Jangan pernah mengharapkan perubahan, jika diri kita sendiri tidak berubah.
Saya masih tidak mengerti alasan mereka yang memilih golput / golongan putih. Apakah hanya karena keadaan carut marut negeri ini kemudian mereka tak mau berhubungan dengan hal itu? Hingar bingar dunia politik tak lantas membuat mereka sadar. Atau mungkin bahkan sebagian dari mereka akan berkelakar 'biarkan saja itu urusan mereka'. Bisakah kita berdiam diri menyaksikan kemunduran demi kemunduran yang dicapai negeri ini?
'Ah, buat apa nyoblos, mereka datang waktu butuh saja. Mereka justru tuli, bisu, dan buta saat rakyat memanggil membutuhkan uluran tangan mereka. Dimana mereka di saat rakyat membutuhkannya? Bahkan menampakkan batang hidungnya saja tidak seolah keong yang di sentuh'.
Hal itu tak dapat di pungkiri dalam kehidupan. Memang fenomena itu nyata terjadi di depan mata kita sendiri. Tapi bukankah tak kan ada asap kalo tak ada api? Lho,, apa rakyat akan di salahkan lagi? Memang rakyat juga berperan penting dalam kemajuan bangsa Indonesia. Tentu masing - masing pihak tak mau di salahkan. Tuding - menuding dalam sebuah kasus bahkan sudah menjadi hal yang lumrah dalam setiap persoalan negeri ini. Mengapa saya menyalahkan masyarakat? Sebenarnya bukan menyalahkan. Tapi bukankah tak ada salahnya jika saya ingin mengajak kalian semua menilik ke belakang. Apa yang kita lakukan tahun - tahun sebelumnya hingga mengakibatkan pemimpin kita begitu nafsu menguasai dunia.
"jangan salahkan saya. Salahkan rakyat mengapa mereka memilih saya"
"Justru kami memilih kalian, mempercayakan kepada kalian nasib kami supaya hidup kami lebih baik. Bukan untuk menginjak dan menindas kami"
Saling lempar, saling serang antara kubu pemimpin dan kubu rakyat. Semua tak mau di salahkan. Bahkan dari zaman mausia belum di ciptakan, rencana ini membuat para malaikat protes kepada Allah.
"Dan ingatlah ketika Rabbmu berkata kepada para malaikat 'Aku akan menjadikan khalifah di bumi'. Mereka (para malaikat) berkata 'apakah Engkau akan menjadikan di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan dan menumpahkan darah di sana? Sedangkan kami senantiasa bertasbih dengan memuji dan mensucikanMu?' Allah berfirman 'Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui'"
(Al Baqarah:30)
Sungguh benar firman Allah SWT. Manusia memang suka berbuat kerusakan dan menumpahkan darah di bumi hanya demi kekuasaan. Lalu apa mereka mengira dengan kekuasaan yang telah di dapat akan membuat hidup mereka abadi? lagi - lagi Allah menjawab dengan firmanNya "Setiap yang berjiwa pasti akan mati"
Tak cukupkah dengan firman - firman Allah akan kematian yang setiap saat mengincar kita? bahkan khalifah - khalifah di muka bumi senantiasa berebut kekuasaan dan kursi - kursi panas. Apa mereka tak tahu jika jabatan itu justru yang akan menyeret mereka ke Jahannam? Na'udzubillah,,
Kita harus membuka mata dan telinga. Melihat apa yang sebenarnya sedang terjadi di tanah kelahiran kita sendiri. Masihkah kita membiarkan rakyat jadi korban atas ketidak pedulian ini? Kita semua butuh perubahan. Dari tidak peduli menjadi peduli. Dari tidak ada menjadi bersuara, dari acuh berusahalah untuk membuka mata dan telinga kita lebar - lebar. Lihatlah dunia, lihatlah sekeliling kita. Kita tidak ingin jadi korban selamanya bukan?
Pedulilah dengan bangsa ini. Karena tanpa fasilitas yang di berikanNya tak mungkin kita bisa mengecap semua keindahan ini. Memilihlah dan jadilah pemilik yang cerdas untuk bangsa Indonesia yang berkualitas.
