Mentari merangkak
perlahan meninggalkan peraduannya. Kaki langit mulai terlihat terang
kekuningan. Rinai , bocah delapan tahun yang periang biasanya senang menyaksikan mentari terbit, bahkan
kini tidak di tempat favoritenya. Ia mencoba menyisir dinding – dinding
rumahnya demi mendapatkan kehangatan dari bintang raksasa itu.
Sang Ibu yang
melihat hal ini tergopoh – gopoh menghampiri anak semata wayangnya itu.
“Rinai mau melihat
bintang yang besar Bu,” katanya.
“Ya sudah, Ibu antar
ke teras ya,”
“Tidak
usah Bu, biar Rinai belajar sendiri ya, kan
siapa tahu suatu saat nanti mata Rinai sembuh.”
Sebenarnya Bu Rodiyah tak tega
melihat anak kesayangannya harus menghadapi kenyataan hidup seperti ini. Rinai,
permata hati satu – satunya, sejak kecil ia belum tahu apa itu siang, malam,
kancil dan buaya, juga bintang. Tapi Rinai terus melukis itu semua meski dalam
bayangan remang – remangnya.
Nyaris setiap malam, ia meminta
sang Ibu untuk membacakan cerita. Cerita tentang awan – awan putih yang berpadu
dengan langit biru sehinga terciptalah suatu keajaiban ciptaan Tuhan yang tak
terkalahkan oleh siapapun. Bahkan oleh pelukis ternama di dunia sekalipun.
Kata Ibu, bintang
itu ada di langit. Dia kerlp – kerlip seperti orang yang genit.
“Bintang itu selalu
menakjubkan Nak, seperti kamu yang selalu menakjubkan di mata Ibu.” Itu kata
Ibu sewaktu menceritakan bintang.
“Rinai
ingin ke bintang Bu, biar Rinai bisa melihat semua ciptaan Tuhan. Kata Ibu
semua ciptaanNya indah. Iya kan ?” tanyanya polos.
“Iya Nak, insya
Allah suatu saat nanti kamu akan menyaksikan semua ciptaan Maha IndahNya.” Sang
Ibu mengecup kening Rinai, sebagai perpisahan cerita malam itu.
Dan karena bintang itu pula,
jedela di kamarnya selalu menjadi tempat yang menyenangkan utuk mencuri pandang
mata bintang.
****
Rinai tiba – tiba merasa
khawatir dengan kondisi Ibunya. Beberapa minggu yang lalu sang Ibu sakit demam.
Ia kalang kabut mencari air panas untuk mengompres Ibunya.
Kali
ini Ibu tak boleh sakit. Cukup kemarin sakit yang Engkau berikan, Tuhan. bukankah
Ibu selalu baik padaMu? Jangan ambil dia! Belum cukupkah sesuatu yang Kau ambil
dariku. Aku belum sempat melihat rupa Ayah, tapi keburu Engkau ambil dia.
Dan
mataku, sumber keindahan dan kebahagiaan itu juga harus lenyap bahkan ketika aku
masih belia.
“Ibu..bu,” Rinai mencari – cari pegangan
di bilik rumahnya.”Ibu nggak papa? Ibu
di mana?” suara Rinai memecah keheningan rumah.
Beberapa
lama tak ada suara yang menjawab panggilannya. Ia masih menyusuri bilik bambu
rumahnya.
Aneh. Ibu ke mana? Hampir seisi
rumah ia telusuri namun Rinai belum menemukan pertanda kalau sang Ibu ada di
Rumah itu. Gadis kecil itu semakin takut. Semakin kencanglah ia berteriak
memanggil Ibunya. Beberapa tetangga yang mendengar teriakan itu segera mendekat
demi mengetahui apa yang terjadi pada keluarga kecil itu.
“Rinai, ada apa? Mengapa kamu
berteriak – teriak?” Tanya bu Isma.
“Ibu,
di mana Ibu Rinai? Dari tadi Rinai panggil – panggil kok nggak dijawab.” Ia
mejawab dengan nada khawatir.
Bu
Isma segera tahu apa yang harus di lakukan. Ia segera menyusup ke Rumah Rinai.
Wanita setegah baya itu berteriak – teriak memanggil bu Rodiyah. Namun nihil,
tanpa ada jawaban.
Tapi
tak lama setelah itu, bu Isma menemukan seseorang tertidur pulas di belakang
Rumahnya.
****
Gundukan tanah itu masih basah,
bekas sisa hujan semalam. Rinai memandang sendu nama yang tertera di nisannya.
Rodiyah binti Warman. Perlahan airmatanya mengular menyusuri wajahnya yang
masih polos.
Wangi bunga yang ia tebar
semakin menambah suasana di sekitar pekuburan itu tenggelam dalam tangisnya.
