Langsung ke konten utama

Seperti Yang Kau Minta

Aku, Ray. Gadis berumur 17tahun yang akan menorehkan tinta di barisan kertas ini. Senja menguning, memudarkan cahaya terang kejinggaan. Mentari sore itu menyuguhkan keajaiban. Untukku, dan Andra. Sudah 30 menit yang lalu kami bersisian memunggungi cahaya menyilaukan itu. Kami larut dalam pikiran masing-masing. Rasanya, hamparan air laut yang kini kekuningan tertempa sinar matahari pantas untuk menumpahkan gelisah yang menelisik kalbu.

Aku mendengar desahan keras nafasnya. Beberapa saat kemudian ia masih melakukan hal yang sama. Menarik nafas panjang sekali, baru beberapa detik kemudian menghempaskannya lagi. Seperti sedang menuang beberapa hal yang membuatnya gelisah.

“Kamu kenapa? Ada masalah?” tanyaku membuka pembicaraan.
“Tidak ada, Ray.” Ia menjawab pendek seperti biasanya.
“Kamu dari dulu selalu begitu. Apa alasanmu sehingga kau selalu menutup-nutupi masalah?” Aku tiba-tiba merasa sepi di tengah hamparan airlaut yang kerlap-kerlip tertimpa cahaya senja.
“Apa aku pantas buatmu Ray?” 
“Kenapa bertanya seperti itu?” 
“Tidak apa, Ray. Aku hanya ingin tahu saja.”
“Menurutmu, apakah betina merpati akan meninggalkan pejantannya ketika si lelaki itu pincang karena terjatuh?”
Andra berfikir sembari melayangkan padangan ke beberapa ekor ikan laut yang asyik berenang di depan kami.
“Mungkin saja, Ray. ketika si betina telah menemukan titik jenuhnya.” Ia tersenyum misterius.
****
Teruntuk, Ray. 
Ray, aku tahu kamu tak pernah tertarik denganku. Ah, apalah diri ini yang setiap malam mengandai-andai kamu datang menjemput hatiku, Ray. Aku selalu ingin menjadi bintang-bintang yang menakjuban di langit sana, berbincang dan bercanda dengan rembulan yang malu-malu.
Ray, apa kamu tahu tentang perasaanku? Rasa yang menggebu merasuki setiap ruang rinduku. Dan setiap detak jam di langit-langit kamar seolah selalu menyampaikan salam darimu.
Ray, aku mengagumimu. Entah berarti apa kekaguman itu bagi dirimu. Mungkin aku hanyalah pungguk yang merindukan rembulan, Ray. Maafkan aku karena telah lancang mencintai dan menghadirkan dirimu dalam setiap imajinasiku. Maafkan aku.
Salam, 
“A”
‘A’? Siapa dia? Apa mungkin Andra yang menulis surat itu untukku? Tapi…

**** 
“Ndra,” laki-laki berkacamata di depanku menoleh, “kamu yang menaruh surat ini di laci?” aku memberikan secarik kertas berwarna biru muda itu padanya.
Andra diam. Sibuk dengan pikirannya yang entah ke mana.
“Kok melamun sih?” 
“Kamu senang mendapat surat ini, Ray?” kalimat itu meluncur begitu saja.
“Tentu saja,” aku tersenyum, berharap bahwa Andra lah yang ingin memberikan kejutan untukku.  
“Bukan, Ray! bukan aku yang menulis ini.”

Binar di mataku redup. Ketika hendak membuang surat tanpa inisial yang jelas itu, Andra memegang lenganku.

“Jika nanti kamu menemukan seseorang yang bisa membuatmu bahagia, tak mengapa kamu meninggalkanku, Ray.” 
“Maksudmu?”
“Aku tak mau mengikatmu dengan sesuatu yang tak pasti. Bukankah hakikat cinta adalah saling bahagia? Ketika seseorang mampu mengukir tawa di bibir mungilmu, itu pun kebahagiaanku, Ray.
Cinta terlalu misterius untuk di terjemahkan. Jangan sekali-kali berjanji atas nama cinta. Jangan pernah. Kau tentu tahu kisah Borno dengan Mei, bukan? Seperti itulah seharusnya sebuah cinta.”

Aku terdiam, tak tahu dengan apa yang sedang ia bicarakan.

