Langsung ke konten utama

Jodoh Dari Ayah

“Ratri,kamu harus segera menikah.  Ayah takut kamu nggak bisa mendapat jodoh. Apa harus Ayah carikan untukmu, Nak?” suara parau Ayah mengiringi penutup Al Fatihahku.
“iya Yah, bukan Ratri nggak pingin nikah, tapi kan Ayah tahu sendiri semua laki – laki yang melamar Ratri tidak sesuai yang Ratri minta. Syaratnya nggak neko – neko kok Yah” aku mencoba membujuk Ayah
“iya, Ayah juga nggak maksa nduk. Nikah itu kan ibadah jadi tidak ada paksaan dalam beribadah” 

Ayah memang selalu pengertian. Meskipun dalam kondisi apapun. Aku tahu ada nada kecewa dalam kalimat penutup beliau tadi, tapi apa yang harus aku katakan? Aku tak mau menyakiti perasaannya. Keinginan menimang cucu pun bukan lagi hal baru bagi keluargaku. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin supaya aku lekas mendapatkan jodoh. Memang ajang pencarian jodoh itu sedikit membuahkan hasil. Beberapa anak kenalan Ayah datang mencoba meminangku. Tapi tak satupun dari mereka yang sesuai kriteria. Allah, harus sampai kapankah hamba menantikan seseorang itu?

Untunglah, akhir – akhir ini beberapa Dosen menyambangiku untuk sekedar meminta bantuan memantau anak didiknya. Jadilah aku lumayan sibuk. Dan urusan jodoh yang sempat mengusik pikiranku beberapa waktu ini bisa sedikit tersingkir.
”rumah ini sepi ya” kata Ayah. Oh tidak, aku bahkan tidak menyadari bahwa Ayah masih menemaniku seusai magrib. Beliau memang selalu begitu, tak pernah berubah.
“kan dari dulu memang sepi Yah,” aku mencoba untuk menghibur beliau
“tapi dulu kamu masih kecil nduk, masih bermain – main sama Ayah. Minta ini – itu. Bahkan kamu nggak rela kalo Ayahmu ini nganggur.  Sekarang kok ya sepi banget nduk” kini suara Ayah melemah, bahkan hampir memecahkan sunyi dengan airmatanya.

Aku mengerti arah pembicaraan Ayah. Tapi aku semakin tak berani berkata. Selama ini aku hanya membohongi diriku sendiri. Aku selalu mengatakan bahwa kami berdua akan baik – baik saja. Tapi ternyata tidak, setidaknya untuk Ayah.
Yah, Ratri janji  akan bekerja lebih keras, supaya Ayah bahagia.

“sini Yah, Ratri pijiin pasti Ayah kecapean kan?”
Aku gesit mengambil balsem untuk memijit pria terhebat di dunia itu. Dan kerapuhan itu kini jelas terlihat. Mata cekungnya yang selalu menatap indah kepada permata hatinya,  kaki yang selalu kuat berjalan puluhan kilometer itu kini banyak di hiasi dengan urat – urat birunya. Kondisi tubuh yang terlalu lelah membuat beliau tertidur pulas.
Kali ini aku harus lebih pandai memanfaatkan waktu. Esok hari senin, itu berati kebersamaan dengan Ayah akan berakhir malam ini.

*** “Ayah, makan yang banyak ya biar sehat. Ratri bikinin sambel terong kesukaan Ayah. “tak lama sepiring nasi penuh dengan sambal terongnya telah mentereng di depan Ayah.
“alhamdulillah , anak Ayah memang paling pandai soal selera si tua ini” kelakarnya keluar dengan ceria pagi itu.

“Yah” aku mencoba mengeluarkan pemikiran tadi malam
“nanti kalau ada seseorang yang melamar Ratri terima saja ya. Ayah tidak perlu meminta persetujuan Ratri lagi. Ratri akan terima apapun pilihannya.”
Aku masih menunduk, sambil menunggu reaksi dari Ayah. Sugguh ini bukan kemauanku. Tapi di sisi lain aku tidak ingin melihat Ayah semakin kecewa karena anak gadis satu – satunya tidak laku. Biarlah, semoga Allah memberi rencana yang lebih baik dari ini.
“kamu yakin Nak?” Ayah meyakinkan
“insya Allah Yah, bukankah Allah tidak tidur?” kali ini aku mencoba tersenyum.
Kami berpelukan erat  sekali, seperti hendak lama berpisah.
“Ratri berangkat Yah, Ayah baik – baik di rumah ya. Assalamu’alaikum”
Kecupan di kening mengiringi keberangkatanku pagi ini.

