Saya lahir dari keluarga yang bisa
di bilang mapan. Bapak dan Ibu saya adalah petani yang tak banyak memiliki
lahan. Tapi usaha, kerja keras dan do’a yang di panjatkan tidak sia – sia.
Meski hasil panen tidak banyak, tapi masih cukup untuk menghidupi empat orang
anggota keluarga.
Seiring dengan bertambahnya waktu
dan usia, semakin besar pula kebutuhan rumah tangga kami. Saya masih ingat
betul ketika saya masih duduk di bangku SD rasanya semua kebutuhan dan
keinginan saya terpenuhi. Dari keperluan sekolah, hingga hal – hal kecil yang
sama sekali tidak penting.
Menginjak SMP barulah mulai terasa
adanya kebutuhan. Kebutuhan lain yang baru saya mengerti keadaannya, kebutuhan
yang dari dulu tidak pernah saya anggap ada.
Baru kali ini saya tahu arti makna
dari gedung sekolah. Sekolah itu mahal. Sekolah itu hanya keluar duit. Baru
masuk saja sudah di tagih iuran sana – sini. Dari mulai gedung sekolah lah,
seragam lah, SPP lah, buku lah, dan lain sebagainya.
Waktu itu saya belum berfikir
hendak membantu orangtua. Toh saya masih kecil. Dan kewajiban orangtua lah
membiayai pendidikan anaknya.
Tetapi setelah satu tahun cara
berfikir saya mulai berbeda. Perbedaan itu tak lain adalah ketika waktu ujian
semester tiba. Bapak jadi terlihat sering frustasi. Ibu, meskipun beliau
orangnya pendiam, tapi tetap saja terlihat seperti orang yang selalu berfikir
keras untuk tetap menyekolahkan saya. Bahkan Ibu beberapa kali bercerita bahwa
beliau belum punya uang untuk membayar SPP saya yang selalu menunggak.
Semenjak masuk SMP keluarga saya
agak berubah. Tapi saya sadari, orangtua saya semakin bekerja keras. Ahh
kasihan sekali mereka. Hidupnya selalu saja mengejar uang. Di balik itu saya
selalu yakin orangtua saya menyimpan harapan yang besar terhadap saya. Harapan
supaya hidup saya tidak seperti mereka.
“nak, kamu harus belajar yang rajin
dan menghormati orangtua supaya ilmunya berkah, supaya besok bisa kuliah, dan
supaya kamu bisa mengejar cita – cita kamu.
Besok kamu jangan sampai jadi
petani seperti bapak. Jadilah orang sukses yang di pandang masyarakat, di
hormati, di segani. Jadi petani itu susah. Kita menjual barang pasti dengan
harga murah, tapi kalo membeli barang pasti di kasih harga yang mahal. Sekarang
pemerinta itu semakin mencekik kita nak”.
Saya yang awalnya tidak begitu
memperhatikan justru kini pasrah dengan melelehnya airmata. Meski tak nampak,
hati saya terasa sangat sesak waktu itu. Kini hati saya mulai terbuka. Bukan
hanya memikirkan diri sendiri tetapi juga memikirkan orang lain, orangtua saya
sendiri.
Alhamdulillah, memasuki kelas 9,
wali kelas saya memberikan penghargaan dalam bentuk uang kepada murid –
muridnya yang berprestasi. Memang jumlah yang di berikan tak seberapa dengan
jumlah tunggakan SPP saya. Tapi setidaknya uang itu bisa di gunakan untuk mengurangi
beban orangtua saya. Saya masih terus berusaha meraih nilai yang terbaik
seperti pesan bapak, walaupun usaha saya tak sepenuhnya berhasil.
Memasuki Sekolah Menengah Kejuruan
saya mulai tahu arti sebuah rupiah. Kebetulan di sekolah saya ada mata
pelajaran kewirausahaan yang bertujuan mendorong siswa – siswinya berfikir
untuk mencetak uang. Di sinilah kami, para murid SMK di gembleng untuk berfikir
tentang uang. Terlebih jurusan yang saya ambil adalah Akuntansi. Jadilah dua
pelajaran itu sambung menyambung membentuk rangkaian masa depan dan masa kini. Kini,
dalam artian kita harus melakukan apa dalam jangka pendek dan besok sehingga
kita tidak melulu bergantung dengan orang lain.
