Aku, Ray. Gadis berumur
17tahun yang akan menorehkan tinta di barisan kertas ini. Senja menguning,
memudarkan cahaya terang kejinggaan. Mentari sore itu menyuguhkan keajaiban. Untukku,
dan Andra. Sudah 30 menit yang lalu kami bersisian memunggungi cahaya
menyilaukan itu. Kami larut dalam pikiran masing-masing. Rasanya, hamparan air laut
yang kini kekuningan tertempa sinar matahari pantas untuk menumpahkan gelisah
yang menelisik kalbu.
Aku mendengar desahan keras
nafasnya. Beberapa saat kemudian ia masih melakukan hal yang sama. Menarik
nafas panjang sekali, baru beberapa detik kemudian menghempaskannya lagi.
Seperti sedang menuang beberapa hal yang membuatnya gelisah.
“Kamu kenapa? Ada masalah?” tanyaku
membuka pembicaraan.
“Tidak ada, Ray.” Ia menjawab pendek seperti biasanya.
“Kamu dari dulu selalu begitu. Apa alasanmu sehingga kau selalu menutup-nutupi masalah?” Aku tiba-tiba merasa sepi di tengah hamparan airlaut yang kerlap-kerlip tertimpa cahaya senja.
“Apa aku pantas buatmu Ray?”
“Kenapa bertanya seperti itu?”
“Tidak apa, Ray. Aku hanya ingin tahu saja.”
“Menurutmu, apakah betina merpati akan meninggalkan pejantannya ketika si lelaki itu pincang karena terjatuh?”
Andra berfikir sembari melayangkan padangan ke beberapa ekor ikan laut yang asyik berenang di depan kami.
“Mungkin saja, Ray. ketika si betina telah menemukan titik jenuhnya.” Ia tersenyum misterius.
“Tidak ada, Ray.” Ia menjawab pendek seperti biasanya.
“Kamu dari dulu selalu begitu. Apa alasanmu sehingga kau selalu menutup-nutupi masalah?” Aku tiba-tiba merasa sepi di tengah hamparan airlaut yang kerlap-kerlip tertimpa cahaya senja.
“Apa aku pantas buatmu Ray?”
“Kenapa bertanya seperti itu?”
“Tidak apa, Ray. Aku hanya ingin tahu saja.”
“Menurutmu, apakah betina merpati akan meninggalkan pejantannya ketika si lelaki itu pincang karena terjatuh?”
Andra berfikir sembari melayangkan padangan ke beberapa ekor ikan laut yang asyik berenang di depan kami.
“Mungkin saja, Ray. ketika si betina telah menemukan titik jenuhnya.” Ia tersenyum misterius.
****
Teruntuk, Ray.
Ray, aku tahu kamu tak pernah tertarik denganku. Ah, apalah diri ini yang setiap malam mengandai-andai kamu datang menjemput hatiku, Ray. Aku selalu ingin menjadi bintang-bintang yang menakjuban di langitsana , berbincang dan bercanda dengan rembulan
yang malu-malu.
Ray, apa kamu tahu tentang perasaanku? Rasa yang menggebu merasuki setiap ruang rinduku. Dan setiap detak jam di langit-langit kamar seolah selalu menyampaikan salam darimu.
Ray, aku mengagumimu. Entah berarti apa kekaguman itu bagi dirimu. Mungkin aku hanyalah pungguk yang merindukan rembulan, Ray. Maafkan aku karena telah lancang mencintai dan menghadirkan dirimu dalam setiap imajinasiku. Maafkan aku.
Salam,
“A”
Ray, aku tahu kamu tak pernah tertarik denganku. Ah, apalah diri ini yang setiap malam mengandai-andai kamu datang menjemput hatiku, Ray. Aku selalu ingin menjadi bintang-bintang yang menakjuban di langit
Ray, apa kamu tahu tentang perasaanku? Rasa yang menggebu merasuki setiap ruang rinduku. Dan setiap detak jam di langit-langit kamar seolah selalu menyampaikan salam darimu.
Ray, aku mengagumimu. Entah berarti apa kekaguman itu bagi dirimu. Mungkin aku hanyalah pungguk yang merindukan rembulan, Ray. Maafkan aku karena telah lancang mencintai dan menghadirkan dirimu dalam setiap imajinasiku. Maafkan aku.
