Beberapa orang mendekati kami.
Mereka mengamati, bahkan beberapa mengambil gambar. Kemudian ada satu lagi yang
menelefon. Entah dengan siapa aku tak tahu. Tapi, setelah pembicaraan di
telepone itu selesai mereka lantas menyiapkan sesuatu. Ada yang mengeluarkan sangkar, karung, dan
seutas tali. Semuanya terlihat sibuk. Kami semakin tertarik melihat
adegan itu. Lima
orang mendekati kami dan dalam sekejap beberapa sudah berada dalam dekapan para
manusia itu. Dua temanku berhasil masuk kurungan besi berbentuk bujur sangkar
itu.
Dua orang membawa ‘tempat baru’ itu
ke dalam sebuah kendaraan berroda empat. Aku masih mengamati, tanpa
perlawanan sedikitpun. Sedangkan lima
orang lainnya juga sibuk mempersiapkan sesuatu. Rumit sekali. Satu orang
diantara mereka berteriak-teriak, sepertinya dia adalah ketua dari rombongan
tujuh manusia itu.
“Cepat tembak mereka, bodoh!”
suaranya melengking hampir menyamai letupan senjata api yang dibawanya.
Sekejap rumah kami ibarat neraka.
Hidup kami terancam. Kami berusaha mencari bantuan dengan cara melengkingkan
suara. Tapi sayang sepertinya Tuhan telah memberikan jalan lain yang buruk.
Dor dor dor. Suara itu semakin
bergemuruh di hutan Borneo ini. Kami lari
pontang-panting menuju dahan yang satu ke dahan yang lain.
“Bakar saja hutan ini. Hei kau!
Berikan aku minyak dan korek api.” Lelaki gendut itu memanggil anak buahnya.
Tempat ini semakin panas di bumbui
lolongan kami yang belum membuahkan hasil. Teman-temanku semakin banyak yang
tertangkap. Tuhan, akan mereka apakan kami? Jeritku dalam hati.
Asap hitam mengepul ke cakrawala
dan kobaran api kini semakin dekat dengan posisiku. Tidak! Aku terjebak! Di
depanku kini terhampar lautan api yang begitu mengerikan. Teman-temanku
ditawan. Jahannam!
Di tengah kebingungan itu sesuatu benda
tumpul tepat mengenai lengan kiriku.
Dor! Darah mengucur dan aku
terjerembab tak sadarkan diri.
Senja semakin menjauh ketika
persiapan-persiapan itu selesai. Aku tidak sendirian. Mobil ini semakin riuh
rendah ketika mulai berjalan meninggalkan rumah. Tidak ada pohon-tempat
bernaung dan tempat bermain kami. Di sini terlalu engap di karenakan lubang
udara tak mampu menampung oksigen terlalu banyak untuk kami. Dan keadaan begitu
gelap sehingga aku tak tahu berapa jumlah sangkar yang berhasil dipenuhi oleh
manusia tadi.
Mobil berhenti. Dari arah luar,
terdengar semacam perdebatan antara si empunya mobil dengan seseorang.
“Pak, silakan Bapak buka terpalnya,
biar saya cek apakah sesuai dengan dokumen atau tidak,” kata si orang itu.
“Masa Bapak tidak percaya dengan
dokumen yang saya bawa itu sih? Dokumen itu sudah berizin loh Pak. Bapak jangan
macam-macam.” Si empunya mobil tetap kekeh tak mau membuka terpal yang menutupi
kerangkeng-kerangkeng ini.
“Iya, saya percaya. Tapi tugas saya
di sini bukan hanya mengecek dokumennya saja, tapi barang yang dibawa pun harus
kami cocokkan dengan dokumen. Jadi, saya harap Bapak tidak mempersulit tugas
saya,” orang itu berkata lagi.
“Baiklah,” si Gendut-empunya mobil
menyerah.
Kini cakrawala mulai terbuka lebar.
Ribuan cahaya kerlap-kerlip terlihat lagi. Ah, kuharap ini di rumah. Tapi tidak
ada pohon-pohon tinggi besar di sini. Pak Kumis, orang yang menahan mobil ini
masih menatap kami. Ratusan primata langka yang akan diselndupkan ke luar
negeri. Lima
detik kemudian Pak Gendut-si empunya mobil tadi mendekat, mengajukan sebuah
tawaran yang menggiurkan untuk Pak Kumis.
“Bagaimanapun tindakan Bapak ini
sudah sangat merugikan negara,” kata Pak Kumis.
“Mana yang dirugikan, Pak. Negara
kita kaya, bukan hanya ini yang mereka punya. Toh, apa artinya kukang-kukang
ini jika dibandingkan para koruptor yang dengan sesuka hati menghabiskan uang
rakyat,” Pak Gendut tak mau kalah.
“Ya! Bapak benar. Negara kita
memang kaya, tapi macan Asia sekarang
telah mati. Dan Indonesia kini hanya seonggok nama tak berbekas dalam sebuah
lipatan buku tua. Oknum-oknum pejabat telah sewenang-wenang menimbun harta
Negara demi kekayaan pribadinya. Apalah artinya jika dibandingkan dengan kukang
ini yang tak menghasilkan apa-apa.” Pak Kumis mulai berubah fikiran.
Aku masih di dalam mobil
mendengarkan percakapan mereka. Kini nasib hidup dan matiku hanya di tangan Pak
Kumis. Apakah dia akan menyelamatkanku? Entahlah.
“Nah, bagaimana dengan tawaran
tadi? Bapak mau melepaskan saya?” Tanya Pak Gendut lagi.
“Tidak,” Pak Kumis berkata tegas.
“Lho, bagaimana sih Bapak ini. Tadi
kita kan
sudah sependapat kalau para koruptor itu lebih jahat dari kita,”
“Memang benar,”
“Lalu?”
“Saya tetap tidak akan meloloskan
primata ini.” Pak Kumis menatap Pak Gendut tajam. “Saya akan melaporkan Anda ke
pihak yang berwajib!”
“Saya tambahin 3 kali lipat,
bagaimana?” Pak Gendut masih belum putus asa.
“Bapak jangan macam-macam sama
saya, ya. Biarpun mereka masih sesuka hati mengobral uang Negara, tapi saya
tidak akan menjadi bagian dari mereka. Karena jika itu terjadi, artinya
saya tak ubahnya seperti mereka. Tidak! Saya akan berlaku jujur dan Anda tetap
akan saya laporkan.”
Pak Kumis mengambil hanpone. Tidak
berapa lama suara sirine mendekati lokasi kami. Dengan sigap para polisi itu
meringkus Pak Gendut.
“Biar pihak kami saja yang mengembalikan
primata-primata itu ke rumahnya, Pak” kata Pak Polisi.
“Baiklah, terimakasih Pak,” jawab
Pak Kumis.
Malam itu untuk sementara aku dan
teman-teman ditampung dulu di kantor kepolisian Barito. Siangnya mereka
benar-benar mengembalikan kami ke habitat asli kami. Hutan Kalimantan yang
sekarang hampir punah oleh keserakahan manusia-manusia biadab itu. Di rumah
yang kini gersang beberapa manusia masih berbaik hati mengobati luka dan
merawat kami.
Ah, mataku nanar harus menyaksikan
kenyataan yang begitu mengerikan.
Komentar