Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2014

Selayang Pandang Untuk Saudari di Negeri Seberang

Cikarang, minggu terakhir bulan April, 10.00 p.m. Di antara gantungan malam yang merindu untuk sahabatku.  Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarokatuh. Apa kabarmu mbak? Semoga selalu dalam limpahan Rahmat Allah SWT, aamiin. Mbak Ismi, aku nggak tahu kenapa tiba - tiba teringat sama mba. Mbak baik - baik saja kan?  Mbak Ismi, apa kau masih ingat sewaktu kita di semarang dulu? Apa kau masih ingat ketika kita selalu menatap pelabuhan yang berkilauan bagai lautan emas di malam hari. Apa kau juga masih ingat sewaktu kita mengeluhkan tangga - tangga itu yang terlampau tinggi? Apa kau masih menyimpannya dalam memorimu mbak? Seperti ia menghampiriku dan menari  - nari di pelupuk mataku.  Aku rindu mbak. Aku rindu pelatihan itu. Aku rindu Semarang, meski kita hanya bertahan tiga minggu di sana. Kau ingat bukan saat kita menangisi bersama hasil latihan selama tiga hari pertama di sana. Saat itu kita hampir menyerah, kita hampir yakin bahwa kita tak mungkin ...

Arti Sebuah Rupiah

Saya lahir dari keluarga yang bisa di bilang mapan. Bapak dan Ibu saya adalah petani yang tak banyak memiliki lahan. Tapi usaha, kerja keras dan do’a yang di panjatkan tidak sia – sia. Meski hasil panen tidak banyak, tapi masih cukup untuk menghidupi empat orang anggota keluarga. Seiring dengan bertambahnya waktu dan usia, semakin besar pula kebutuhan rumah tangga kami. Saya masih ingat betul ketika saya masih duduk di bangku SD rasanya semua kebutuhan dan keinginan saya terpenuhi. Dari keperluan sekolah, hingga hal – hal kecil yang sama sekali tidak penting. Menginjak SMP barulah mulai terasa adanya kebutuhan. Kebutuhan lain yang baru saya mengerti keadaannya, kebutuhan yang dari dulu tidak pernah saya anggap ada. Baru kali ini saya tahu arti makna dari gedung sekolah. Sekolah itu mahal. Sekolah itu hanya keluar duit. Baru masuk saja sudah di tagih iuran sana – sini. Dari mulai gedung sekolah lah, seragam lah, SPP lah, buku lah, dan lain sebagainya. Waktu itu saya belum b...

Surat Untuk Bapak Presiden

Di hati dan lidahmu kami berharap Suara kami tolong dengar lalu sampaikan Jangan ragu jangan takut karang menghadang Bicaralah yang lantang jangan hanya diam Bapak Presiden yang saya hormati Tentu Bapak sudah tahu sepenggal lagu di atas. Bagi kami itu bukan hanya sekedar goresan kecil pelipur lara. Kami gantungkan harapan kami, mimpi – mimpi kami kepada Anda, kepada para pemimpin kami. Apakah mereka akan tetap membiarkan mimpi kami mengabur, atau kah akan membantu kami mengejar setiap episode di dalamnya. Kami berdo’a setiap usai solat kami, akankah kami di berikan pemimpin yang adil yang dapat mengayomi kami dan anak – anak kami? Pemimpin yang bisa mendengarkan keluh kesah kami? Pemimpin yang akan mengeluarkan kami dari belenggu kemiskinan ini. Kami bosan di permainkan. Seandainya boleh kami memilih, tentu kami tidak mau menjadi kacung di tanah sendiri. Kami juga berhak hidup makmur dari kerja keras kami. Tapi apa yang selama ini kami dapat? Bukan kami menyesal memilih...

Teruntuk Sahabat

Cikarang, 27 Maret 2014 Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarokatuh Dear Tursiyah sahabatku, apa kabarmu di sana ? Semoga selalu dalam lindungan Nya, aamiin. Bagaimana kuliahmu? Semoga lancar dan kamu bisa mendapatkan nilai yang memuaskan. Aku rindu sahabat, rindu pada kenangan dulu waktu kita masih duduk di bangku SMK. Aku ingin mengerjakan PR lagi denganmu. Tapi kamu tahu kan , aku sekarang sudah bebas dari tugas – tugas menyebalkan itu. Dulu memang terasa menyebalkan. Tapi sekarang…aku rindu sekali. Aku rindu masa 4tahun silam. Saat kumpul bareng di Sekolah, maupun di kost. Begitu banyak kenangan yang membekas. Bahkan, tak ingin aku menghapus kebersamaan kita barang satu detik pun. Persahabatan ini memberiku banyak arti. Untuk berbagi bersama dalam tawa dan airmata. Untuk yang pertama kali aku mempunyai seorang sahabat yang selalu ada untukku. Dan aku telah berada pada ujung kerinduanku. Saat perkumpulan dengan teman – teman Rohis maupun Pramuka. Waktu itu kita bang...

Memilih atau golput?

Jangan pernah mengharapkan perubahan, jika diri kita sendiri tidak berubah. Saya masih tidak mengerti alasan mereka yang memilih golput / golongan putih. Apakah hanya karena keadaan carut marut negeri ini kemudian mereka tak mau berhubungan dengan hal itu? Hingar bingar dunia politik tak lantas membuat mereka sadar. Atau mungkin bahkan sebagian dari mereka akan berkelakar 'biarkan saja itu urusan mereka'. Bisakah kita berdiam diri menyaksikan kemunduran demi kemunduran yang dicapai negeri ini? 'Ah, buat apa nyoblos, mereka datang waktu butuh saja. Mereka justru tuli, bisu, dan buta saat rakyat memanggil membutuhkan uluran tangan mereka. Dimana mereka di saat rakyat membutuhkannya? Bahkan menampakkan batang hidungnya saja tidak seolah keong yang di sentuh'. Hal itu tak dapat di pungkiri dalam kehidupan. Memang fenomena itu nyata terjadi di depan mata kita sendiri. Tapi bukankah tak kan ada asap kalo tak ada api? Lho,, apa rakyat akan di salahkan lagi? Memang rakyat ...

Embun

Dalam kegamangan aku merasakan halus tubuhmu Bersih, bercahaya Walau dalam gulita malam Rupa mungilmu menyejukkan rasa ini Dingin yang hadir tak dapat goyahkan niatku 'Tuk mendekatimu Ku raih engkau dalam balutan cinta yang manja Ku genggam, tak ingin ku lepaskan Kau hanya setitik dari ribuan air di sini Tapi kau istimewa kau hadir dengan cumbu rayu dedaun itu Membuat hatiku Ingin meraih cinta sepertimu Izinkan aku mencinta Kepada Tuhan yang Maha Kuasa Karena Dia adalah segalanya Tiada daya dan upaya tanpa pertolongan Nya Cikarang, 20 March 2014

Yang Terindah

Sahabat, kau hadir ketika aku terkilir Kau menantingku ketika aku terjatuh Kau hibur di saat aku berduka Tanpamu, Aku merasa seorang diri Dalam gelap dunia fana' ini Denganmu aku damai Merasakan semilir angin Dan semua ciptaan maha Dahsyatnya Sahabatku, Terimakasih untuk semua itu Ilmu - ilmu yang kau tulis dalam secarik kertas untukku Maupun dalam pesan singkat untuk melaksanakan solat Sahabatku, Baru aku tahu apa itu ukhuwah Baru aku tahu makna hidup ini Bahwa di sini tiada yang abadi Semua 'kan kembali ke pangkuan Ilahi