Salam,
“A”
‘A’? Siapa dia? Apa mungkin
Andra yang menulis surat
itu untukku? Tapi…
****
“Ndra,” laki-laki berkacamata di depanku menoleh, “kamu yang menaruhsurat ini di laci?” aku
memberikan secarik kertas berwarna biru muda itu padanya.
Andra diam. Sibuk dengan pikirannya yang entah ke mana.
“Kok melamun sih?”
“Kamu senang mendapatsurat
ini, Ray?” kalimat itu meluncur begitu saja.
“Tentu saja,” aku tersenyum, berharap bahwa Andra lah yang ingin memberikan kejutan untukku.
“Bukan, Ray! bukan aku yang menulis ini.”
“Ndra,” laki-laki berkacamata di depanku menoleh, “kamu yang menaruh
Andra diam. Sibuk dengan pikirannya yang entah ke mana.
“Kok melamun sih?”
“Kamu senang mendapat
“Tentu saja,” aku tersenyum, berharap bahwa Andra lah yang ingin memberikan kejutan untukku.
“Bukan, Ray! bukan aku yang menulis ini.”
Binar di mataku redup. Ketika
hendak membuang surat
tanpa inisial yang jelas itu, Andra memegang lenganku.
“Jika nanti kamu menemukan
seseorang yang bisa membuatmu bahagia, tak mengapa kamu meninggalkanku, Ray.”
“Maksudmu?”
“Aku tak mau mengikatmu dengan sesuatu yang tak pasti. Bukankah hakikat cinta adalah saling bahagia? Ketika seseorang mampu mengukir tawa di bibir mungilmu, itu pun kebahagiaanku, Ray.
Cinta terlalu misterius untuk di terjemahkan. Jangan sekali-kali berjanji atas nama cinta. Jangan pernah. Kau tentu tahu kisah Borno dengan Mei, bukan? Seperti itulah seharusnya sebuah cinta.”
“Maksudmu?”
“Aku tak mau mengikatmu dengan sesuatu yang tak pasti. Bukankah hakikat cinta adalah saling bahagia? Ketika seseorang mampu mengukir tawa di bibir mungilmu, itu pun kebahagiaanku, Ray.
Cinta terlalu misterius untuk di terjemahkan. Jangan sekali-kali berjanji atas nama cinta. Jangan pernah. Kau tentu tahu kisah Borno dengan Mei, bukan? Seperti itulah seharusnya sebuah cinta.”
Aku terdiam, tak tahu dengan
apa yang sedang ia bicarakan.
“Malam minggu kita jalan
yuk,” sebuah pesan masuk ke hanphoneku.
****
Rio , lelaki berdarah Kalimantan-Jawa itu beberapa
hari ini mengusik pikiranku. Dia baik, menarik, dan cerdas. Hal yang aku suka
dari salah satu kepribadian cowok. Ia juga lembut.
Kata-kata Andra beberapa
waktu lalu berebut tempat di otakku, menyisakan sebuah dilema dalam hati.
Aku dan Rio
semakin dekat. Hal itu bukan lagi rahasia, bahkan Andra pun tahu berita
kedekatan kami. Suatu ketika ia memergoki aku dan Rio
sedang menikmati senja di bukit belakang rumah.
“Aku ke sini, cuma mau
pamitan sekalian mastiin kalau Ray baik-baik aja.” Ia terdiam sejenak, “aku
pergi ya,” kata Andra.
“Ri, aku titip Ray. Buat dia
tersenyum ya. Jaga dia baik-baik.”
Andra memang mau meninggalkanku.
Seminggu yang lalu pengumuman penerimaan Mahasiswa di Jakarta keluar. Dan besok
pagi ia harus segera meluncur.
Lain dari Andra yang
beruntung bisa masuk ke bangku kuliah, aku dan Rio
memilih untuk bekerja.
“Ray, jaga dirimu, dan
hatimu. Kalau kamu sudah mempunyai tambatan hati yang baru, kasih tahu aku,
ya.”
“Kenapa kamu berkata seperti itu?” tanyaku tak mengerti.
“Seringkali sebuah jarak bukan hanya memisahkan raga kita, Ray. Ia bisa saja memisahkan hati kita juga. Aku katakan ini karena aku takut kamu tersiksa dengan hubungan jarak jauh ini.Kan
aku pernah bilang, kalau aku nggak mau membuat Ray merasa terkekang oleh
cinta.”
