Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2014

Antara Bus Antarkota

Antara kota kelahiran dan perantauan Tersembunyi kisah yang tak perlu di asah Diantara desingan bus antarkota Tersimpan rindu yang sempat kelabu Rindu itu,, Masih tetap utuh untukmu ayah Engkau tetap jadi juara di hati ini Ayat – ayat suci yang kau lantunkan itu Selalu mengingatkanku tentangmu Rindu ini,, Masih utuh untukmu Ibu Kaulah penakluk sang waktu Rindu ini masih untukmu Tetaplah menjadi pemilik hati ini Singgasana yang tak pernah usang di makan zaman Meski nanda di rantau orang Di antara desingan bus antarkota ini Ingin ku tulis semua rinduku Biar dunia tahu Rinduku, rindu kelabu Hai, kampungku kampung halaman Dengarlah rintihan hati ini Tak kan lama kau ‘ku tinggalkan Secepat hari nanti ku ‘ kan kembali Membungkus impian di kampung halaman Cikarang, 20 maret 2014

kemurkaan

Dimana kutemukan lagi tanah berlumpur Dimana ku miliki lagi kerbau pilihan? Jika semua milik negeri ini engkau ambil Demi kepentingan pribadimu Bakar! Banjir! Topan! Dan semua yang mewarnai hidup kita Dan bersenang senang lah dengan uang kami Tertawalah meski di atas penderitaan kami Biar kamu puas Kami tak butuh semua janjimu Tak butuh semua kebaikanmu Kami melihat walau dengan kebodohan kami Kami mendengar walau tanpa telinga kami Bedebah! Bubar sudah Negara ini Tak lagi rela kau injak kami begini Duhai Tuhan kami Binasakan saja kami semua Agar tak ada lagi dosa yang sia-sia Selamatkan kami Tuhan Dari mereka Penguasa yang tak punya hati Jagalah kami, juga negeri kami Agar bisa berjaya kembali

sang bintang

Jika saja aku dapat menggapaimu, bintang Pasti aku selalu menggelayut manja Di pangkuanmu Di antara peraduan malam Namun aku hanya bisa menatap betapa indah sinar yang kau pancarkan Tubuhmu mungil Kau pun kalah dengan gugusan galaxy Yang bersimfoni di atas sana Tapi kau tetap jadi simbol kehidupan Bintang,, Izinkan aku 'tuk slalu menatapmu Meski semakin redup cahaya itu Tapi kau tetaplah bintangku Cikarang, 14 Maret 2014

16th '13 March in memories

Hari ini tepat satu tahun yang lalu ketika sebuah jarum suntik dengan leluasa menusuk – nusuk lengan dan tangan saya. Tak hanya itu saja. Beberapa kali dokter mengambil sample darah saya untuk di cek. Kebencian terhadap jarum semakin membuncah. Kenapa harus ada jarum – jarum mengerikan itu di sini. Sungguh. Jika saja masih ada pilihan lain, tentu saya akan mengambil jalan itu. Bukan ini.   Tuhan, harus seperti ini kah jalan ku. . Dua hari saya masih leluasa memakan apapun. Bahkan dokter pun menganjurkan saya makan yang banyak. Tetapi, untuk melanjutkan ke puncak, saya harus di transfuse darah. Dokter bilang saya darah rendah, dan saya harus menambah 2 kantong darah. Lebih menakutkan lagi, rumah sakit tempat saya di rawat sedang kekosongan darah golongan O. itu berarti jika saya tidak mendapatkan orang yang mau mendonorkan darah, saya akan lebih lama tinggal di sini. Berbagai cara kami lakukan untuk mendapatkan darah itu. Warga kampung saya yang rata - rata  tidak pernah m...
hal yang terpenting dari kehidupan dunia, bukan seberapa lama kita hidup, bukan setinggi apa jabatan dan harta yang dpt kita tumpuk, bukan seberapa banyak orang mengenal kita, tapi seberapa banyak orang bahagia karena mengenal kita. kenali diri sendiri maka kita akan mengenal Dia sebagai cinta yang sesungguhnya.

TETANGGA MENYEBALKAN DEPAN RUMAH

Aku ingin menghayal saja. Sebab tak mungkin dua orang menyebalkan di depan rumah akan nyata hadir dalam hidup. Biarlah mereka tebang kesana kemari dalam sebuah alur yang telah kubuat di dalamnya. Hingga mereka tak bisa melepaskan diri dari belenggu cerita. Namaku Ve. Aku tinggal di sebuah daerah industri kota kecil. Tepat di depan rumah ada dua orang laki – laki yang sangat menyebalkan. Sebut saja mereka dengan sebutan yang membuatmu lega. Sbab aku pun belum pernah berkenalan. Ya, selama aku tinggal di sini, kami memang belum pernah bertegur sapa. Maklum, jam kerja kami berbeda, sehingga amatlah jarang kami bertemu, walau di hari libur. Jujur saja aku memang ingin mengenal dua pria itu. Bukan karena wajahnya yang ruapawan. Tapi karena mereka berasal dari kota yang sama denganku. Dan aku memang sedang dalam sayembara mencari teman. Mungkin karena rupaku jelek sehingga mereka enggan menyapa? Atau ada hal lain yang membuatku sangat kesal karena sampai saat ini mereka belum menu...

Ayah, aku merindukan mu

ayah, aku merindukanmu hadirmu sebagai pelindungku kasihmu tak dapat ku pertanyakan lagi ayah, aku merindukanmu meski tak pernah ada canda meski jarang kau berbalut tawa meski hanya kain usang yang dapat kau berikan ayah, aku merindukanmu aku merindukan sikap dinginmu rindu yang kurangkai tak dapat mewakili kehadiran dirimu ayah, bila nanti waktu kan memberi kuasanya aku ingin tiada jarak antara kita biar sekarang kita jauh asal hati tak pernah jauh ayah, aku merindukanmu

BAKAR SAJA KETEKNYA

Gue ga habis pikir kenapa orang-orang yang jadi sopir pribadi gue ga pada betah. Bayangkan aja masa baru sebulan ini udah ganti sopir 3 kali. Terus aneh juga perilakunya. Gue inget waktu itu sopir gue bernama Sukirman. Pak Sukirman ini Cuma tahu jalan daerah Blok M doing, jadi kalo gue mau pergi pasti dia nanya “ kalo dari Blok M ke mana bang” .Huft repot banget kan kalo punya sopir kaya gitu. Untungnya dia ga lama kerja di rumah gue. Sempet aja gue ngayalin dia jadi perampok lalu ketangkep polisi. Sama polisi dia mungkin akan di nasehati “kamu harus kembali ke jalan yang benar” gue pastiin dia pasti nanya “jalan yang benar dari Blok M ke mana ya pak?” Setelah pak Sukirman keluar nyokap nyari lagi Sopir buat gue. Namanya pak Wartono. Orangnya berkumis tebal, dan kulitnya hitam. Bisa di bayangin kan kayak apa sangarnya dia. Setelah ngobrol ngobrol sebentar ternyata gue salah persepsi tentang Pak Wartono ini. Di balik wajahnya yang sangar tersembunyi sikapnya yang lemah lembut juga...