Langsung ke konten utama

Sayap yang retak

Tanggal 16 Juni ini, ia pun masih menyematkan luka padaku. Entah apa yang membuatku masih ingin terus menatap meski awan putih menyelimutinya. Bulan ke 18 dalam dekapan Juni ini masih tersimpan rapih namamu, juga surga yang belum sempat terjamah itu. 
Ende, kamu tahu itu.
Di mana lagi aku 'kan menziarahi kota-kota dalam pelukan gelombang laut. Juga gunung-gunung yang menjulang tinggi bak tangga menuju langit. Dan gugusan bintang yang sekarang semakin menyepi menambah sisa-sisa rinduku yang entah beralamatkan siapa.
            Di hari yang menjadi sejarah bagimu, dan bagiku, tapi bukan bagi kita. Aku ingin menitipkan satu bintang yang dulu selalu kamu hadiahkan untukku setiap malam. Ah, ingin aku merutuki malam-malam ini. Semua tentangmu membias kembali dalam memori kenangan yang mengakar dalam sudut hati ini.
“Kamu galau lagi?” Bintang seolah bertanya, membuyarkan barisan-barisan kenangan yang mulai jelas membekas.
“Entahlah, hanya saja semua terasa begitu menyakitkan,” kataku dalam hati.
“Sudahlah, kenapa masih dipikir terus?” tanyanya lagi.
“Aku tidak tahu, Bin. Dia datang sendiri.”
“Makanya, jangan coba buat melupakan. Ia bisa pergi sendiri, seperti saat ia mendatangimu,” katanya bijak.
“Tapi tak semudah itu.” Kemudian Bintang meninggalkanku yang semakin terjerat dawai kepiluan.
Pelataran depan rumah semakin dingin. Aku merapatkan jaket dan mendekap kedua lututku dengan kedua tangan  Ya! Di tempat ini lah aku menumpahkan semua kekesalanku pada dunia dan cinta.
***
Cakrawala senja mulai memeluk gelap. Kami masih saja duduk bersisian menikmatinya. Memandang orange-nya langit yang berbatasan dengan bukit. Indah sekali. “Besok kita akan menikah,” katanya. Ia menoleh, sebuah senyumnya mengambang. Aku tak tahu harus sedih atau bahagia mendengar kata-katanya.
 “Kakak sayang Ade.”
“Masa?” ledekku.
“Mulai lagi, ya. Belum kapok yang tadi? Hmm, sini kakak cubitin lagi ya biar nangis.” Tawanya semakin lebar dengan posisi siap ‘menyerang’ku.
“Ampun Baginda, hamba menyerah,” kataku menambah ramai suasana senja itu.
Ancamannya benar-benar di lakukan. Pinggangku kini sudah menjadi santapan empuk tangan-tangan jahil itu. Aku berteriak, tertawa, menggeliat dan berusaha menangkis dengan kedua tangan.
“Ade sayang Kakak,” kataku merayu.
Mendengar pernyataan itu, tangan yang sudah siap menyubit pinggangku lagi terhenti seperti terkena sebuah mantera. Tatapannya kembali membunuhku dalam kebisuan. Tapi, tanpa disangka sedikitpun jari-jarinya telah memegang pinggang dan bahuku kemudian merengkuhnya ke dalam dadanya yang bidang.
“Tapi bohongan aja ya,” kataku sambil tertawa berusaha melepaskan diri dari pelukannya.
“Jadi bohongan ya, hmm biarin nggak bisa keluar.” Ia kemudian mengambil hanpone lalu memutarkan sebuah lagu.
Hidupku hampa tanpa dirimu, sepi merasuk dalam jiwaku
Peluk diriku genggam tanganku, rasakan cintaku
Senyumanmu bahagiaku , tangisanmu itu lukaku
Kan ku simpan dalam hatiku, rasa ini tak kan mati
Melayang cintaku kan slalu, temani saat kau lelah
Karena aku ada untukmu, sebagai teman hatimu