Tangannya gesit menarik hidungku yang tenggelam.
“Ih, apaan sih.” Aku pura-pura manyun hanya agar dia menghiburku.
“Kenapa kamu berkata seperti itu?” tanyaku tak mengerti.
“Seringkali sebuah jarak bukan hanya memisahkan raga kita, Ray. Ia bisa saja memisahkan hati kita juga. Aku katakan ini karena aku takut kamu tersiksa dengan hubungan jarak jauh ini.
Tangannya gesit menarik hidungku yang tenggelam.
“Ih, apaan sih.” Aku pura-pura manyun hanya agar dia menghiburku.
****
Sebulan, dua bulan, tiga bulan, dan seterusnya aku masih menjalani hubungan jarak jauh dengan Andra.Ada
yang berubah dari dia. Ia semakin jarang menghubungiku. Aku maklum, mungkin dia
di sibukkan dengan aktivitas kemahasiswaannya di kampus. Seringkali pesanku tak
terbalas. Entah ke nomor hanponenya ataupun ke facebooknya.
Sebulan, dua bulan, tiga bulan, dan seterusnya aku masih menjalani hubungan jarak jauh dengan Andra.
Iseng, aku membuka wallnya.
Surprise! Sebuah foto membujukku untuk cemburu.
Apa dia sudah mempunyai
kekasih baru? Sungguh kejam jika ia melakukan itu. Aku, bahkan kini masih
melajang. Belum lagi terfikir olehku untuk mencari pendamping baru, karena
bagiku hanya dia tempatku mencari kenyamanan.
Dulu, aku dan Andra juga
sering ke Pantai terdekat sepulang sekolah hingga senja menjemput cakrawala.
Kami mengayun-ayunkan kaki pada sebagian air laut yang dingin. Menatap indahnya sunset yang tenggelam dalam lautan. Kaki langit bertabur cahaya. Paduan warna jingga kekuningan membias di permukaan laut membuatnya semakin luarbiasa. Kami terus menikmati sunset di pantai, tanpa sepatah kata pun. Jika keindahan itu telah tenggelam, ia langsung mengajakku pulang, masih tanpa kata-kata.
Kami mengayun-ayunkan kaki pada sebagian air laut yang dingin. Menatap indahnya sunset yang tenggelam dalam lautan. Kaki langit bertabur cahaya. Paduan warna jingga kekuningan membias di permukaan laut membuatnya semakin luarbiasa. Kami terus menikmati sunset di pantai, tanpa sepatah kata pun. Jika keindahan itu telah tenggelam, ia langsung mengajakku pulang, masih tanpa kata-kata.
Dan kini, untuk pertama
kalinya aku menikmati sunset si tepi langit, tanpa Andra. Ajakan Rio ini pun
bukan tanpa alasan. Ia tahu, aku tertarik menatap langit yang warna-warni.
“Bagiku langit itu ajaib,
Ri.” Itu yang aku katakan waktu itu.
“Tentu saja. Ia menyimpan sejuta misteri masa depan semua orang Ray,”
“Menurutmu, apakah Andra tetap menjaga kesetiaannya kepadaku?”
“Aku tak tahu, Ray. Bisa ya, bisa juga tidak.”
“Kok gitu?” aku tak puas dengan jawabannya.
“Sebab laki-laki itu lebih sulit menjaga kesetiaannya, Ray.”
“Tentu saja. Ia menyimpan sejuta misteri masa depan semua orang Ray,”
“Menurutmu, apakah Andra tetap menjaga kesetiaannya kepadaku?”
“Aku tak tahu, Ray. Bisa ya, bisa juga tidak.”
“Kok gitu?” aku tak puas dengan jawabannya.
“Sebab laki-laki itu lebih sulit menjaga kesetiaannya, Ray.”
****
“Ngelamun aja,”Rio membuyarkan kenangan yang
baru saja melintas di pikiranku.
“Aku keingetAndra , Ri . Apa dia juga mengingatku seperti aku
mengingatnya?”
“Tanyakan pada langit, Ray. Sebab ia yang mempunyai jawabannya.”
“Kamu benar Ri. Seharusnya aku menanyakannya pada langit.” Aku membuang nafas. “Bagimana jika jawabannya ia telah memiliki pasangan?”
