Aku menikah 20 tahun yang lalu. Kalau di
Tanya ingin menjadi wanita karir atau IRT, tentu tak ada pilihan lain sebagai
Ibu Rumah Tangga. Keluargaku semua petani, dan mau tak mau aku harus mengikuti
jejak mareka. Sejak kecil Bapak selalu membawaku mencari rumput untuk ternak -
ternak kami. Tak tanggung – tanggung kegiatan itu kami lakoni sampai menyebrang
desa tetangga. Aku anak sulung dari 5 bersaudara dan sejak kecil Bapak selalu
menuntutku untuk bisa bertanggung jawab terhadap adik – adikku.
Bapak terkenal
keras orangnya. Apapun yang dikatakan beliau, kami harus menurut. Lagi pula
kata Ibu semua demi kebaikan kami. Zaman dulu belum semakmur sekarang. Listrik
belum masuk Desa. Belum ada pompa air sehingga kalau kami hendak masak air,
kami harus berjalan jauh membawa gentong sebagai penampungan. Itu sebabnya
kenapa Bapak bersikap keras kepada kami semua. Biar kami jadi orang yang kuat,
tidak lembek. Bapak juga tipe orang yang suka bekerja keras dan ulet. Selalu
saja ada yang terlihat kurang walaupun semua telah di kerjakan. Hal itu
berlangsung terus saja sampai beliau tidak menyadari bahwa tubuhnya telah
ringkih di makan usia.
Aku, yang sedari kecil bersama Bapak
tentu mewarisi beberapa sifat beliau. Aku menjadi petani tulen, membantu suami
mengurus kebun mungil kami. Panen padi yang hanya satu kali dalam setahun
membuat persediaan beras kami hanya cukup untuk makan sampai musim panen
berikutnya. Cukup tak cukup. Bila musim kemarau tiba kami menanam palawija.
Kami saling bahu membahu menanami pekarangan dan sawah. Tak lain agar anak kami
bias melanjutkan sekolahnya.
Lelah, itu sudah pasti kami rasakan.
Tetapi suami selalu menghibur di saat aku mulai mengeluh.
“sini bapak pijitin biar Ibu tidak cape lagi ” katanya. Aku tersipu malu melihat tingkah suamiku. Ahh, Ya
Allah terimakasih Engkau berikan suami yang begitu perhatian kepadaku.
Anak – anak kami tak biarkan berdiam diri. Kami
ajarkan kepada mereka untuk berlatih kerja keras. Sebisa mungkin kami
mengajarkan kepada mereka bahwa hidup tak selalu berjalan mulus. Roda kehidupan
pasti berputar dan ada saatnya kita berada di bawah.
“nak, tak
selamanya yang kita inginkan itu bias di dapat. Kamu harus tahu hokum kehidupan
ini. Makan kalau tidak masak tak mungkin beras akan berubah menjadi nasi.
Begitupun hidup. Kamu harus memperjuangkan hidupmu nak, rukun sama adikmu ya,
karena nanti hanya dia saudara yang kamu punya. Tempat bertukar fikiran”
Berkumpul dengan keluarga adalah hal yang
membahagiakan. Sebisa mungkin aku membuat suamiku bahagia. Dan juga anak – anak
supaya mereka bisa merasa nyaman di dekat kami.
Kondisi keuangan yang terkadang sulit membuat kami
kadang merasa sedih dan saat seperti itu ingin sekali rasanya pergi merantau
saja supaya kami dapat tambahan biaya hidup sehari – hari.
Aku ingat betul ketika anak perempuanku
yang masih duduk di kelas 4SD meminta di belikan kamus bahas Inggris. Kondisi
waktu itu kami tidak mempunyai uang sama sekali. Mungkin karena bapaknya sudah
berkali – kali menjanjikan kamus itu, anakku ngotot minta di belikan hari itu
juga. Posisi aku dan suamiku sehabis pulang dari sawah. Tubuhpun masih penat
semua.
Tak pernah ku lihat suamiku semarah hari itu. Si
Sulung di tendang di ludahi dan serangkaian hal yang membuatku tak tega terus
membiarkannya. Aku memeluk si Sulung erat. Rabbi,, di satu sisi aku juga marah
dengan anakku yang tak mengerti keadaan orangtuanya. Tapi di satu sisi aku amat
kasihan kepada mereka karena kami tak bias memberikan yang terbaik.
“orangtua
macam mana aku ini ya Allah? Hanya membeli kamus anakku saja aku tak bisa. Aku
tak bisa menyenangkannya. Beri kami rizki ya Rabb agar anakku bisa sekolah
dengan nilai yang memuaskan. Jadikan mereka anak yang soleh shalihah ya Allah.”
“Nak, Ibu sama Bapak sedang tidak punya uang untuk
membeli kamus. Nanti kalau uangnya sudah ada pasti kami beliin ya. Bapakmu kan baru pulang dari
sawah, pasti beliau cape. Ning harus mengerti orangtua ya. Kasihan bapak sama
Ibu.”
Ningsih masih saja menangis dalam
pelukanku. Hatinya pasti sedih di perlakukan seperti tadi oleh bapaknya. Tapi
aku yakin lambat laun dia pasti mengerti keadaan kami.
Aku tak tertarik menjadi wanita karir, karena petani
itulah karirku. Biarlah kami makan dengan garam asal dapat berkumpul dan
mengurus keluarga tetaplah menjadi suatu kebahagiaan bagiku.
Komentar