tentu kabar penutupan lokalisasi Dolly sudah menyebar bak jamur di musim hujan. Banyak yang mengkritik, menghina dan melakukan perlawanan dengan keputusan yang diambil oleh walikota Surabaya , Ibu Tri Risma Harini. Alasannya pun beragam, mulai dari sumber nafkah, bersenang-senang, karena tak ada keterampilan yang dimiliki oleh para PSK, sehingga hanya itu lah yang bisa mereka lakukan demi menutupi kebutuhan keluarga. Tak dapat dipungkiri, keberadaan lokalisasi Dolly yang ada di Surabaya ini memang sangat membantu perekonomian rakyat. Bukan hanya PSK yang mendapat peruntungan di tempat ini, para pedagang di sekitar daerah lokalisasi pun mendapat imbalan yang tak sedikit. Bukan hanya itu, statusnya sebagai lokalisasi terbesar di Asia , berita penutupan  itu pun cukup mendapat perhatian khusus dari wartawan Luar Negeri. Selain mereka yang menolak, ada juga kelompok organisasi yang mendukung penuh kebijakan baru untuk menutup tempat itu. Alasannya juga masuk akal dan menakjub...

Jodoh Dari Ayah

“Ratri,kamu harus segera menikah.  Ayah takut kamu nggak bisa mendapat jodoh. Apa harus Ayah carikan untukmu, Nak?” suara parau Ayah mengiringi penutup Al Fatihahku. “iya Yah, bukan Ratri nggak pingin nikah, tapi kan Ayah tahu sendiri semua laki – laki yang melamar Ratri tidak sesuai yang Ratri minta. Syaratnya nggak neko – neko kok Yah” aku mencoba membujuk Ayah “iya, Ayah juga nggak maksa nduk. Nikah itu kan ibadah jadi tidak ada paksaan dalam beribadah”  Ayah memang selalu pengertian. Meskipun dalam kondisi apapun. Aku tahu ada nada kecewa dalam kalimat penutup beliau tadi, tapi apa yang harus aku katakan? Aku tak mau menyakiti perasaannya. Keinginan menimang cucu pun bukan lagi hal baru bagi keluargaku. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin supaya aku lekas mendapatkan jodoh. Memang ajang pencarian jodoh itu sedikit membuahkan hasil. Beberapa anak kenalan Ayah datang mencoba meminangku. Tapi tak satupun dari mereka yang sesuai kriteria. Allah, harus sampai kapan...

Karirku,,

Aku menikah 20 tahun yang lalu. Kalau di Tanya ingin menjadi wanita karir atau IRT, tentu tak ada pilihan lain sebagai Ibu Rumah Tangga. Keluargaku semua petani, dan mau tak mau aku harus mengikuti jejak mareka. Sejak kecil Bapak selalu membawaku mencari rumput untuk ternak - ternak kami. Tak tanggung – tanggung kegiatan itu kami lakoni sampai menyebrang desa tetangga. Aku anak sulung dari 5 bersaudara dan sejak kecil Bapak selalu menuntutku untuk bisa bertanggung jawab terhadap adik – adikku.  Bapak terkenal keras orangnya. Apapun yang dikatakan beliau, kami harus menurut. Lagi pula kata Ibu semua demi kebaikan kami. Zaman dulu belum semakmur sekarang. Listrik belum masuk Desa. Belum ada pompa air sehingga kalau kami hendak masak air, kami harus berjalan jauh membawa gentong sebagai penampungan. Itu sebabnya kenapa Bapak bersikap keras kepada kami semua. Biar kami jadi orang yang kuat, tidak lembek. Bapak juga tipe orang yang suka bekerja keras dan ulet. Selalu saja ada yang ...