“Ngelamun aja,”
“Aku keinget
“Tanyakan pada langit, Ray. Sebab ia yang mempunyai jawabannya.”
“Kamu benar Ri. Seharusnya aku menanyakannya pada langit.” Aku membuang nafas. “Bagimana jika jawabannya ia telah memiliki pasangan?”
“Katakan selamat padanya dan
bilang, ‘aku akan bahagia tanpamu’.”
“Apa aku sanggup?”
“Kamu harus sanggup Ray.”
“Apa aku sanggup?”
“Kamu harus sanggup Ray.”
Ia memaksaku untuk sanggup
mengatakan itu? Wow. Jika itu terjadi, maka akulah orang pertama yang akan
terkejut dengan keberanian itu.
Untunglah Pantai ini tak
begitu ramai. Aku memang bukan tipikal orang yang menyukai keramaian. Lagi-lagi
harus ku akui bahwa Rio memahamiku dengan
sempurna. Perfect.
Tak jauh dari tempat kami
mengayunkan kaki, ada juga beberapa pasangan yang menghabiskan senja akhir
pekan di sini. Aku melihat salah seorang dari mereka mirip degan Andra. Hey,
Andra? Aku semakin memperhatikan pasangan itu. Mereka saling tertawa, mesra
sekali. Tanpa sengaja kami bertemu pandang dalam cahaya yang remang karena
mentari memang sudah letih membakar bumi seharian ini.
Apa aku tak salah lihat? Ia
masih memandangku dan sepertinya ia salah tingkah.
Entah karena terganggu atau karena apa, tiba-tiba mereka mendekatiku.
Entah karena terganggu atau karena apa, tiba-tiba mereka mendekatiku.
****
Malam ini, hari ke-12 dalam
penanggalan hijriah. Aku masih terpaku, diam. Berharap kejadian tadi hanyalah
mimpi semata. Semoga aku bermimpi, semoga. Berkali-kali kucubit lenganku, tapi
tetap saja. Sakit. Hingga Rio yang menyaksikan keanehan ini terbengong-bengong.
“Kamu kenapa, Ray? Kok aneh
gitu.”
“Aku-aku nggak papa kok,” mataku nanar di tengah keremangan malam ke-12 itu.
Nadaku yang bergetar tak mampu menutupi kesedihanku.
“Ya udah kalau nggak mau cerita. Aku udah baik hati nawarin lho,” katanya, “aku makan dulu ya.”
Aku hanya mengangguk, sembari terus menatap tanah yang kupijak seolah berguncang, dahsyat.
Lalu titik demi titik air berjatuhan, tak beraturan. Dan mengalir semakin deras. Aku tak menghapusnya. Sengaja membiarkan bulir-bulir itu membasahi jiwa yang selama ini kering kerontang.
“Aku-aku nggak papa kok,” mataku nanar di tengah keremangan malam ke-12 itu.
Nadaku yang bergetar tak mampu menutupi kesedihanku.
“Ya udah kalau nggak mau cerita. Aku udah baik hati nawarin lho,” katanya, “aku makan dulu ya.”
Aku hanya mengangguk, sembari terus menatap tanah yang kupijak seolah berguncang, dahsyat.
Lalu titik demi titik air berjatuhan, tak beraturan. Dan mengalir semakin deras. Aku tak menghapusnya. Sengaja membiarkan bulir-bulir itu membasahi jiwa yang selama ini kering kerontang.
****
“Apa-apaan sih, Ri.” Andra mendorongRio
kasar.
“Heh, harusnya kamu tuh bersyukur. Ray selalu menjaga hatinya buat kamu. Kamu nggak pernah mikir, hah! Setiap hari dia nanyain kamu. Apa kamu masih mengingatnya seperti ia mengingatmu? Ray nangis. Hanya karena takut kehilangan kamu. Apa kamu pernah mikir! Hah! Aku aja yang selalu di deketnya, nggak pernah dapetin tempat di hatinya. Kamu yang udah dapetin dia malah ninggalin gitu aja. Kemana kamu selama ini, hah!”