“Malam minggu kita jalan yuk,” sebuah pesan masuk ke hanphoneku.
                                                                    **** 
Rio, lelaki berdarah Kalimantan-Jawa itu beberapa hari ini mengusik pikiranku. Dia baik, menarik, dan cerdas. Hal yang aku suka dari salah satu kepribadian cowok. Ia juga lembut.

Kata-kata Andra beberapa waktu lalu berebut tempat di otakku, menyisakan sebuah dilema dalam hati.
Aku dan Rio semakin dekat. Hal itu bukan lagi rahasia, bahkan Andra pun tahu berita kedekatan kami. Suatu ketika ia memergoki aku dan Rio sedang menikmati senja di bukit belakang rumah.
“Aku ke sini, cuma mau pamitan sekalian mastiin kalau Ray baik-baik aja.” Ia terdiam sejenak, “aku pergi ya,” kata Andra.
“Ri, aku titip Ray. Buat dia tersenyum ya. Jaga dia baik-baik.” 

Andra memang mau meninggalkanku. Seminggu yang lalu pengumuman penerimaan Mahasiswa di Jakarta keluar. Dan besok pagi ia harus segera meluncur.
Lain dari Andra yang beruntung bisa masuk ke bangku kuliah, aku dan Rio memilih untuk bekerja.

“Ray, jaga dirimu, dan hatimu. Kalau kamu sudah mempunyai tambatan hati yang baru, kasih tahu aku, ya.” 
“Kenapa kamu berkata seperti itu?” tanyaku tak mengerti.
“Seringkali sebuah jarak bukan hanya memisahkan raga kita, Ray. Ia bisa saja memisahkan hati kita juga. Aku katakan ini karena aku takut kamu tersiksa dengan hubungan jarak jauh ini. Kan aku pernah bilang, kalau aku nggak mau membuat Ray merasa terkekang oleh cinta.”
Tangannya gesit menarik hidungku yang tenggelam.
“Ih, apaan sih.” Aku pura-pura manyun hanya agar dia menghiburku.
                                                                    **** 
Sebulan, dua bulan, tiga bulan, dan seterusnya aku masih menjalani hubungan jarak jauh dengan Andra. Ada yang berubah dari dia. Ia semakin jarang menghubungiku. Aku maklum, mungkin dia di sibukkan dengan aktivitas kemahasiswaannya di kampus. Seringkali pesanku tak terbalas. Entah ke nomor hanponenya ataupun ke facebooknya.

Iseng, aku membuka wallnya. Surprise! Sebuah foto membujukku untuk cemburu.
Apa dia sudah mempunyai kekasih baru? Sungguh kejam jika ia melakukan itu. Aku, bahkan kini masih melajang. Belum lagi terfikir olehku untuk mencari pendamping baru, karena bagiku hanya dia tempatku mencari kenyamanan.

Rio, lelaki yang pernah diberi kepercayaan oleh Andra untuk menjagaku melaksanakan tugas dengan baik, sangat baik malah. Kepadanya aku menumpahkan semua rindu, kecewa, dan airmataku. Suatu ketika ia mengajakku berlibur ke sebuah Pantai di kota kami. Aku lupa namanya.

Dulu, aku dan Andra juga sering ke Pantai terdekat sepulang sekolah hingga senja menjemput cakrawala. 
Kami mengayun-ayunkan kaki pada sebagian air laut yang dingin. Menatap indahnya sunset yang tenggelam dalam lautan. Kaki langit bertabur cahaya. Paduan warna jingga kekuningan membias di permukaan laut membuatnya semakin luarbiasa. Kami terus menikmati sunset di pantai, tanpa sepatah kata pun. Jika keindahan itu telah tenggelam, ia langsung mengajakku pulang, masih tanpa kata-kata.

