Di hati dan lidahmu kami berharap
Suara kami tolong dengar
lalu sampaikanJangan ragu jangan takut karang menghadangBicaralah yang lantang jangan hanya diam
Bapak
Presiden yang saya hormati
Tentu
Bapak sudah tahu sepenggal lagu di atas. Bagi kami itu bukan hanya sekedar goresan
kecil pelipur lara. Kami gantungkan harapan kami, mimpi – mimpi kami kepada
Anda, kepada para pemimpin kami. Apakah mereka akan tetap membiarkan mimpi kami
mengabur, atau kah akan membantu kami mengejar setiap episode di dalamnya.
Kami
berdo’a setiap usai solat kami, akankah kami di berikan pemimpin yang adil yang
dapat mengayomi kami dan anak – anak kami? Pemimpin yang bisa mendengarkan
keluh kesah kami? Pemimpin yang akan mengeluarkan kami dari belenggu kemiskinan
ini.
Kami bosan
di permainkan. Seandainya boleh kami memilih, tentu kami tidak mau menjadi
kacung di tanah sendiri. Kami juga berhak hidup makmur dari kerja keras kami.
Tapi apa yang selama ini kami dapat? Bukan kami menyesal memilih mereka yang
duduk di kursi – kursi panas itu. Tapi kami menyesalkan sifat mereka yang hanya
bisa mengumbar janji – janji. Kami bosan. Adakah yang mau mendengar keluh kesah
ini selain dari leluhur kami? Raga mereka memang telah tetranam di tanah, tapi
mereka masih menyaksikan penderitaan ini. Apa yang akan di katakan beliau jika negeri yang dulu mereka perjuangkan
sekarang hanyalah menjadi ajang rebutan kekuasaan?

Komentar