“Apa-apaan sih, Ri.” Andra mendorong
“Heh, harusnya kamu tuh bersyukur. Ray selalu menjaga hatinya buat kamu. Kamu nggak pernah mikir, hah! Setiap hari dia nanyain kamu. Apa kamu masih mengingatnya seperti ia mengingatmu? Ray nangis. Hanya karena takut kehilangan kamu. Apa kamu pernah mikir! Hah! Aku aja yang selalu di deketnya, nggak pernah dapetin tempat di hatinya. Kamu yang udah dapetin dia malah ninggalin gitu aja. Kemana kamu selama ini, hah!”
“Aku lakuin ini karena aku
tahu kamu suka sama Ray. Makanya aku mikir kalau dia bakal bahagia dengan kamu.
Aku nggak pernah bales pesan-pesan dia itu sengaja. Karena aku nggak mau dia
berharap. Aku nggak pantes lagi menempati ruang hatinya.”
“Kamu bodoh, Dra. Kamu
manusia paling bodoh di dunia ini. Terus kamu pikir dengan melepas Ray buat
aku, kamu pikir dia bakal dengan mudah ngelupain kamu? Salah besar Dra. Kembali
sama Ray, Dra. Ku mohon. Demi kebahagiaannya.” Suara Rio melemah.
“Dia benar, Dra, temui Ray.
Pasti ia kecewa sekali dengan sikapmu padanya. Minta maaflah dan kumohon,
bicara yang jujur bahwa kita bukanlah kekasih. Jujurlah kalau kita hanya
saudara.”
Perempuan yang sedari tadi bersama Andra turut angkat bicara.
“Tapi..”
“Kembali, Dra. Aku bisa merasakan hati wanita itu. Kumohon, jangan ulangi kebodohan yang sama yang telah di lakukan Ayahku terhadap Ibu.”
Perempuan yang sedari tadi bersama Andra turut angkat bicara.
“Tapi..”
“Kembali, Dra. Aku bisa merasakan hati wanita itu. Kumohon, jangan ulangi kebodohan yang sama yang telah di lakukan Ayahku terhadap Ibu.”
“Antar aku padanya, Ri.”
****
“Aku minta maaf, Ray.”
Sebuah suara mengejutkanku dari belakang.
“Apanya yang perlu di maafkan, Dra. Bukankah kamu dulu pernah bilang, bahwa hakikat cinta adalah saling bahagia. Jika ada seseorang yang berhasil mengukir senyum di matamu, maka itupun kebahagiaanku. Begitu, bukan? Tak usahlah kamu merasa bersalah, Dra. Karena perasaan itu nggak pernah salah. Hanya kita saja yang seringkali keliru dalam menyikapinya.”
“Aku minta maaf, Ray.”
Sebuah suara mengejutkanku dari belakang.
“Apanya yang perlu di maafkan, Dra. Bukankah kamu dulu pernah bilang, bahwa hakikat cinta adalah saling bahagia. Jika ada seseorang yang berhasil mengukir senyum di matamu, maka itupun kebahagiaanku. Begitu, bukan? Tak usahlah kamu merasa bersalah, Dra. Karena perasaan itu nggak pernah salah. Hanya kita saja yang seringkali keliru dalam menyikapinya.”
“Baiklah, Ray. Aku akan
mengatakan semuanya dengan jujur kepadamu. Biar kamu yang menentukan sikap
sendiri tentang perasaanku, kamu, dan Rio .”
Mengapa adaRio ? Batinku.
Mengapa ada
“Rio, dia yang menulis surat itu untukmu, Ray.”
Ia berhenti sebentar.
Bayanganku kembali mengelana dalam memori dua tahun lalu ketika menemukan secarik kertas biru muda di laci.
“Kau tahu mengapa ia memakai inisial ‘A’? karena namanya Ahmad Mario. Ia menyukaimu, Ray.Rio suka sama kamu.”
Aku mengalihkan pandangan keRio . Namun
tatapannya jatuh ke kakinya. Menunduk.
Aku menunggu kata-kata selanjutnya dari Andra.
“Semenjak itu aku memilih untuk kuliah diJakarta .
Dan alhamdulilah lolos. Aku tinggal bersama paman dan bibi. Dan ini sepupuku,
Hana.”
Bayanganku kembali mengelana dalam memori dua tahun lalu ketika menemukan secarik kertas biru muda di laci.
“Kau tahu mengapa ia memakai inisial ‘A’? karena namanya Ahmad Mario. Ia menyukaimu, Ray.
Aku mengalihkan pandangan ke
Aku menunggu kata-kata selanjutnya dari Andra.
