Langsung ke konten utama

Jawaban Rindu Nenek Buyut

Ada yang berbeda dengan lebaran tahun lalu. Tak terlihat gurat kesedihan di wajah Nenek buyutku. Biasanya setiap lebaran beliau menanyakan cucu-cucunya yang tak bisa berkumpul  semua.
 Tapi kali ini semua kesedihan itu tak nampak lagi. Paman Rasimun, Paman Raswan, dan Paman Rajiman saudara dari Ibu semuanya berkumpul.  Mereka pulang beserta anak-anaknya yang seringkali menjadi pertanyaan oleh Nenek buyutku.

“Bani, sini! Jangan di situ. Nanti jatuh.” Bani, adik sepupuku yang baru berusia 2 tahun itu masih tak mau menjauh dari tangga. Tak sabar, aku menggendongnya, menjauhkan ia dari kemungkinan terburuk yang mungkin menimpanya.
Tak lama setelah itu, Robi-anak dari Paman Rajiman merengek. Badannya panas dan hanya mau di gendong oleh Mamanya. Kasihan dengan Bibi yang menggendong sudah 2 jam-an lebih, aku berusaha membujuk Robi agar mau pindah ke punggungku. Kami yang baru mudik bersama tentu masih merasakan lelah.
Alhasil, baru sebentar menggendong Bani, kini Robi yang ada di gendonganku. Baru sekitar setengah jam menggendong, punggungku mulai terasa sakit.
Dua sepupuku ini, meskipun usinya baru 2 tahun tapi badannya begitu berat. Huf! Aku menghela nafas panjang. Sudah menjadi kewajibanku untuk ‘mengemong’ mereka. Karena akulah cucu yang paling besar di antara semua.

Menjadi anak tertua itu berat tanggung jawabnya. Ini yang aku tak suka dari sebagian peran yang harus kuambil.  Tapi tak mengapalah. Toh, tak setiap hari, kan? ‘Mumpung’ mereka masih di sini. Menikmati suasana Idul Fitri secara ‘utuh.’

Pernah kudengar dari Ibu-Ibu bahwa seorang anak adalah obat yang mujarab untuk orangtuanya. Mungkin memang benar. Anak-anak adalah krunia terindah dari Allah. Begitu Maha Pemurahnya Dia memberikan obat yang ajaib untuk para orangtua di sela kesibukan mengejar dunia.

Allah, lebaran kali ini aku bisa merasakan menjadi orangtua. Menghadapi tingkah Robi dan Bani membuat mataku cukup terbuka lebar untuk melihat pengorbanan orangtuaku.
Ayah dan Ibu yang selama ini menjagaku tanpa lelah. Keringat yang mengucur deras dari profesinya yang sebagai petani. Ah, aku tahu pekerjaan mereka itu berat. Hasil panen yang tak seberapa ditambah dengan tuntutan kebutuhan yang lain membuat mereka harus lebih tajam mencari tambahan pemasukan.

“Yayu, pingin jajan,” Robi merajuk setelah tangisnya mereda.
Di daerah ‘nggunung’ di sini untuk mendapatkan sebuah warung itu masih susah. Kalaupun ada, tempatnya agak jauh dari rumah nenek. Demi menuruti keinginan si kecil kami segera menyusur jalan yang menurun . Bukan hanya untuk Robi, Bani dan keponakan yang lain juga mendapat bagian.

Semua tingkah Robi dan Bani mungkin hanya sebagian kecil kejadian yang banyak terjadi di masyarakat. Tapi bagiku setiap polahnya berhasil mengetuk pintu-pintu yang belum sempat terjamah. Keributan kecil, tangisan bocah, dan hal-hal kecil yang mungkin saja luput dari perhatian.

Terasa sudah perjuangan menjadi seorang Ibu. Walaupun peran yang kugantikan belum ada setengah persennya. Dan Idul Fitri kali ini, untuk yang pertama kalinya aku merasakan sebuah keluarga yang benar-benar utuh lagi. Kesepian selama bertahun-tahun terbayar walau hanya sebentar saja. Ah, kasihan nenek dan nenek buyutku. Dari kelima anaknya baru kali ini kami berkumpul. Walaupun Hendi, anak Paman Raswan tidak ikut ke Kebumen.