***”Hai Nita, Assalamu’alaikum” ukhti yang berjalan di depanku kini menghentikan langkah
“wa’alaikumussalam warahmatullah Ratri” ia ersenyum lalu kami berpelukan di lanjutkan cipika cipiki. Itulah kami. Meskipun kami bekerja di kantor, tapi kebersamaan kami masih tetap seperti waktu SMK. Kami masih sering mengikuti kajian bersama, maka jangan heran jika semua orang di kantorku memanggil kami duo ustadzah. Hehe
“hari ini katanya ada dosen baru loh. Katanya sih cakep. Lulusan UGM. Keren kan?” kata Nita
“oh ya” seperti biasa aku selalu tak berselera jika perbincangan mengarah kepada kaum Adam itu.
”iya. Ya kali dia jodohmu Tri, kan siapa tahu” Nita berbicara hati – hati
Dan aku hanya membalasnya dengan senyum.
“selamat pagi teman – teman” Nita menyapa seisi ruang kelas. Kami mahasiswa semester tujuh. Dan seharusnya kami sedang sibuk menyiapkan bahan skripsi. Tapi kenapa semua cewek malah kasak kusuk nggak jelas sih?
“Mereka sibuk ngomongin si dosen baru itu Tri” Nita berhasil menebak pikiranku.
“good morning every body. I have a new teacher. Please welcome Mr. Gunawan”  dosen Lia tiba – tiba telah berdiri di hadapan kami semua. Kali ini beliau tak sendiri. Seorang laki – laki berdiri agak di belakangnya.
“Mr. Gunawan, please introduce you’re self” beliau menyiakan dosen baru itu memperkenalkan diri.
Di saat perkenalan singkat itulah mata elangnya bertemu degan mataku. Tidak, aku yakin itu hanyalah kebetulan saja. Aku sesegera mungkin mengalihkan pandangan pada buku di depanku.  Dan kuliah hari itu menjadi hari yang diam – diam meyebalkan untukku.  setidaknya sampai beberapa bulan ke depan.

*** “Ratri, ada surat untukmu” Nita yang tadi pulang duluan memberikan surat itu
Aku meraihnya.

Assalamu’alaikum.
Bagaimana kabarmu nduk? Ayah harap kamu baik – baik saja. Kamu tenang saja, kali ini Ayah sudah ada yang menjaga. Selamat nduk, kamu sudah resmi menjadi seorang istri. Ayah yakin kamu akan bagga sekali dengan suamimu. Dia soleh nduk. Anaknya pak Amir. Kemarin beliau silaturahim ke rumah.  Kami ngobrol banyak termasuk pencarian jodoh untuk kamu. Ayah lupa kalo Pak Amir juga mempunyai seorang anak laki – laki. Dia lulusan pesantren nduk. Orangnya sederhana. Namanya Ahmad Gunawan. Kami sepakat menikahkanmu dengannya. Al Qur’an yang selalu ia bawa menjadi mahar untukmu.
Tapi setelah pernikahan itu nak  Ahmad ingin langsung menyusulmu. Ayah tak bisa mencegahnya. Jadi istri yang salehah ya nduk, jangan kecewakan suamimu karena sekarang kamu menjadi haknya. Ayah selalu mendo’akan kalian semoga menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah, warohmah. Aamiin.
Selamat berbahagia nduk,
Wassalamu’alaikum wr.wb

Ayah.

Jadi sekarang statusku sebagai seorang istri? Ya Allah, seperti apakah seseorang yang Engkau berikan padaku? Aku menangis sambil memeluk surat itu. Bagaimana jika nanti aku tidak bisa mencintai suamiku? Ya Allah, berikan petunjuk pada hamba.
nanti kalau ada seseorang yang melamar Ratri terima saja ya. Ayah tidak perlu meminta persetujuan Ratri lagi. Ratri akan terima apapun pilihannya
Aku menangis. Entah karena sedih, atau bahagia telah menikah diam – diam.

*** Surat dari Ayah beberapa hari lalu membuatku kepikiran. Jika suamiku sudah menyusul, kenapa sampai sekarang dia tidak mengunjungiku? Bukankah ia telah tahu alamatnya dari beliau?
Dan Mr. Gunawan itu. Ah entahlah. Bagiku dia menyebalkan. Mengapa ia seakan memberi perhatian kepadaku? Apa dia tidak tahu kalo aku ini sudah menjadi seorang istri?
Aku heran, bagaimana dia tahu namaku? Padahal aku tidak pernah berkenalan dengannya. Dan lebih menyebalkan lagi, kali ini dia juga di tempatkan bu Lia untuk membantuku mengawasi anak didiknya. Apa jangan – jangan dia sengaja mendekatiku?