Kami menyanyikan lagu itu. Ah, ingin aku menghentikan denting waktu yang terus merangkak. Hanya agar bahagia ini kekal menjadi milik kami. Dua manusia dalam selimut cinta yang tiada tara indahnya. Kak Ifan masih merengkuhku dalam kebahagiaan yang teramat dalam.
Pertemuan tak sengaja di kantor waktu itu mengenalkanku pada  sosok lelaki yang kini sedang di sisiku. Sorot matanya tajam. Dia orang timur, dan rupa-rupanya persoalan timur-barat ini menenggelamkanku pada persoalan sulit yang harus dipilih.
 “Oktober besok kakak lamar ya.” Kak Ifan membuyarkan lamunanku.
 “Tapi  ade belum bilang soal hubungan ini ke Ibu,” aku berbohong.
“Lho, kok belum sih?” suaranya agak menekan.
“Ade belum siap, Ka.”
“Kapan siapnya kalau begini terus? Ade harus perjuangin dong,” katanya agak kesal.
“Kakak bantu ngomong ke Ibu ya,” aku merajuk.
“Ade sendiri lah dulu ngomong, nanti baru kakak. Sudahlah hari sudah petang. Ade pulang lah dulu.”
Aku memandang wajah kesalnya sesaat sebelum meninggalkan ia dalam selimut senja yang baru saja berlalu. Aku masih takut dengan kenyataan yang akan menyita hidupku. Saat pulang kampung kemarin Ibu mendengar aku sedang menerima telefon dari Kak Ifan.
“Orang Ende, Bu.”
“Ende mana?” Ibu menanyakan nama tempat itu.
“Di sini,” aku mengambil sebuah peta dan menunjukkan sebuah kota di pinggiran laut Indonesia bertulisan Ende.
Raut wajahnya berubah masam ketika melihat peta itu.
“Tinggalkan dia,” katanya dengan suara lirih, hingga hampir aku tak jelas mendengarnya.
***
“Mungkin Ibu tak mengizinkan hubungan kita terlalu jauh.” Aku membuka percakapan.
“Ade sudah ngomong kah ke Ibu?”
“Belum.” Aku menjawab pendek.
“Kakak nggak bisa menunggu lebih lama lagi,” suaranya sumbang. Kami tenggelam dalam kebisuan.
Tangismu adalah tangisku, Kak. Tapi apa dayaku, aku perempuan. Bisa saja aku melawan kehendak Ibu lalu kita menikah di sana. Tapi, sanggupkah aku menjalani sisa hidupku yang setelahnya? Aku ingin kita perjuangin ini sama-sama. Tapi Kakak? Ah, aku tak bisa berjalan seorang diri, tahukah itu?
Hubunganku dengan Kak Ifan semakin renggang. Ibu juga berubah, semakin perhatian padaku-atau karena ingin menjauhkan aku dari Kak Ifan?
Kadang aku tak dapat menahan kesedihan itu. Tentang cintaku yang di ambang batas kehancuran. Apa benar semua yang dikatakan Ibu tentang Kak Ifan waktu itu?Bintang,  aku tak mengerti dengan jalan pikiran Ibu. Ah, apa aku harus berontak?
“Tapi aku mencintainya, Bu,” kataku lewat telepon. Sekali itu saja aku ingin berontak.
 “Besok kamu harus pulang!” Ibu menutup telepon cepat tanpa memberikanku waktu untuk mengucapkan salam.
Ah, suatu keputusan yang berat ketika cinta harus memilih. Aku tahu dalam setiap keputusan yang kita pilih salah satu, akan meninggalkan sakit pada sepotong hati yang lain.
“Ade akan meninggalkan kakak, kah?” tanyanya dalam suara parau.
Aku diam, dan memutuskan untuk berusaha tetap diam.
“Ade nggak mau jawab pertanyaan kakak, kah?” tanyanya lagi. Pandangannya semakin menusukku. Aku mengalihkan pandangannya itu. Sungguh! Bukan karena benci, melainkan karena tak sanggup membalasnya. “Mungkin setelah ini Kakak akan rasakan cinta yang sesungguhnya, Kak,” kataku dalam hati.