Lima saudara saja tidak bisa berkumpul setiap tahun. Dan rumah besar ini hanya ramai pada saat tertentu saja. Bagaimana denganku yang hanya dua bersaudara? Ah, rumah kecil kami pasti semakin sepi. Teringat lagi dengan adik bungsuku yang sering menjadi teman bertengkar dulu. Rasanya sulit dipercaya jika kami bukan anak-anak lagi dan baru kemarin kami menikmati masa-masa kecil yang bahagia. Robi dan Bani cukup mewakili kerinduanku pada masa kanak-kanak itu.

Untuk Bani yang di Kalimantan, baik-baiklah di sana. Kami menunggu kalian pulang  agar bisa berkumpul lagi. Teruntuk kampung halaman yang berselimut bukit menjulang, nantikanku kembali hingga bisa membawa perubahan untukmu. Aku pasti akan selalu merindukan suasana kampung halaman itu. Rindu kesahajaan dan keramahannya. Ayah, Ibu dan adik bungsuku, kalian tetap menjadi pemilik hatiku.


Nenek buyut, ini lah persembahan dari kami, sebuah pertanyaan yang dulu selalu menggetarkan hatiku, merombak keegoisan dan mata hati untuk berbagi dan menyayangi selama waktu masih mengizinkan kami bersama. Inilah kebersamaan yang Nenek rindukan. Maafkan kami yang terlalu lemah melawan waktu. Do’a kami menyertaimu. Semoga Allah senantiasa menghadirkan kebahagiaan dan kesehatan untukmu. Love you so much. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Numpang Nama

One thing I don't like about my work culture is 'numpang nama'. This word is used for somebody whose name is in the decision letter for implementing activities, but they didn't do their job. And this is what I am experiencing now.  Terus terang aja, aku bukan tipical orang yang pinter juga, bukan juga orang yang sosialis juga. Tapi untuk pekerjaan aku prefer aku yang kerja jika emang ada namaku di sana. Kenapa sih tiap aku nanya tuh ga pernah dapat jawaban yg puas. Giliran ada masyarakat nanya2 informasi ke aku, kan aku jadi gapunya jawabannya.  Masa ada orang jauh-jauh datang ke kantor, aku cuma jawab 'Maaf pak saya gatau' kan lucu. Bayangin kalo orang itu adalah kamu atau orang terdekatmu. Kan Bangke! Herannya tiap aku bahas tentang hal ini ga ada yang kasih pendapat positif. Seakan aku tuh cuma outsider yang ga berhak apa2.  Kalo tau kaya gini aku gausah ada namaku di sana. Dapat ilmu dan pengalamannya minim tapi giliran ada apa-apa pasti keseret namanya.  Go...

Galau 2025

 Dear Aku,  udah lama nih aku ga curhat di sini. Entahlah. Makin ke sini makin jarang banget kita ngobrol ya.. padahal kalo mau, banyak banget loh yang bisa kita diskusiin, atau sekedar ngegabut ajaa..  And yes, as you know, AMU program has been finished since July last year. Even though I didn't get a good score, I tried my best. And then I took IELTS course at UI my score remain still. 5,5 for general.  This is our first time in 2025, yeah. It's been a while. I can tell I changed a lot. I'm not a person who loves read a book, I'm not a person who likes writing a diary as well as story as I used to be. Here I am, just an average girl with tons of laziness and excuses.  Dear Love,  I just don't understand myself anymore. I don't know how to tell you. I want to be back to myself as I was a decade ago. The day that I can write anything, even just nonsensical things, imagination, or even my odd poem. I was quite ambitious back then. I had a big dream. I u...

How is class in EF

 It's been a week i took an english class in EF.  It so funny that study english with native teacher and friends all around the world. Each class consist of maximal 9 student. Because we all in the same grade (intermediate) and mostly we have not fluent speak in english, so that sometimes we need take times to thinking what is that word in english.  In the class, teacher will ask us to speak and talking with other student for some issue, and then she will correct it. It is often happen, when i talk and suddenly got stuck because i don't know how to say in eglish, and i took time for searching on google translate.  We demanded to speak constantly, so that many of us still used 'a..a..aa' and so. In the end we laugh each other. Not underestimate..   Thankfully the teacher and all of student is understand that is an issue for us. And teacher giving support and cheer we up! That is going to be really funny moment. We had a flexible class along day. Each session...