“Ratri,kamu harus segera
menikah. Ayah takut kamu nggak bisa
mendapat jodoh. Apa harus Ayah carikan untukmu, Nak?” suara parau Ayah
mengiringi penutup Al Fatihahku.
“iya Yah, bukan Ratri nggak
pingin nikah, tapi kan
Ayah tahu sendiri semua laki – laki yang melamar Ratri tidak sesuai yang Ratri
minta. Syaratnya nggak neko – neko kok Yah” aku mencoba membujuk Ayah
“iya, Ayah juga nggak maksa nduk.
Nikah itu kan ibadah jadi tidak ada paksaan dalam beribadah”
Ayah memang selalu pengertian.
Meskipun dalam kondisi apapun. Aku tahu ada nada kecewa dalam kalimat penutup
beliau tadi, tapi apa yang harus aku katakan? Aku tak mau menyakiti
perasaannya. Keinginan menimang cucu pun bukan lagi hal baru bagi keluargaku.
Kami sudah berusaha semaksimal mungkin supaya aku lekas mendapatkan jodoh.
Memang ajang pencarian jodoh itu sedikit membuahkan hasil. Beberapa anak
kenalan Ayah datang mencoba meminangku. Tapi tak satupun dari mereka yang
sesuai kriteria. Allah, harus sampai kapankah hamba menantikan seseorang itu?
Untunglah, akhir – akhir ini
beberapa Dosen menyambangiku untuk sekedar meminta bantuan memantau anak
didiknya. Jadilah aku lumayan sibuk.
Dan urusan jodoh yang sempat mengusik pikiranku beberapa waktu ini bisa sedikit
tersingkir.
”rumah ini sepi ya” kata Ayah. Oh
tidak, aku bahkan tidak menyadari bahwa Ayah masih menemaniku seusai magrib.
Beliau memang selalu begitu, tak pernah berubah.
“kan dari dulu memang sepi Yah,”
aku mencoba untuk menghibur beliau
“tapi dulu kamu masih kecil nduk,
masih bermain – main sama Ayah. Minta ini – itu. Bahkan kamu nggak rela kalo
Ayahmu ini nganggur. Sekarang kok ya sepi banget nduk” kini suara
Ayah melemah, bahkan hampir memecahkan sunyi dengan airmatanya.
Aku mengerti arah pembicaraan
Ayah. Tapi aku semakin tak berani berkata. Selama ini aku hanya membohongi
diriku sendiri. Aku selalu mengatakan bahwa kami berdua akan baik – baik saja.
Tapi ternyata tidak, setidaknya untuk Ayah.
Yah, Ratri janji akan bekerja lebih keras, supaya Ayah
bahagia.
“sini Yah, Ratri pijiin pasti Ayah
kecapean kan?”
Aku gesit mengambil balsem untuk
memijit pria terhebat di dunia itu. Dan kerapuhan itu kini jelas terlihat. Mata
cekungnya yang selalu menatap indah kepada permata hatinya, kaki yang selalu kuat berjalan puluhan kilometer
itu kini banyak di hiasi dengan urat – urat birunya. Kondisi tubuh yang terlalu
lelah membuat beliau tertidur pulas.
Kali ini aku harus lebih pandai
memanfaatkan waktu. Esok hari senin, itu berati kebersamaan dengan Ayah akan
berakhir malam ini.
*** “Ayah, makan yang banyak ya
biar sehat. Ratri bikinin sambel terong kesukaan Ayah. “tak lama sepiring nasi
penuh dengan sambal terongnya telah mentereng di depan Ayah.
“alhamdulillah , anak Ayah memang
paling pandai soal selera si tua ini”
kelakarnya keluar dengan ceria pagi itu.
“Yah” aku mencoba mengeluarkan
pemikiran tadi malam
“nanti kalau ada seseorang yang
melamar Ratri terima saja ya. Ayah tidak perlu meminta persetujuan Ratri lagi.
