Tapi kali ini semua
kesedihan itu tak nampak lagi. Paman Rasimun, Paman Raswan, dan Paman Rajiman
saudara dari Ibu semuanya berkumpul.
Mereka pulang beserta anak-anaknya yang seringkali menjadi pertanyaan
oleh Nenek buyutku.
“Bani, sini! Jangan di situ. Nanti jatuh.” Bani, adik
sepupuku yang baru berusia 2 tahun itu masih tak mau menjauh dari tangga. Tak
sabar, aku menggendongnya, menjauhkan ia dari kemungkinan terburuk yang mungkin
menimpanya.
Tak lama setelah itu, Robi-anak dari Paman Rajiman merengek.
Badannya panas dan hanya mau di gendong oleh Mamanya. Kasihan dengan Bibi yang menggendong
sudah 2 jam-an lebih, aku berusaha membujuk Robi agar mau pindah ke punggungku.
Kami yang baru mudik bersama tentu masih merasakan lelah.
Alhasil, baru sebentar menggendong Bani, kini Robi yang ada
di gendonganku. Baru sekitar setengah jam menggendong, punggungku mulai terasa
sakit.
Dua sepupuku ini, meskipun usinya baru 2 tahun tapi badannya
begitu berat. Huf! Aku menghela nafas panjang. Sudah menjadi kewajibanku untuk
‘mengemong’ mereka. Karena akulah cucu yang paling besar di antara semua.
Menjadi anak tertua itu berat tanggung jawabnya. Ini yang
aku tak suka dari sebagian peran yang harus kuambil. Tapi tak mengapalah. Toh, tak setiap hari, kan ? ‘Mumpung’ mereka
masih di sini. Menikmati suasana Idul Fitri secara ‘utuh.’
Pernah kudengar dari Ibu-Ibu bahwa seorang anak adalah obat
yang mujarab untuk orangtuanya. Mungkin memang benar. Anak-anak adalah krunia
terindah dari Allah. Begitu Maha Pemurahnya Dia memberikan obat yang ajaib
untuk para orangtua di sela kesibukan mengejar dunia.
Allah, lebaran kali ini aku bisa merasakan menjadi orangtua.
Menghadapi tingkah Robi dan Bani membuat mataku cukup terbuka lebar untuk
melihat pengorbanan orangtuaku.
Ayah dan Ibu yang selama ini menjagaku tanpa lelah. Keringat
yang mengucur deras dari profesinya yang sebagai petani. Ah, aku tahu pekerjaan
mereka itu berat. Hasil panen yang tak seberapa ditambah dengan tuntutan
kebutuhan yang lain membuat mereka harus lebih tajam mencari tambahan
pemasukan.
“Yayu, pingin jajan,” Robi merajuk setelah tangisnya mereda.
Di daerah ‘nggunung’ di sini untuk mendapatkan sebuah warung
itu masih susah. Kalaupun ada, tempatnya agak jauh dari rumah nenek. Demi
menuruti keinginan si kecil kami segera menyusur jalan yang menurun . Bukan
hanya untuk Robi, Bani dan keponakan yang lain juga mendapat bagian.
Semua tingkah Robi dan Bani mungkin hanya sebagian kecil
kejadian yang banyak terjadi di masyarakat. Tapi bagiku setiap polahnya
berhasil mengetuk pintu-pintu yang belum sempat terjamah. Keributan kecil,
tangisan bocah, dan hal-hal kecil yang mungkin saja luput dari perhatian.
Terasa sudah perjuangan menjadi seorang Ibu. Walaupun peran
yang kugantikan belum ada setengah persennya. Dan Idul Fitri kali ini, untuk
yang pertama kalinya aku merasakan sebuah keluarga yang benar-benar utuh lagi.
Kesepian selama bertahun-tahun terbayar walau hanya sebentar saja. Ah, kasihan
nenek dan nenek buyutku. Dari kelima anaknya baru kali ini kami berkumpul.
Walaupun Hendi, anak Paman Raswan tidak ikut ke Kebumen.
Untuk Bani yang di Kalimantan, baik-baiklah di sana . Kami menunggu kalian
pulang agar bisa berkumpul lagi.
Teruntuk kampung halaman yang berselimut bukit menjulang, nantikanku kembali
hingga bisa membawa perubahan untukmu. Aku pasti akan selalu merindukan suasana
kampung halaman itu. Rindu kesahajaan dan keramahannya. Ayah, Ibu dan adik
bungsuku, kalian tetap menjadi pemilik hatiku.
Nenek buyut, ini lah persembahan dari kami, sebuah
pertanyaan yang dulu selalu menggetarkan hatiku, merombak keegoisan dan mata
hati untuk berbagi dan menyayangi selama waktu masih mengizinkan kami bersama. Inilah
kebersamaan yang Nenek rindukan. Maafkan kami yang terlalu lemah melawan waktu.
Do’a kami menyertaimu. Semoga Allah senantiasa menghadirkan kebahagiaan dan
kesehatan untukmu. Love you so much.
Komentar