Dan kini, untuk pertama kalinya aku menikmati sunset si tepi langit, tanpa Andra. Ajakan Rio ini pun bukan tanpa alasan. Ia tahu, aku tertarik menatap langit yang warna-warni.
“Bagiku langit itu ajaib, Ri.” Itu yang aku katakan waktu itu.
“Tentu saja. Ia menyimpan sejuta misteri masa depan semua orang Ray,”
“Menurutmu, apakah Andra tetap menjaga kesetiaannya kepadaku?”
“Aku tak tahu, Ray. Bisa ya, bisa juga tidak.”
“Kok gitu?” aku tak puas dengan jawabannya.
“Sebab laki-laki itu lebih sulit menjaga kesetiaannya, Ray.”
                                                                    **** 
“Ngelamun aja,” Rio membuyarkan kenangan yang baru saja melintas di pikiranku.
“Aku keinget Andra, Ri. Apa dia juga mengingatku seperti aku mengingatnya?”
“Tanyakan pada langit, Ray. Sebab ia yang mempunyai jawabannya.” 
“Kamu benar Ri. Seharusnya aku menanyakannya pada langit.” Aku membuang nafas. “Bagimana jika jawabannya ia telah memiliki pasangan?”
“Katakan selamat padanya dan bilang, ‘aku akan bahagia tanpamu’.”
“Apa aku sanggup?”
“Kamu harus sanggup Ray.”
Ia memaksaku untuk sanggup mengatakan itu? Wow. Jika itu terjadi, maka akulah orang pertama yang akan terkejut dengan keberanian itu.

Untunglah Pantai ini tak begitu ramai. Aku memang bukan tipikal orang yang menyukai keramaian. Lagi-lagi harus ku akui bahwa Rio memahamiku dengan sempurna. Perfect.

Tak jauh dari tempat kami mengayunkan kaki, ada juga beberapa pasangan yang menghabiskan senja akhir pekan di sini. Aku melihat salah seorang dari mereka mirip degan Andra. Hey, Andra? Aku semakin memperhatikan pasangan itu. Mereka saling tertawa, mesra sekali. Tanpa sengaja kami bertemu pandang dalam cahaya yang remang karena mentari memang sudah letih membakar bumi seharian ini.
Apa aku tak salah lihat? Ia masih memandangku dan sepertinya ia salah tingkah.
Entah karena terganggu atau karena apa, tiba-tiba mereka mendekatiku.
****
Malam ini, hari ke-12 dalam penanggalan hijriah. Aku masih terpaku, diam. Berharap kejadian tadi hanyalah mimpi semata. Semoga aku bermimpi, semoga. Berkali-kali kucubit lenganku, tapi tetap saja. Sakit. Hingga Rio yang menyaksikan keanehan ini terbengong-bengong.

“Kamu kenapa, Ray? Kok aneh gitu.”
“Aku-aku nggak papa kok,” mataku nanar di tengah keremangan malam ke-12 itu.
Nadaku yang bergetar tak mampu menutupi kesedihanku.
“Ya udah kalau nggak mau cerita. Aku udah baik hati nawarin lho,” katanya, “aku makan dulu ya.”
Aku hanya mengangguk, sembari terus menatap tanah yang kupijak seolah berguncang, dahsyat.
Lalu titik demi titik air berjatuhan, tak beraturan. Dan mengalir semakin deras. Aku tak menghapusnya. Sengaja membiarkan bulir-bulir itu membasahi jiwa yang selama ini kering kerontang.
                                                                    **** 
“Apa-apaan sih, Ri.” Andra mendorong Rio kasar.
“Heh, harusnya kamu tuh bersyukur. Ray selalu menjaga hatinya buat kamu. Kamu nggak pernah mikir, hah! Setiap hari dia nanyain kamu. Apa kamu masih mengingatnya seperti ia mengingatmu? Ray nangis. Hanya karena takut kehilangan kamu. Apa kamu pernah mikir! Hah! Aku aja yang selalu di deketnya, nggak pernah dapetin tempat di hatinya. Kamu yang udah dapetin dia malah ninggalin gitu aja. Kemana kamu selama ini, hah!”