“Ade bukan yang terbaik untuk Kakak,” akhirnya bibir ini mampu berkata-meski dengan sangat terbata-bata. Aku sesenggukan dalam diam. Tuhan, serasa bumi runtuh saat ini.
“Kakak bukan yang terbaik untuk Ade,” ia diam,”karena Kakak nggak bisa agama, kah sehingga Ibu melarang hubungan ini?” Ia berdiri mengutuk langit yang telah menciptakan takdir ini.
“Tapi kan ada Ade yang akan ngajari kakak ngaji dan shalat, kan? Ade sudah janji kan?” Kak Ifan terus menatapku dengan tangisan. Aku tak kan pernah lupa janji itu. Selama ini kata-katanya terdengar selalu jujur. Tentang kotanya, penduduknya, dan kejujurannya yang tidak bisa mengaji dan shalat. Awalnya aku ragu bagaimana nanti keluargaku jika imamnya tidak bisa mengaji dan shalat? Allah, inikah jalan-Mu yang ingin ditunjukkan padaku? Tapi mengapa seolah cinta itu telah mengakar dan memenjarakanku? Dan kota itu, entah mengapa ambisiku begitu kuat untuk menjamah surga tersembunyi di Flores, NTT.
“Ade nggak tahu, Kak. Ade mohon Kakak mengerti posisi ade.” Suaraku telah putus asa.
“Baiklah kalau itu mau Ade. Kakak nggak akan menghalangi dan sekarang kakak benar-benar mengerti seperti apa perasaan Ade yang sebenarnya terhadap kakak.”
“Aku mencintaimu, Kak. Bahkan tanpa sepengetahuanmu bahwa aku mencintaimu. Sungguh,” jeritku dalam hati.
Bintang, kau lihat sekarang, kan? Bahkan untuk mempertahankan perasaan ini pun aku tak sanggup. Apa benar semua yang dikatakan Ibu? Ah, jawablah pertanyaanku! Mengapa kau hanya diam di atas sana? Berselimutkan awan-awan tebal nan putih. Tak sudikah kau jawab pertanyaanku sekali ini saja? Ku mohon.
“Kakak do’akan semoga Ade bahagia.” Kemudian ia pergi membawa sepotong hatiku.
****
Bintang, langit mana yang kan menyuguhkan keindahan untukku? sedang sepotong hatiku entah terbawa ke mana.
Langit di atas rumah ini masih sama dengan ketika aku duduk bersisian senja itu bersama Kak Ifan. Ah, aku rindu tapi kepada siapa rerupa rindu ini kan kualamatkan?
Bintang, haruskah aku melupakannya? Ataukah tetap menyimpannya sebagai kenangan yang terindah?
Tiba-tiba aku ingin memutar lagu.
Karena aku ada untukmu, sebagai teman hatimu!!! Aku terus mengulang ulang kalimat itu hingga sesak menghampiri. Kemudian kristal-kristal pertahananku runtuh membanjiri sudut-sudut hati yang meradang. Bintaang!! Aku teriak mengutuk takdir yang selalu salah.
“Sebagai teman hatimu.” Kemudian lagu itu terhenti. Sepi seperti beberapa menit lalu. Kerinduanku memuncak! Malam itu aku gila. Benar-benar gila bila kalian tahu. “Kenapaaa!” Hanya itu kalimat yang terus kutanyakan pada Bintang. Tapi malam semakin jauh meninggalkanku di pelataran depan rumah. Ia hanya diam membisu. Angin pun seolah enggan menyapa jiwa-jiwa kerontang ini. Sepoi memelukku bersama airmata yang selalu setia menemani. Dunia pudar warnanya.
 “Kembalilah, Ra. Kembalilah ke duniamu yang baru,” sebuah suara tiba-tiba muncul entah dari mana.
“Air matamu terlalu berharga terbuang sia-sia. Yakinlah, ia bukan jodoh yang tepat untukmu,” katanya lagi.
“Tapi bagaimana dengan perasaanku? Memangnya kau tahu, hah?” Aku yang sedang gila tak ingin tahu siapa yang berbicara itu. bahkan setelah aku mencari-menengok kanan kiri tak kutemukan siapapun.