Salam
Saya masih tidak mengerti alasan mereka yang memilih golput / golongan putih. Apakah hanya karena keadaan carut marut negeri ini kemudian mereka tak mau berhubungan dengan hal itu? Hingar bingar dunia politik tak lantas membuat mereka sadar. Atau mungkin bahkan sebagian dari mereka akan berkelakar 'biarkan saja itu urusan mereka'. Bisakah kita berdiam diri menyaksikan kemunduran demi kemunduran yang dicapai negeri ini?
'Ah, buat apa nyoblos, mereka datang waktu butuh saja. Mereka justru tuli, bisu, dan buta saat rakyat memanggil membutuhkan uluran tangan mereka. Dimana mereka di saat rakyat membutuhkannya? Bahkan menampakkan batang hidungnya saja tidak seolah keong yang di sentuh'.
Hal itu tak dapat di pungkiri dalam kehidupan. Memang fenomena itu nyata terjadi di depan mata kita sendiri. Tapi bukankah tak kan ada asap kalo tak ada api? Lho,, apa rakyat akan di salahkan lagi? Memang rakyat juga berperan penting dalam kemajuan bangsa Indonesia. Tentu masing - masing pihak tak mau di salahkan. Tuding - menuding dalam sebuah kasus bahkan sudah menjadi hal yang lumrah dalam setiap persoalan negeri ini. Mengapa saya menyalahkan masyarakat? Sebenarnya bukan menyalahkan. Tapi bukankah tak ada salahnya jika saya ingin mengajak kalian semua menilik ke belakang. Apa yang kita lakukan tahun - tahun sebelumnya hingga mengakibatkan pemimpin kita begitu nafsu menguasai dunia.
"jangan salahkan saya. Salahkan rakyat mengapa mereka memilih saya"
"Justru kami memilih kalian, mempercayakan kepada kalian nasib kami supaya hidup kami lebih baik. Bukan untuk menginjak dan menindas kami"
Saling lempar, saling serang antara kubu pemimpin dan kubu rakyat. Semua tak mau di salahkan. Bahkan dari zaman mausia belum di ciptakan, rencana ini membuat para malaikat protes kepada Allah.
"Dan ingatlah ketika Rabbmu berkata kepada para malaikat 'Aku akan menjadikan khalifah di bumi'. Mereka (para malaikat) berkata 'apakah Engkau akan menjadikan di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan dan menumpahkan darah di sana? Sedangkan kami senantiasa bertasbih dengan memuji dan mensucikanMu?' Allah berfirman 'Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui'"
(Al Baqarah:30)
Sungguh benar firman Allah SWT. Manusia memang suka berbuat kerusakan dan menumpahkan darah di bumi hanya demi kekuasaan. Lalu apa mereka mengira dengan kekuasaan yang telah di dapat akan membuat hidup mereka abadi? lagi - lagi Allah menjawab dengan firmanNya "Setiap yang berjiwa pasti akan mati"
Tak cukupkah dengan firman - firman Allah akan kematian yang setiap saat mengincar kita? bahkan khalifah - khalifah di muka bumi senantiasa berebut kekuasaan dan kursi - kursi panas. Apa mereka tak tahu jika jabatan itu justru yang akan menyeret mereka ke Jahannam? Na'udzubillah,,
Kita harus membuka mata dan telinga. Melihat apa yang sebenarnya sedang terjadi di tanah kelahiran kita sendiri. Masihkah kita membiarkan rakyat jadi korban atas ketidak pedulian ini? Kita semua butuh perubahan. Dari tidak peduli menjadi peduli. Dari tidak ada menjadi bersuara, dari acuh berusahalah untuk membuka mata dan telinga kita lebar - lebar. Lihatlah dunia, lihatlah sekeliling kita. Kita tidak ingin jadi korban selamanya bukan?
Pedulilah dengan bangsa ini. Karena tanpa fasilitas yang di berikanNya tak mungkin kita bisa mengecap semua keindahan ini. Memilihlah dan jadilah pemilik yang cerdas untuk bangsa Indonesia yang berkualitas.
Salam
Komentar