“Aku lakuin ini karena aku tahu kamu suka sama Ray. Makanya aku mikir kalau dia bakal bahagia dengan kamu. Aku nggak pernah bales pesan-pesan dia itu sengaja. Karena aku nggak mau dia berharap. Aku nggak pantes lagi menempati ruang hatinya.”
“Kamu bodoh, Dra. Kamu manusia paling bodoh di dunia ini. Terus kamu pikir dengan melepas Ray buat aku, kamu pikir dia bakal dengan mudah ngelupain kamu? Salah besar Dra. Kembali sama Ray, Dra. Ku mohon. Demi kebahagiaannya.” Suara Rio melemah.
“Dia benar, Dra, temui Ray. Pasti ia kecewa sekali dengan sikapmu padanya. Minta maaflah dan kumohon, bicara yang jujur bahwa kita bukanlah kekasih. Jujurlah kalau kita hanya saudara.”
Perempuan yang sedari tadi bersama Andra turut angkat bicara.
“Tapi..”
“Kembali, Dra. Aku bisa merasakan hati wanita itu. Kumohon, jangan ulangi kebodohan yang sama yang telah di lakukan Ayahku terhadap Ibu.”
“Antar aku padanya, Ri.”
                                                                    **** 
“Aku minta maaf, Ray.”
Sebuah suara mengejutkanku dari belakang.
“Apanya yang perlu di maafkan, Dra. Bukankah kamu dulu pernah bilang, bahwa hakikat cinta adalah saling bahagia. Jika ada seseorang yang berhasil mengukir senyum di matamu, maka itupun kebahagiaanku. Begitu, bukan? Tak usahlah kamu merasa bersalah, Dra. Karena perasaan itu nggak pernah salah. Hanya kita saja yang seringkali keliru dalam menyikapinya.”
“Baiklah, Ray. Aku akan mengatakan semuanya dengan jujur kepadamu. Biar kamu yang menentukan sikap sendiri tentang perasaanku, kamu, dan Rio.”
Mengapa ada Rio? Batinku.
“Rio, dia yang menulis surat itu untukmu, Ray.” Ia berhenti sebentar. 
Bayanganku kembali mengelana dalam memori dua tahun lalu ketika menemukan secarik kertas biru muda di laci.
“Kau tahu mengapa ia memakai inisial ‘A’? karena namanya Ahmad Mario. Ia menyukaimu, Ray. Rio suka sama kamu.”
Aku mengalihkan pandangan ke Rio. Namun tatapannya jatuh ke kakinya. Menunduk.
Aku menunggu kata-kata selanjutnya dari Andra.
“Semenjak itu aku memilih untuk kuliah di Jakarta. Dan alhamdulilah lolos. Aku tinggal bersama paman dan bibi. Dan ini sepupuku, Hana.”
Perempuan yang tadi bersamanya tersenyum padaku.
“Aku sengaja nggak pernah balas pesan-pesan kamu. Karena aku nggak mau kamu berharap sama aku, Ray. Rio sudah terlalu banyak membantuku. Dan aku rasa, saatnya ia bahagia bersama orang yang di cintainya. Aku yakin kalau ia juga bisa membahagiakanmu.”

Andra terus menatapku. Dan aku membalas tatapan mereka semua dengan benci sekali.
“Kalian jahat. Semuanya tega mempermainkan perasaanku!”
Aku benci mereka. Seenaknya saja mempermainkan hatiku. Dan Rio. Kenapa aku juga nggak sadar kalau ia mencintaiku? Mengapa Andra seenak udel melepasku begitu saja. Dan Hana, ia juga ikut-ikutan membohongiku. Semuanya pembohong!

Jarum jam menunjuk angka 08.00 malam. Aku bergegas mengemasi barang. Malam ini seharusnya menginap. Tapi aku terlanjur muak dengan para pembohong seperti mereka. Aku tak mau menangis. Toh, untuk apa? Airmataku telah habis. Kering sedari tadi.
Aku tak memedulikan mereka lagi. Sekarang hanya satu yang ada di otakku. Pulang, pulang dan pulang.
Satu tas ransel sudah berada di punggungku. Lengkap. Aku harus segera mendapatkan Bis.
                                                                    ****
Beberapa minggu ini aku tak pernah bersama Rio, tak pernah lagi menikmati senja yang menguning, juga malam yang bertaburan bintang. aku benci. Kenapa langit menyembunyikan semua rahasia ini dariku? Apa salahku pada mereka? Hingga mereka begitu tega membuatku kecewa.

