Cikarang, minggu terakhir bulan April, 10.00 p.m.
Di antara gantungan malam yang merindu untuk
sahabatku.
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarokatuh.
Apa kabarmu mbak? Semoga selalu dalam limpahan Rahmat
Allah SWT, aamiin. Mbak Ismi, aku nggak tahu kenapa tiba - tiba teringat sama
mba. Mbak baik - baik saja kan?
Mbak Ismi, apa kau masih ingat sewaktu kita di semarang
dulu? Apa kau masih ingat ketika kita selalu menatap pelabuhan yang berkilauan
bagai lautan emas di malam hari. Apa kau juga masih ingat sewaktu kita
mengeluhkan tangga - tangga itu yang terlampau tinggi? Apa kau masih
menyimpannya dalam memorimu mbak? Seperti ia menghampiriku dan menari -
nari di pelupuk mataku.
Aku rindu mbak. Aku rindu pelatihan itu. Aku rindu
Semarang, meski kita hanya bertahan tiga minggu di sana. Kau ingat bukan saat
kita menangisi bersama hasil latihan selama tiga hari pertama di sana. Saat itu
kita hampir menyerah, kita hampir yakin bahwa kita tak mungkin menaklukan jarum
- jarum itu. Tapi kau kemudian bangkit dan menyemangati kami. Kau ingat bunga -
bunga di halaman asrama itu? Indah bukan? Tapi sayangnya banyak tahi kucing
yang berserakan di mana - mana. Sungguh itu membuat rusak suasana halaman yang
sudah terkemas rapi.
Mbak, meski kau sudah berada jauh disana, di dalam gedung
- gedung pencakar langit negeri seberang, masihkan kau mengingatku? Masihkan
kau ingat keletihan mempersiapkan lamaran untuk ke PAN BROTHER? Kita lelah
menyisir jalan curam itu. Tapi bagiku selalu menyenangkan bila mengingat memori
kita tempo dulu.
Mbak, banyak yang berubah dalam hidupku sekarang. Aku
yakin begitu pun denganmu. Aku merindukanmu mbak, aku ingin menatap langit kota
Semarang lagi. Bersamamu, bersama Bandhu, Mae. Berempat.
Masih adakah kertas - kertas yang bolong bekas jarum itu?
Masihkan ada cekris dan meteran itu? Bahkan punyaku telah hilang. Tak becus
bukan? Aku ingin menyusulmu ke sana. Ke negeri seberang, negeri yang aku
mimpikan bisa mengunjunginya. Tapi aku tak kan bisa, meski hanya sebagai
penghibur dalam mimpi.
Mungkin asrama itu kini sudah berbeda dengan sewaktu kita
di sana dulu. Kau ingat, ketika mentari muncul di kaki langit, kita telah
bersiap apel, bahkan kita selalu menyempatkan duduk di tepian lereng menghadap
pelabuhan itu. Kita bersenandung ria, tertawa bersama seolah kita lah orang
paling bahagia di asrama itu :)
Aku bahkan masih bisa mendengar canda itu dari jauh, di
kota Cikarang ini. Masihkah kau mendengarnya dari jauh di situ?
Rindukah kau dengan semua itu mbak? Aku sangat rindu.
Andaikan ada mesin waktu, tentu aku memilih bahwa hari ini adalah tanggal 30
Mei 2012, hari pertama aku mengenalmu, hari pertama kita menginjakkan kaki di
kota Semarang. Aku bahagia menganalmu mbak, aku bahagia bisa mengenang
kebersamaan kita. Meski tak ada satu lembar foto yang ku punya.
Hey, aku masih ingin kemabali memandang pelabuhan itu,
juga mercusuar - mercusuar yang menampakkan kemegahannya. Aku masih ingin
menjemput fajar di kaki langit Semarang, mengantar senja bersama kalian. Namun
entah kapan waktu akan menjawab semua itu.
Terimakasih mbak, terimakasih Mae, Bandhu, dan teman -
teman semua yang telah berkenan menjadi bagian dari kenangan itu.
Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarokatuh.
Salam..
Komentar