Tok tok tok. Ada yang mengetok pintu kamarku.
“ada apa mbak?” tanyaku pada mbak Ratna.
Mbak Ratna ini adalah kakak Nita yang kebetulan sedang main di kost kami.
“ada tamu tuh nyariin kamu” katanya kemudian.
“tamu? Siapa mbak?”
“Ahmad”
Aku teringat surat Ayah beberapa minggu lalu. Namanya Ahmad. Deg. Aku segera menuju ruang tamu. Dan nyatalah di sana seseorang sedang duduk manis. Tapi kok dari belakang dia mirip dengan Mr. Gunawan? Apa ia memang dirinya?
Kemarin dia pernah main ingin menemuiku. Dan dia bilang namanya Ahmad. Aku tidak percaya. Mana mungkin ia mengaku – ngaku bernama Ahmad seperti suamiku. Semenjak itu aku tidak mau menemuinya lagi.

“Mr. Gunawan. Ngapain Mr kemari. Kan saya sudah pernah bilang kalau saya tidak mau bertemu pembohong seperti Mr.” kataku geram.
Saat aku hendak meninggalkannya, tiba – tiba dia sudah menarik tanganku. Kejadian itu sungguh membuatku marah.
“Ratri, aku bisa jelasin. Aku Ahmad. Anak dari Pak Amir.  Sebenarnya nama lengkapku adalah Ahmad Gunawan. Aku memang beberapa tahun mondok selain mengikuti Rohis di kampus. Kita telah menikah Ratri, aku suamimu. Dan ini buku nikah kita” Mr. Gunawan menyodorkan buku nikah itu, juga sebuah Al-qur’an sebagai maharku.

Aku segera meraih tangan suamiku. Lalu ku ciumnya dengan takzim sebagai seorang istri.
Oh Ayah, inilah dia laki – laki yang kau berikan untuk anak gadismu. Dia sopan, tapi kepadaku dia jahil Ayah, dia genit. Mohon do’akan kami Ayah, supaya kami bisa mengarungi bahtera rumah tangga dengan bahagia. Terimakasih Yah, suamiku adalah pilihan terbaikmu,, juga yang terbaik dariNya.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Numpang Nama

One thing I don't like about my work culture is 'numpang nama'. This word is used for somebody whose name is in the decision letter for implementing activities, but they didn't do their job. And this is what I am experiencing now.  Terus terang aja, aku bukan tipical orang yang pinter juga, bukan juga orang yang sosialis juga. Tapi untuk pekerjaan aku prefer aku yang kerja jika emang ada namaku di sana. Kenapa sih tiap aku nanya tuh ga pernah dapat jawaban yg puas. Giliran ada masyarakat nanya2 informasi ke aku, kan aku jadi gapunya jawabannya.  Masa ada orang jauh-jauh datang ke kantor, aku cuma jawab 'Maaf pak saya gatau' kan lucu. Bayangin kalo orang itu adalah kamu atau orang terdekatmu. Kan Bangke! Herannya tiap aku bahas tentang hal ini ga ada yang kasih pendapat positif. Seakan aku tuh cuma outsider yang ga berhak apa2.  Kalo tau kaya gini aku gausah ada namaku di sana. Dapat ilmu dan pengalamannya minim tapi giliran ada apa-apa pasti keseret namanya.  Go...

Galau 2025

 Dear Aku,  udah lama nih aku ga curhat di sini. Entahlah. Makin ke sini makin jarang banget kita ngobrol ya.. padahal kalo mau, banyak banget loh yang bisa kita diskusiin, atau sekedar ngegabut ajaa..  And yes, as you know, AMU program has been finished since July last year. Even though I didn't get a good score, I tried my best. And then I took IELTS course at UI my score remain still. 5,5 for general.  This is our first time in 2025, yeah. It's been a while. I can tell I changed a lot. I'm not a person who loves read a book, I'm not a person who likes writing a diary as well as story as I used to be. Here I am, just an average girl with tons of laziness and excuses.  Dear Love,  I just don't understand myself anymore. I don't know how to tell you. I want to be back to myself as I was a decade ago. The day that I can write anything, even just nonsensical things, imagination, or even my odd poem. I was quite ambitious back then. I had a big dream. I u...

How is class in EF

 It's been a week i took an english class in EF.  It so funny that study english with native teacher and friends all around the world. Each class consist of maximal 9 student. Because we all in the same grade (intermediate) and mostly we have not fluent speak in english, so that sometimes we need take times to thinking what is that word in english.  In the class, teacher will ask us to speak and talking with other student for some issue, and then she will correct it. It is often happen, when i talk and suddenly got stuck because i don't know how to say in eglish, and i took time for searching on google translate.  We demanded to speak constantly, so that many of us still used 'a..a..aa' and so. In the end we laugh each other. Not underestimate..   Thankfully the teacher and all of student is understand that is an issue for us. And teacher giving support and cheer we up! That is going to be really funny moment. We had a flexible class along day. Each session...