Mulailah kami di jejali dengan
praktek – praktek yang berbau uang. Dari membuat lanting (makanan khas daerah
kami), cendol / dawet sampai berusaha menjual makanan itu kepada bapak Ibu guru
besarta murid – murid lainnya.
Ternyata tak semudah yang saya
bayangkan. Kebanyakan dari mereka justru ragu membeli produk kami. Kami
menghargai keraguan mereka. Lah iya, kami ini masih amatiran, masa iya mereka
mau membuang uang demi makanan yang belum tentu lezat ini? Terlebih Pak Nur
Cholid yang menilai semua hasil karya kami memberikan ekspresi yang tidak bisa
di ungkapkan dengan kata – kata. Hehe…
Ahh, sebuah pengalaman yang sangat
berharga. Yang mungkin tak akan saya dapatkan seandainya saya tidak terdampar
di sekolah ini. Tentu ini baru permulaan. Kami tak boleh putus asa. Kami harus
bekerja keras, bekerja tuntas dan apalah hal lain dalam teori yang kami
pelajari sebagai wirausahawan.
Terasa sudah perjuangan orangtua
saya. Dari tetes keringat mereka saya bisa kuliah. Karena kerja keras mereka
saya bisa masuk ke sekolah ini. Terimakasih Bapak, Ibu karena tetes keringat
dan airmata mu kini aku bisa seperti ini.
Dari pelajaran selama dua tahun itu
saya mulai mencari peluang yang tepat di sekolah dan di kost. Kebetulan mbak
Resti kakak kelas saya mulai berjualan kue basah. Meskipun modal awal waktu itu
hanya sekita sepuluh ribu rupiah. Dari sana saya juga mulai tertarik berjualan
kue. Ya itung – itung mengamalkan apa yang sudah dua tahun ini saya pelajari.
Kami berdua berangkat ke pasar pagi
di Kebumen. Saya ingat betul, waktu itu saya belum mandi karena memang belum
kebagian jatah mandi. Saya berangkat sama mba Resti menggunakan dua sepeda yang
kami pinjam dari ibu Kost.
Dengan tak di sangka, penjualan
kami hari pertama nyaris habis di kontrakan sendiri. Alhamdulillah hati yang
awalnya ragu semakin mantap stelah di bayar oleh penjualan pertama hari itu. Mulai
hari itu saya semakin bersemangat berjualan kue, dan setiap pagi pula kami
berangkat dari kost menuju ke pasar. Untung yang kami dapatkan meski begitu
kecil tapi cukup membuat bangga untuk anak seusia kami yang relative masih muda
J.
Berawal dari kisah kami berdua,
anak – anak yang lain satu per satu meminta izin kepada kami untuk ikut
berjualan. Satu sisi memang akan merugikan kami sebagai penjual karena kami
akan kehilangan pelanggan. Tapi di sisi lain, kegiatan mereka yang baru ini
juga akan melatihnya menjadi seorang wirausahawan. Alhasil, kini setiap pagi
semakin ramai anak - anak yang ke
pasar. Bahkan beberapa yang tidak kebagian jadwal tidak sungkan nitip kepada kami.
Saya bangga dengan kekompakan teman
– teman semua. Meskipun satu kost menjadi penjual (kurang lebih yang bejualan
ada 10 orang) tapi kami masih bisa saling berbagi.
Hari ini kurang lebih dua tahun
yang lalu ketika kisah itu terjadi.
Dan masih saja melekat dalam memori
ini. Indahnya sebuah persahabatan tidak di ukur dengan uang, tapi dengan
keharmonisan dan ketulusan untuk bersama dalam suka dan duka. Terimakasih
sahabat, terimakasih kawan dekat.
Spesial untuk teman – teman di
sana. Tursiyah, Bandhu, Suparti, mba Atun, mba Resti, Robi, mba Silvi, dan adik
– adik kami yang (selalu) menganggu waktu belajar kami hehe J
Sukses untuk kita semua. Aamiin ya
Rabbal ‘Alamiin.

Komentar