Ketika rindu pada seseorang yang telah tiada, kepada siapa
kah rindu itu kan
ku labuhkan?
Allah, Engkaulah yang Maha Mengetahui, Maha Bijaksana.
Engkaulah yang menurunkan kebenaran itu di saat manusia tengah berada dalam
kejahilan yang nyata. Karena Engkaulah Islam kini Berjaya, sehingga
dakwah-dakwah terus berkibar. Izinkan kami agar tetap bisa mengibarkan
pani-panji Islam. Untuk menegakkan kebenaran dan syari’at-Mu.
Seperti Bilal Bin Ribah, salah satu hamba-Mu, mudah-mudahan
menjadi hamba terkasih-Mu. Ia yang hitam, seorang budak milik salah satu
penguasa Quraysi. Apalah artinya seorang budak, Allah? Namun rupanya
keadilan-Mu sungguh nyata. Engkau tak pernah memberikan cobaan melebihi batas
kemampuan hamba-Nya. Ia sungguh mulia dengan semua pengorbanannya demi agama
ini. Agama yang kini menjadi peganganku. Allah, muliakanlah ia di sisi-Mu.
Allah, ketika Engkau mengambil kekasih kami-kekasih-Mu juga.
Hati ummat mana yang tak merasa kehilangan? Jika mereka sempat ikut berjuang
mendampingi Rasulullah kekasih-Mu,
melindungi dari ancaman orang-orang kafir itu, bisa merasakan sentuhan
langsung manusia terhebat sepanjang masa. Pastilah kepergiannya membuat pukulan
yang begitu mendalam.
Allah, semua perjuangan Rasulullah telah berbuah. Kami dapat
mengecap indahnya nikmat Iman dan Islam anugerah-Mu. Engkau juga tinggalkan
mu’jizat erbesar dan terhebat-Mu dari manusia terhebat. Al-Qur’an sebagai obat
penawar dan penyembuh segala peyakit. Dan ilmu-ilmu yang mudah-mudahan tidak
akan pernah ternoda oleh mereka yang ingin menghancurkan Islam.
Allah, sejarah itu tak kan mudah begitu saja berlalu. Izinkan kami
terus mengingatnya sebagai upaya untuk mencintai-Mu. Untuk merindukan-Mu.
Allah, jika aku boleh jujur, aku ingin mendengar suara azan Bilal. Bilal, budak
hitam yang kemudian Engkau bebaskan lewat perantara Abu Bakar As Sidiq,
hamba-Mu yang juga Engkau muliakan di sisi-Nya.
Aku ingin mendengar azan itu. muadzin pertama pilihan
Rasululah yang mulia. Ya Allah, mudah-mudahan upaya kami untuk mendekati-Mu
tidak sia-sia. Semoga Engkau masih sudi mendengar keluh kesh kami, Rabbi.
Allah, kembali pada kehilangan itu. sungguh kami kehilangan.
Rindu. Kami rindu sosok mereka yang kini telah tenang di sisi-Mu. Bisakah kami
mengikuti jejaknya untuk menjadi khalifah di bumi-Mu. Aku rindu ya Allah, aku
rindu. Tapi kepada siapa rindu ini kan kualamatkan?
Allah, jika seandainya Engkau mengizinkan kami untuk
mengunjungi makam Rasulullah untuk mengatakan rindu itu. seperti Bilal ketika
menangis Karen rindunya kepada kekasih Allah.
Rabbi, adakah Bilal Bin RibbahMu? Masih adakah hamba-Mu yang
sepertinya? Tolong jaga kami, ya Allah. Agar rindu ini benar untuk alamat yang
benar. Izinkan kami merindukan-Mu, kekasih-Mu, juga hamba-hamba-Mu yang Engkau
muliakan.
Allah, panggillah kami. Peluklah rindu kami. Rindu pada
manusia yang benar-benar pantas untuk di rindukan. Jangan Kau butakan rindu
ini. Kami rindu Rasulullah, seandainya waktu mengizinkan kami ingin memeluknya,
memeluk makamnya.
Y Allah aku rindu
pada kebenaran yang kini telah binasa. Rindu pada mujahid-mujahid pengibar
panji-panji Islam. Rindu sejarah itu. yang kini hampir hlang di lupakan oleh
manusia.
Berikan kekuatan pada kami untuk berjalan-walau tertatih
demi menggapai cinta-Mu. Jaga Iman kami Rabbi. Jadikan muadzin kami seperti
Bilal, meskipun sampai selamanya tak kan pernah terganti menjadi yang terbaik.
Allah, jangan Engkau lemahkan kami seiring para ulama’ yang
terlebih dulu kembali pada-Mu. Sepotong demi sepotong ilmu pun hilang terbawa
oleh kepergiannya. Allah, izinkan kami bertahan.
Izinkan kami merindukan-Mu dan kekasih-Mu Allah.
Aamiin.
Komentar