“Bu, sekarang Rinai sudah bisa
melihat bintang. ternyata indah baget seperti kata Ibu.” Rinai mengusap aliran sungai kecil di wajahnya. “tapi mengapa
Ibu justru pergi begitu cepat, hingga tak mau melihat Rinai lagi, Rinai kangen
Bu.” Gadis kecil itu mendekap tanah di depannya.
“Rinai, pulang yuk.” Seorang
wanita muda meyentuh bahunya.
“Tapi Rinai masih kangen, Bu
Dokter.”
“Besok kita ke sini lagi, sayang”
Rinai menurut.
Rinai meniggalkan tempat itu
dengan membawa mimpi yang dulu di pendamnya. Sekarang bukan saatnya lagi untuk
memendam semua mimpi – mimpi tu. Ia harus berjuang. Demi Ibu yang telah
menitipkan cahaya untuknya.
Bu, Rinai janji. Mimpi itu akan
menjadi hadiah untukmu.
17
Maret 2008.
Aku
selalu senang memandang cahaya kerlap – kerlipmu.
Bintang,
bagiku kau selalu special. Apa Ibu sedang bersamamu? Aku ingin bertemu Ibu. Aku
rindu kisah – kisah tetangmu. Tanpa rembulan pun kau masih tetap ada di sudut
ruang kecil ini. Menemani setiap senduku. Kau lihat, aku selalu merasa sendiri,
tanpa Ibu. Kepergiannya juga merenggut semua tawaku. Dan sekarang aku lupa
bagaimana caraku dulu terawa ketika masih bersamanya. Aku rindu, bintang.
Apa Ibu sedang melihatku? Apa
Ibu juga rindu seperti aku merindukannya?
Bintang,
Tadi bu Dokter membawaku ke
makam Ibu. Makam itu tak jauh berbeda ketika kami ke sana
lima tahun yang
lalu. Hanya saja, rumput – rumput di atas makam begitu tinggi.
Ketika
membersihkan makam, aku teringat cerita bu Dokter pada suatu malam.
"Sayang, bu Dokter punya sesuatu
lo, buat Rinai.” Dokter itu kemudian mengambil sesuatu. Sebuah kotak berbungkus
koran. Apakah itu?
Rinai
tak sabar ingin membukanya. “Buka, sayang,” kata Doker itu kemudian.
Sebuah
buku tebal bersampul gugusan bintang dan satuan galaxynya menyembul dari tangannya.
Kejutan! Sebuah buku ensiklopedi tentang benda – benda langit.
Tapi
setelah itu, bu Dokter kembali memberiku kejutan yang tak kalah pentingnya,
bahkan sesuatu yang paling penting dalam hidupku.
“Rinai ingat nggak ketika Rinai
bertanya tentang kematian Ibu.” Tanyanya.
Mana
mungkin aku lupa dengan peristiwa itu, bintang. Aku mungkin seperti orang gila
yang terus menanyakan seseorang yang telah tiada.
“Ibumu
terkena stroke, Rin,” Bu Dokter itu diam sebentar. Menunggu reaksi Rinai.
“Sebenarnya
ibu terkena stroke sudah lama, tapi beliau tidak mau bercerita dan memeriksakan
kesehatannya. Ibumu menulis sebuah surat .
Surat yang
begitu mulia. Ia memberikan retinanya untukmu, Rin.” Rinai telah menangis,
terbawa kenangan yang begitu pahit dalam hidupnya.
“Jika
kamu ingin melihat Ibumu, bercerminlah, karena ia hidup dalam dirimu, sayang.
Kamu nggak pernah kehilangan Ibu. Bahkan ia selalu menemani setiap detik
waktumu.
Bintang, mata ini…milik Ibu.
Dan sungguh aku melihat Ibu
hidup dalam diriku.
Tapi terkadang, beliau juga
tertawa denganmu di sana ,
bahagia…sekali.
Aku rindu Ibu.
Dan bu Dokter itu, memberikan
kejutan lain untukku. beliau tak lain adalah tanteku, adik kandung Ibu yang
selama ini tinggal di Flores. Aku heran, mengapa Ibu tak pernah cerita kalau
punya saudara di Flores. Bu Dokter pulang menjemputku karena mendengar kabar
kecelakaan itu dari bu Isma.
Bintang, jika dulu aku melihatmu
dengan hatiku di tanah kelahiran, kini aku pun masih bisa memandangmu di
belahan tanah yang lain. Aku melihatmu dengan mata ini bersama Ibu, dan juga
Ayah..
Aku bahagia,sekali.
Kini aku juga di sekolahkan sama
Bu Dokter. Kata beliau aku harus belajar yang giat biar bisa menggapai cita –
cita. Aku akan tunjukkan pada Ibu dan Ayah bahwa cahaya mata yang beliau
berikan tak kan
sia – sia.
Ibu pasti senang, aku berhasil
mendapatkan ranking 1 di sekolah. Aku
berjanji Bu, akan meraih mimpi – mimpi itu. Aku akan jadi orang hebat,
sepertimu.
Terimakasih,
bintang.
Komentar