Ratri akan terima apapun pilihannya.”
Aku masih menunduk, sambil
menunggu reaksi dari Ayah. Sugguh ini bukan kemauanku. Tapi di sisi lain aku
tidak ingin melihat Ayah semakin kecewa karena anak gadis satu – satunya tidak
laku. Biarlah, semoga Allah memberi rencana yang lebih baik dari ini.
“kamu yakin Nak?” Ayah meyakinkan
“insya Allah Yah, bukankah Allah
tidak tidur?” kali ini aku mencoba tersenyum.
Kami berpelukan erat sekali, seperti hendak lama berpisah.
“Ratri berangkat Yah, Ayah baik –
baik di rumah ya. Assalamu’alaikum”
Kecupan di kening mengiringi
keberangkatanku pagi ini.
***”Hai Nita, Assalamu’alaikum” ukhti yang berjalan di depanku kini
menghentikan langkah
“wa’alaikumussalam warahmatullah
Ratri” ia ersenyum lalu kami berpelukan di lanjutkan cipika cipiki. Itulah
kami. Meskipun kami bekerja di kantor, tapi kebersamaan kami masih tetap
seperti waktu SMK. Kami masih sering mengikuti kajian bersama, maka jangan
heran jika semua orang di kantorku memanggil kami duo ustadzah. Hehe
“hari ini katanya ada dosen baru
loh. Katanya sih cakep. Lulusan UGM. Keren kan?” kata Nita
“oh ya” seperti biasa aku selalu
tak berselera jika perbincangan mengarah kepada kaum Adam itu.
”iya. Ya kali dia jodohmu Tri,
kan siapa tahu” Nita berbicara hati – hati
Dan aku hanya membalasnya dengan
senyum.
“selamat pagi teman – teman” Nita
menyapa seisi ruang kelas. Kami mahasiswa semester tujuh. Dan seharusnya kami
sedang sibuk menyiapkan bahan skripsi. Tapi kenapa semua cewek malah kasak
kusuk nggak jelas sih?
“Mereka
sibuk ngomongin si dosen baru itu Tri” Nita berhasil menebak pikiranku.
“good
morning every body. I have a new teacher. Please welcome Mr. Gunawan” dosen Lia tiba – tiba telah berdiri di
hadapan kami semua. Kali ini beliau tak sendiri. Seorang laki – laki berdiri
agak di belakangnya.
“Mr.
Gunawan, please introduce you’re self” beliau menyiakan dosen baru itu memperkenalkan diri.
Di saat
perkenalan singkat itulah mata elangnya bertemu degan mataku. Tidak, aku yakin
itu hanyalah kebetulan saja. Aku sesegera mungkin mengalihkan pandangan pada
buku di depanku. Dan kuliah hari itu
menjadi hari yang diam – diam meyebalkan untukku. setidaknya sampai beberapa bulan ke depan.
***
“Ratri, ada surat untukmu” Nita yang tadi pulang duluan memberikan surat itu
Aku
meraihnya.
Assalamu’alaikum.
Bagaimana
kabarmu nduk? Ayah harap kamu baik – baik saja. Kamu tenang saja, kali ini Ayah
sudah ada yang menjaga. Selamat nduk, kamu sudah resmi menjadi seorang istri.
Ayah yakin kamu akan bagga sekali dengan suamimu. Dia soleh nduk. Anaknya pak
Amir. Kemarin beliau silaturahim ke rumah.
Kami ngobrol banyak termasuk pencarian jodoh untuk kamu. Ayah lupa kalo
Pak Amir juga mempunyai seorang anak laki – laki. Dia lulusan pesantren nduk. Orangnya sederhana. Namanya Ahmad
Gunawan. Kami sepakat menikahkanmu dengannya. Al Qur’an yang selalu ia bawa
menjadi mahar untukmu.