“Semenjak itu aku memilih untuk kuliah di
Perempuan yang tadi
bersamanya tersenyum padaku.
“Aku sengaja nggak pernah balas pesan-pesan kamu. Karena aku nggak mau kamu berharap sama aku, Ray.Rio sudah terlalu
banyak membantuku. Dan aku rasa, saatnya ia bahagia bersama orang yang di
cintainya. Aku yakin kalau ia juga bisa membahagiakanmu.”
“Aku sengaja nggak pernah balas pesan-pesan kamu. Karena aku nggak mau kamu berharap sama aku, Ray.
Andra terus menatapku. Dan
aku membalas tatapan mereka semua dengan benci sekali.
“Kalian jahat. Semuanya tega mempermainkan perasaanku!”
“Kalian jahat. Semuanya tega mempermainkan perasaanku!”
Aku benci mereka. Seenaknya
saja mempermainkan hatiku. Dan Rio. Kenapa aku juga nggak sadar kalau ia
mencintaiku? Mengapa Andra seenak udel melepasku begitu saja. Dan Hana, ia juga
ikut-ikutan membohongiku. Semuanya pembohong!
Jarum jam menunjuk angka 08.00
malam. Aku bergegas mengemasi barang. Malam ini seharusnya menginap. Tapi aku
terlanjur muak dengan para pembohong seperti mereka. Aku tak mau menangis. Toh,
untuk apa? Airmataku telah habis. Kering sedari tadi.
Aku tak memedulikan mereka
lagi. Sekarang hanya satu yang ada di otakku. Pulang, pulang dan pulang.
Satu tas ransel sudah berada di punggungku. Lengkap. Aku harus segera mendapatkan Bis.
Satu tas ransel sudah berada di punggungku. Lengkap. Aku harus segera mendapatkan Bis.
****
Beberapa minggu ini aku tak pernah bersamaRio ,
tak pernah lagi menikmati senja yang menguning, juga malam yang bertaburan
bintang. aku benci. Kenapa langit menyembunyikan semua rahasia ini dariku? Apa
salahku pada mereka? Hingga mereka begitu tega membuatku kecewa.
Beberapa minggu ini aku tak pernah bersama
Lagu Puaskah mengalun dari
handponeku. Rio . Untuk apa lagi dia menelefonku?
Sahabat macam apa yang tega menutupi kebohongannya? Aku segera mereject tanda
tak mau di ganggu.
Beberapa kali nada itu berdering lagi.
Belum puas ya menyakitiku? Aku menerima dengan emosi. “Ada apa lagi? Belum puas menutupi kebohongan
lagi?”
“Rio meninggal Ray.” Suara seberang sana terisak.
“Rio ninggalin kita semua. Sekarang di Rumah
Sakit Harmoni.”
Beberapa kali nada itu berdering lagi.
Belum puas ya menyakitiku? Aku menerima dengan emosi. “
“
“
****
Gundukan tanah merah itu
masih segar. Memang, ia baru saja di kebumikan sekitar dua jam yang lalu. semua
undangan telah pergi. Hanya ada aku, dan Andra.
“Rio mempuyai penyakit jantung, Ray. Beberapa
hari yang lalu penyakitya kumat. Nggak ada orang di rumah. Pas aku telfon ke kantornya,
katanya ia sudah di rawat. Aku ke sana .”
Andra diam. “Tapi terlambat.
“
Dari dulu, ia selalu baik
padaku. Ia membantuku membayarkan uang bulanan, buku, hingga membelikan jajan.
Bagiku, ia sudah lebih dari saudara, Ray. Ia mengidap penyakit jantung sejak
kecil. Makanya ketika aku tahu itu, aku berfikir untuk membuatnya bahagia.
Maafkan aku yang telah mengorbankan perasaanmu.”
Mengapa kamu pergi begitu cepat, Ri?. Padahal aku belum
sempat berterimakasih atas semua kebaikanmu. Kamu justru pergi disaat konflik
menguji kita. Ah, bodohnya aku, Ri. Yang tak bisa merasakan cinta tulusmu.
Maafkan aku. Sampai kapanpun kamu akan menjadi sahabat terbaikku. Sekarang kamu
hidup di hatiku, Ri. Meski hanya di samping, di sudut kecil hati ini.
_Selesai_
Komentar