“Tanyakan pada hatimu, Ra. Bodoh sekali kamu untuk hal kecil seperti ini saja ia kamu lupakan,” suara itu menertawakanku. Jelek sekali tawanya.
“Hati? Apa maksudmu?” aku setengah berteriak.
“Kamu selalu membutuhkan hatimu untuk menimbang sesuatu hal. Tanyakan padanya apa yang harus kau lakukan. Dengarkan suaranya. Setelah itu jangan kamu cari pertanyaan bodohmu itu kepada orang lain karena hanya kamulah yang dapat mendengar suara hatimu.”
Aku terdiam-membenarkan kata-katanya dan satu menit kemudian suara itu menghilang.
Patah hati. Oh, inikah patah hati yang sering orang-orang sebut itu? Patah hati sungguh menikam setiap detik bahagiaku. Semenjak itu aku jadi sedikit pemurung, acuh dan kembali menjadi Rara sebelum mengenal Kak Ifan.
Aku masih mencintainya. Dan hubungan ini masih saja jalan di tempat. Tak ada perkembangan berarti atau lebih tepatnya semakin buruk. Kami semakin jarang berkomunikasi meskipun hanya sekedar bertegur sapa lewat sms. Apakah  jarak yang membuat restu terhambat? Apakah suatu tempat menentukan masa depan seseorang? Ah, kolot sekali. Tapi di satu sisi yang lain, aku juga tak ingin mengecewakan Ibu. Bagaimanapun wanita berumur 5 windu lebih itu jauh lebih berpengalaman dalam urusan cinta.
Aku masih saja menggantung hubungan ini. Iseng, aku menghubunginya dengan nomor baru.
“Ini Reva, kah?” balasan dari seberang mengejutkanku.
“Reva? Siapakah Reva?” balasku dengan  tak sabar-ingin mendapatkan jawaban.
“Reva, masih marah kah dengan sikapku tempo hari? Iya aku tahu itu salah, tapi aku sangat mencintaimu. Maafkanlah.”
Reva, aku baru nama itu. Sebelumnya aku pasti mengenal nama-nama wanita yang pernah menjadi masa lalunya. Kami saling terbuka. Tapi, Reva? Aku tak mengenal nama itu. Dia bilang ‘aku sangat mencintaimu?’ Kak Ifan bilang dia hanya mencintaiku saja. Bahkan pernikahan itu sudah hampir di depan mata.
“Anda sangat mencintai Reva, kah?” sms selanjutnya meluncur begitu saja. Mataku nanar, antara marah, cemburu dan benci tak bisa di bedakan lagi dinding pemisahnya.
“Iya, bahkan aku sangat mencintainya. Hanya Reva yang akan menjadi istriku.”
Jawaban itu benar-benar menohok jantung. Bagaimana mungkin ia berkata seperti itu? bukankah senja di bukit telah menjadi saksi bisu atas cintanya padaku? Ah, dunia serasa runtuh saat itu juga. Aku limbung, tulangku remuk tak kuat menahan beban hatiku lagi. Semudah itu kah mendapatkan penggantiku? Pantas saja ketika aku sms mengunakan nomor yang biasa sikapnya begitu dingin. Tapi, bukankah itu hanya ungkapan kekesalannya kerena restu Ibu tak bisa kudapatkan.
Ah, detik itu juga kepercayaanku luntur dan hilang begitu saja. Semua hanya tinggal puing-puing kenangan. Kepingan puzzle yang belum sempat terbentuk gambarnya telah remuk dahulu. Seperti kaca yang telah pecah. Hancur berkeping-keping membuat lautan duka yang teramat dalam.
Kini bulan masih dalam dekapan Juni, dan Oktober besok seharusnya menjadi hari yang bahagia.  Masih ada puzzle yang berserak kemudian menarikku dalam sebuah lubang yang menganga lagi.