Tapi
setelah pernikahan itu nak Ahmad ingin langsung menyusulmu. Ayah tak
bisa mencegahnya. Jadi istri yang salehah ya nduk, jangan kecewakan suamimu
karena sekarang kamu menjadi haknya. Ayah selalu mendo’akan kalian semoga
menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah, warohmah. Aamiin.
Selamat
berbahagia nduk,
Wassalamu’alaikum
wr.wb
Ayah.
Jadi sekarang statusku sebagai seorang
istri? Ya Allah, seperti apakah seseorang yang Engkau berikan padaku? Aku
menangis sambil memeluk surat itu. Bagaimana jika nanti aku tidak bisa
mencintai suamiku? Ya Allah, berikan petunjuk pada hamba.
nanti kalau ada seseorang yang melamar Ratri
terima saja ya. Ayah tidak perlu meminta persetujuan Ratri lagi. Ratri akan
terima apapun pilihannya
Aku menangis. Entah karena sedih, atau
bahagia telah menikah diam – diam.
*** Surat dari Ayah beberapa hari lalu
membuatku kepikiran. Jika suamiku sudah menyusul, kenapa sampai sekarang dia
tidak mengunjungiku? Bukankah ia telah tahu alamatnya dari beliau?
Dan Mr. Gunawan itu. Ah entahlah. Bagiku
dia menyebalkan. Mengapa ia seakan memberi perhatian kepadaku? Apa dia tidak
tahu kalo aku ini sudah menjadi seorang istri?
Aku heran, bagaimana dia tahu namaku?
Padahal aku tidak pernah berkenalan dengannya. Dan lebih menyebalkan lagi, kali
ini dia juga di tempatkan bu Lia untuk membantuku mengawasi anak didiknya. Apa
jangan – jangan dia sengaja mendekatiku?
Tok tok tok. Ada yang mengetok pintu
kamarku.
“ada apa mbak?” tanyaku pada mbak Ratna.
Mbak Ratna ini adalah kakak Nita yang
kebetulan sedang main di kost kami.
“ada tamu tuh nyariin kamu” katanya
kemudian.
“tamu? Siapa mbak?”
“Ahmad”
Aku teringat surat Ayah beberapa minggu
lalu. Namanya Ahmad. Deg. Aku segera
menuju ruang tamu. Dan nyatalah di sana seseorang sedang duduk manis. Tapi kok
dari belakang dia mirip dengan Mr. Gunawan? Apa ia memang dirinya?
Kemarin dia pernah main ingin menemuiku.
Dan dia bilang namanya Ahmad. Aku tidak percaya. Mana mungkin ia mengaku –
ngaku bernama Ahmad seperti suamiku. Semenjak itu aku tidak mau menemuinya
lagi.
“Mr. Gunawan. Ngapain Mr kemari. Kan saya
sudah pernah bilang kalau saya tidak mau bertemu pembohong seperti Mr.” kataku
geram.
Saat aku hendak meninggalkannya, tiba –
tiba dia sudah menarik tanganku. Kejadian itu sungguh membuatku marah.
“Ratri, aku bisa jelasin. Aku Ahmad. Anak
dari Pak Amir. Sebenarnya nama lengkapku
adalah Ahmad Gunawan. Aku memang beberapa tahun mondok selain mengikuti Rohis
di kampus. Kita telah menikah Ratri, aku suamimu. Dan ini buku nikah kita” Mr.
Gunawan menyodorkan buku nikah itu, juga sebuah Al-qur’an sebagai maharku.
Aku segera meraih tangan suamiku. Lalu ku
ciumnya dengan takzim sebagai seorang istri.
Oh Ayah, inilah dia laki – laki yang kau
berikan untuk anak gadismu. Dia sopan, tapi kepadaku dia jahil Ayah, dia genit.
Mohon do’akan kami Ayah, supaya kami bisa mengarungi bahtera rumah tangga
dengan bahagia. Terimakasih Yah, suamiku adalah pilihan terbaikmu,, juga yang
terbaik dariNya.
Komentar