Tentu kabar penutupan lokalisasi Dolly
sudah menyebar bak jamur di musim hujan. Banyak yang mengkritik, menghina dan
melakukan perlawanan dengan keputusan yang diambil oleh walikota Surabaya , Ibu Tri Risma
Harini. Alasannya pun beragam, mulai dari sumber nafkah, bersenang-senang,
karena tak ada keterampilan yang dimiliki oleh para PSK, sehingga hanya itu lah
yang bisa mereka lakukan demi menutupi kebutuhan keluarga.
Tak dapat dipungkiri, keberadaan
lokalisasi Dolly yang ada di Surabaya
ini memang sangat membantu perekonomian rakyat. Bukan hanya PSK yang mendapat
peruntungan di tempat ini, para pedagang di sekitar daerah lokalisasi pun
mendapat imbalan yang tak sedikit. Bukan hanya itu, statusnya sebagai
lokalisasi terbesar di Asia , berita
penutupan itu pun cukup mendapat
perhatian khusus dari wartawan Luar Negeri.
Selain mereka yang menolak, ada
juga kelompok organisasi yang mendukung penuh kebijakan baru untuk menutup
tempat itu. Alasannya juga masuk akal dan menakjubkan.
“Saya khawatir dengan perkembangan
anak-anak yang hidup di sekitar tempat itu. Bagaimana masa depannya jika sedari
kecil mereka di suguhi dengan pemandangan yang merusak moral?” Kurang lebih itu
pernyataan yang Ibu Risma keluarkan sewaktu diwawancarai seputar rencananya.
Subhanallah, di saat segelintir
orang tengah berusaha menjatuhkan pamor anak-anak dengan menjejali dengan
video-video bejat, walikota ini justru mencoba menarik mereka dari lembah
hitam.
Memang benar. Masa depan suatu
Bangsa ditentukan oleh anak-anak mudanya. Saya jadi teringat kata-kata Bung
Karno mengenai kemajuan dan kemunduran suatu Negara.
“Beri aku 1.000 orang tua, niscaya akan kucabut semeru
dari akarnya. Beri aku 10 pemuda niscaya akan kuguncangkan dunia.”
Jika suatu pemuda di suatu daerah terus di jejali dengan tindakan
yang melanggar norma-norma social, lambat laun kesalahan yang dibuatnya pun
akan di anggapnya biasa saja, suatu tindakan yang wajar. Tentu ini sangat berseberangan
dengan cita-cita Bangsa berdasarkan pembukaan UUD 1945 alinea 4.
Bagaimana mungkin Negara akan memajukan kesejahteraan
umum, mencerdaskan kehidupan Bangsa jika perilakunya menyimpang dari norma
sosial?
Kembali pada pokok persoalan kasus penutupan lokalisasi,
saya mendukung penuh usaha tersebut. Alasannya sederhana saja. Sebagai umat beragama,
tentu yang kita cari bukan hanya dunia saja. Apalah artinya duit
bertumpuk-tumpuk dalam gudang jika harta itu tidak berkah. Bagaimana Indonesia mau
bangkit, jika tindakan asusila marak terjadi. Dan mirisnya lagi telah menjadi
trend dan wabah yang mematikan.
Soal rezeki yang menjadi alasan utama penolakan mereka,
cobalah cari alternative lain. Bu Risma berjanji to, bakal memberi pesangon dan
pelatihan keterampilan sebagai pengganti mata pencaharian yang maaf ‘bejat’
itu. Saya katakan ini karena saya yakin, dengan adanya tempat lokalisasi
seperti ini banyak wanita, istri-istri yang menjadi korban kedzaliman suami.
Astaghfirullah. Tidaklah di benarkan jika cinta yang sudah dalam ikatan resmi
harus dinodai karena tergiur wanita sekali lagi maaf ‘murahan’ itu.
Intinya, apapun kebijakan pemerintah yang mengarah pada
kebaikan saya mendukung. Bukan sok suci, tapi, bukankah kita hidup untuk
mencari Ridho Allah SWT?
Apapun jenis pekerjaan Anda, syukurilah, yang penting
halal, lagi berkah, dan Allah Ridho. Adakah hal paling membahagiakan selain
dari itu?
Allahua’lam bis shawab.
Komentar