Lagu Puaskah mengalun dari handponeku. Rio. Untuk apa lagi dia menelefonku? Sahabat macam apa yang tega menutupi kebohongannya? Aku segera mereject tanda tak mau di ganggu.
Beberapa kali nada itu berdering lagi.
Belum puas ya menyakitiku? Aku menerima dengan emosi. “Ada apa lagi? Belum puas menutupi kebohongan lagi?” 
Rio meninggal Ray.” Suara seberang sana terisak.
Rio ninggalin kita semua. Sekarang di Rumah Sakit Harmoni.”
****
Gundukan tanah merah itu masih segar. Memang, ia baru saja di kebumikan sekitar dua jam yang lalu. semua undangan telah pergi. Hanya ada aku, dan Andra.
Rio mempuyai penyakit jantung, Ray. Beberapa hari yang lalu penyakitya kumat. Nggak ada orang di rumah. Pas aku telfon ke kantornya, katanya ia sudah di rawat. Aku ke sana.” Andra diam. “Tapi terlambat.

Dari dulu, ia selalu baik padaku. Ia membantuku membayarkan uang bulanan, buku, hingga membelikan jajan. Bagiku, ia sudah lebih dari saudara, Ray. Ia mengidap penyakit jantung sejak kecil. Makanya ketika aku tahu itu, aku berfikir untuk membuatnya bahagia. Maafkan aku yang telah mengorbankan perasaanmu.”

Mengapa kamu pergi begitu cepat, Ri?. Padahal aku belum sempat berterimakasih atas semua kebaikanmu. Kamu justru pergi disaat konflik menguji kita. Ah, bodohnya aku, Ri. Yang tak bisa merasakan cinta tulusmu. Maafkan aku. Sampai kapanpun kamu akan menjadi sahabat terbaikku. Sekarang kamu hidup di hatiku, Ri. Meski hanya di samping, di sudut kecil hati ini.


_Selesai­_

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Numpang Nama

One thing I don't like about my work culture is 'numpang nama'. This word is used for somebody whose name is in the decision letter for implementing activities, but they didn't do their job. And this is what I am experiencing now.  Terus terang aja, aku bukan tipical orang yang pinter juga, bukan juga orang yang sosialis juga. Tapi untuk pekerjaan aku prefer aku yang kerja jika emang ada namaku di sana. Kenapa sih tiap aku nanya tuh ga pernah dapat jawaban yg puas. Giliran ada masyarakat nanya2 informasi ke aku, kan aku jadi gapunya jawabannya.  Masa ada orang jauh-jauh datang ke kantor, aku cuma jawab 'Maaf pak saya gatau' kan lucu. Bayangin kalo orang itu adalah kamu atau orang terdekatmu. Kan Bangke! Herannya tiap aku bahas tentang hal ini ga ada yang kasih pendapat positif. Seakan aku tuh cuma outsider yang ga berhak apa2.  Kalo tau kaya gini aku gausah ada namaku di sana. Dapat ilmu dan pengalamannya minim tapi giliran ada apa-apa pasti keseret namanya.  Go...

Galau 2025

 Dear Aku,  udah lama nih aku ga curhat di sini. Entahlah. Makin ke sini makin jarang banget kita ngobrol ya.. padahal kalo mau, banyak banget loh yang bisa kita diskusiin, atau sekedar ngegabut ajaa..  And yes, as you know, AMU program has been finished since July last year. Even though I didn't get a good score, I tried my best. And then I took IELTS course at UI my score remain still. 5,5 for general.  This is our first time in 2025, yeah. It's been a while. I can tell I changed a lot. I'm not a person who loves read a book, I'm not a person who likes writing a diary as well as story as I used to be. Here I am, just an average girl with tons of laziness and excuses.  Dear Love,  I just don't understand myself anymore. I don't know how to tell you. I want to be back to myself as I was a decade ago. The day that I can write anything, even just nonsensical things, imagination, or even my odd poem. I was quite ambitious back then. I had a big dream. I u...

How is class in EF

 It's been a week i took an english class in EF.  It so funny that study english with native teacher and friends all around the world. Each class consist of maximal 9 student. Because we all in the same grade (intermediate) and mostly we have not fluent speak in english, so that sometimes we need take times to thinking what is that word in english.  In the class, teacher will ask us to speak and talking with other student for some issue, and then she will correct it. It is often happen, when i talk and suddenly got stuck because i don't know how to say in eglish, and i took time for searching on google translate.  We demanded to speak constantly, so that many of us still used 'a..a..aa' and so. In the end we laugh each other. Not underestimate..   Thankfully the teacher and all of student is understand that is an issue for us. And teacher giving support and cheer we up! That is going to be really funny moment. We had a flexible class along day. Each session...