_End_


Penulis bisa dihubungi di facebook “Supinah,” dan mempunyai nama pena Raudhatul Jannah. Ia lahir di Kebumen, 03 Oktober 1994. Mulai active di dunia menulis sejak Oktober 2013. Beberapa tulisan sempat masuk dalam antologi yang dibukukan oleh penerbit. Saat ini penulis masih terus berusaha menghasilkan karya yang bermanfaat untuk ummat. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Numpang Nama

One thing I don't like about my work culture is 'numpang nama'. This word is used for somebody whose name is in the decision letter for implementing activities, but they didn't do their job. And this is what I am experiencing now.  Terus terang aja, aku bukan tipical orang yang pinter juga, bukan juga orang yang sosialis juga. Tapi untuk pekerjaan aku prefer aku yang kerja jika emang ada namaku di sana. Kenapa sih tiap aku nanya tuh ga pernah dapat jawaban yg puas. Giliran ada masyarakat nanya2 informasi ke aku, kan aku jadi gapunya jawabannya.  Masa ada orang jauh-jauh datang ke kantor, aku cuma jawab 'Maaf pak saya gatau' kan lucu. Bayangin kalo orang itu adalah kamu atau orang terdekatmu. Kan Bangke! Herannya tiap aku bahas tentang hal ini ga ada yang kasih pendapat positif. Seakan aku tuh cuma outsider yang ga berhak apa2.  Kalo tau kaya gini aku gausah ada namaku di sana. Dapat ilmu dan pengalamannya minim tapi giliran ada apa-apa pasti keseret namanya.  Go...

Galau 2025

 Dear Aku,  udah lama nih aku ga curhat di sini. Entahlah. Makin ke sini makin jarang banget kita ngobrol ya.. padahal kalo mau, banyak banget loh yang bisa kita diskusiin, atau sekedar ngegabut ajaa..  And yes, as you know, AMU program has been finished since July last year. Even though I didn't get a good score, I tried my best. And then I took IELTS course at UI my score remain still. 5,5 for general.  This is our first time in 2025, yeah. It's been a while. I can tell I changed a lot. I'm not a person who loves read a book, I'm not a person who likes writing a diary as well as story as I used to be. Here I am, just an average girl with tons of laziness and excuses.  Dear Love,  I just don't understand myself anymore. I don't know how to tell you. I want to be back to myself as I was a decade ago. The day that I can write anything, even just nonsensical things, imagination, or even my odd poem. I was quite ambitious back then. I had a big dream. I u...

How is class in EF

 It's been a week i took an english class in EF.  It so funny that study english with native teacher and friends all around the world. Each class consist of maximal 9 student. Because we all in the same grade (intermediate) and mostly we have not fluent speak in english, so that sometimes we need take times to thinking what is that word in english.  In the class, teacher will ask us to speak and talking with other student for some issue, and then she will correct it. It is often happen, when i talk and suddenly got stuck because i don't know how to say in eglish, and i took time for searching on google translate.  We demanded to speak constantly, so that many of us still used 'a..a..aa' and so. In the end we laugh each other. Not underestimate..   Thankfully the teacher and all of student is understand that is an issue for us. And teacher giving support and cheer we up! That is going to be really funny moment. We had a flexible class along day. Each session...