Ketika Cinta Memanggil 2

Engkau lah sang Maha Pemberi Cinta dan sebaik-baik cinta adalah cinta yang Engkau berikan Gemericik air wudlu di pagi buta mengingatkanku akan ke Esaan Nya Dinginnya malam jadi saksi diri ingin menyembah mensucikan hati Diri terasa asing Jauh sudah tenggelam meninggalkan Mu dan diri sudah kaya tumpukan dosa Kini aku ingin kembali Rabbi Hamba menghadap ingin bertaubat dari dosa dan maksiat Juga daripada bisikan syaitan yang sesat yang hanya mengajak pada kesenangan sesaat Diri tersungkur menghadapMu segenggam cinta telah ku dapat dari sujudku

Catatan Hati Seorang Istri

Kesan pertama saya sebelum membaca buku bunda Asma Nadia yang berjudul “Catatan Hati Seorang Istri” kurang menarik. Pasalnya, saya mengira kalau di dalamnya hanyalah berisi wejangan-wejangan yang sudah sangat sering di sampaikan oleh para orang tua. Saya hanya meminjam buku dari tetangga kontrakan. Pada waktu itu saya main ke rumahnya dan melihat banyak sekali buku-buku disana. Dari kecil saya memang suka membaca, makanya pas saya melihat ada banyak buku saya antusias untuk meminjam. Karena feeling saya yang mengatakan kurang menarik itulah membuat saya kurang bersemangat membacanya. Namun, setelah sampai pada kisah-kisahnya, saya begitu hanyut dalam tulisan bunda Asma. Kalimatnya begitu menyentuh dan saya gagal membendung air mata ini. Kebanyakan yang di tulis adalah benar adanya. Tentang kisah-kisah rumah tangga saat ini. Subhanallah, saya menemukan hal berbeda ketika membaca satu demi satu kisah yang di tulis saya jadi ingin terus mengulang dan mengulang. Saya ikut merasaka...

KETIKA CINTA MEMANGGIL

Kumandang azan mengalun merdu, jauh terdengar dari bilik bambu Jangan malas,, jangan tidur lagi sayang segera bangkit menghadap Tuhan Rabbi Kucari Engkau dalam sujud panjangku Daku ingin mengais belas kasih Mu CahyaMu jua ingin kudapat agar terang jalan menghadap sang Penerima taubat Airmata tak tertahan lagi, Bilamana hamba teringat semua dosa – dosa ini Rabbi,,, Beribu kali ku panggil nama Mu Berharap Engkau sedikit melirik kepadaku Supaya mampir cahaya rindu Mu Ingin kudekap erat setiap waktu yang selalu menebasku Ingin ku tahan laju angin biar ia tak sampai menganggu kemesraan do’a panjangku Biar biar lah denting jam berhenti sesaat Sampai tiba hajat itu kan ku dapat Ya Rasul kekasih Allah Sholawat dan salam ku panjatkan untuk Mu Izinkan aku yang hina ini merindukanmu Bersama dalam syurga Nya yang indah Aamiin

Cahaya untuk Rinai

Mentari merangkak perlahan meninggalkan peraduannya. Kaki langit mulai terlihat terang kekuningan. Rinai , bocah delapan tahun yang periang  biasanya senang menyaksikan mentari terbit, bahkan kini tidak di tempat favoritenya. Ia mencoba menyisir dinding – dinding rumahnya demi mendapatkan kehangatan dari bintang raksasa itu. Sang Ibu yang melihat hal ini tergopoh – gopoh menghampiri anak semata wayangnya itu. “Rinai mau melihat bintang yang besar Bu,” katanya. “Ya sudah, Ibu antar ke teras ya,” “Tidak usah Bu, biar Rinai belajar sendiri ya, kan siapa tahu suatu saat nanti mata Rinai sembuh.”               Sebenarnya Bu Rodiyah tak tega melihat anak kesayangannya harus menghadapi kenyataan hidup seperti ini. Rinai, permata hati satu – satunya, sejak kecil ia belum tahu apa itu siang, malam, kancil dan buaya, juga bintang. Tapi Rinai terus melukis itu semua meski dalam bayangan remang – remangnya.       ...