Hari ini tepat satu
tahun yang lalu ketika sebuah jarum suntik dengan leluasa menusuk – nusuk
lengan dan tangan saya. Tak hanya itu saja. Beberapa kali dokter mengambil
sample darah saya untuk di cek. Kebencian terhadap jarum semakin membuncah.
Kenapa harus ada jarum – jarum mengerikan itu di sini. Sungguh. Jika saja masih
ada pilihan lain, tentu saya akan mengambil jalan itu. Bukan ini. Tuhan, harus seperti ini kah jalan
ku..
Dua hari saya masih
leluasa memakan apapun. Bahkan dokter pun menganjurkan saya makan yang banyak.
Tetapi, untuk melanjutkan ke puncak, saya harus di transfuse darah. Dokter
bilang saya darah rendah, dan saya harus menambah 2 kantong darah. Lebih
menakutkan lagi, rumah sakit tempat saya di rawat sedang kekosongan darah
golongan O. itu berarti jika saya tidak mendapatkan orang yang mau mendonorkan
darah, saya akan lebih lama tinggal di sini. Berbagai cara kami lakukan untuk
mendapatkan darah itu. Warga kampung saya yang rata - rata tidak pernah
megecek darahnya, menjadi masalah baru. Mereka memang bersedia mendonorkan
darah untuk saya, tapi….
Tidak ada yang cocok.
Saya harus berusaha
lagi. Iseng – iseng saya update status di facebook. Mungkin saja ada dari
ratusan teman di sana yang
bisa berbagi dengan saya. Memang ada beberapa yang sms menawarkan bantuan tapi
akhirnya saya sendiri yang merasa tidak enak hati kepada orang tersebut. Saya
merasa terlalu merepotkan. Dan darahpun belum saya dapatkan.
Semua tentu sangat
resah, terlebih orangtua saya. Kasihan sekali mereka karena sampai saat ini
masih saja saya buat repot. Orangtua mana yang tak bersedih ketika anak perempuan
satu – satunya terserang penyakit yang serius? Kegundahan, kekhawatiran itu
masih tergambar jelas dalam ingatan saya.
Beberapa tetangga mulai
berdatangan menjenguk. Antara kasihan dan kagum beberapa terucap dari komentar
mereka.
“kamu lah kok bisa –
bisa nya memendam sakit sampai separah itu?”
“masih kecil kok sudah
terkena penyakit begituan? Kasihan sekali, baru belajar merantau sudah harus
pulang lagi”
Saya hanya tersenyum
kecut. Ya, seandainya saja ada mesin waktu, tentu saya memilih mengulangi kejadian
beberapa tahun lalu. Supaya saya bisa memeriksakan diri ke puskesmas jika
muncul gangguan di tubuh. Ahh, yang lalu biarlah berlalu..
Entah bagaimana tiba –
tiba Bapak sudah membawa 2 kantong darah untuk saya.
Giliran saya yang di
dera rasa takut. Beribu andai – andai terus beterbangan di fikiran saya kala
itu. Ingin kabur saja, tak mau menghadapi operasi. Tapi mau bagaimana lagi?
Haruskah saya mengecewakan orangtua saya lagi??
***
16 Maret 2013
Mulai hari ini saya di
wajibkan puasa oleh tim dokter. Puasa di mulai setelah sarapan pagi. Saya ingat
betul, waktu itu hanya setengah porsi makanan yang masuk.
Jarum jam seakan macet
sampai di sini. Ahh.. hal itu semakin memperkuat ketakutan saya. Beberapa kali
dokter melakukan USG dan nampaklah benjolan – benjolan itu bersarang di perut.
Sesuai janji dokter,
jam dua nanti saya harus operasi. Jadi subuh dan dhuhur masih bisa saya lakukan
meskipun dengan jarum infuse. Saya memohon jika ini hari terakhir saya hidup,
mudah – mudahan Allah mengampuni dosa saya selama ini. Membahagiakan orangtua
saya, dan dijadikan kami
anak yang soleh solehah..
Jika ini adalah cobaan
kecil untuk saya, semoga di beri kekuatan dan kesabaran untuk melaluinya.
Aamiin
Semuanya terlihat
tegang. Terlebih Ibu yang kelihatan ingin menangis. Tapi saya tahu Ibu orang
yang tegar. Beliau pantang menangis di depan putrinya. Gusti, tak berartinya
diri saya kala itu. Maafkan nanda Bu, belum bisa membahagikan Ibu. Justru
selalu saja merepotkan dan membuatmu sakit.. maafkan.. do’akan juga jika ini
menjadi jalan untuk kepergian anakmu..
02.00 pm
Saya sudah siap
memasuki ruang itu. Ada rasa malu karena saya masuk hanya
dengan pakaian yang di kasih tim dokter. Udara dingin AC langsung menyambut
saya, di ikuti oleh lampu – lampu yang menyala satu per satu. Saya di arahkan
untuk rileks supaya dokter dapat menyuntikkan obat bius dengan tepat. Saya
pasrah. Beberapa saat terbaring, saya merasa jari kaki saya perlahan mengeras
dan tak bisa di gerakkan. Rasanya obat bius itu sudah bereaksi sampai ke
tangan. Saya masih tersadar waktu itu. Hanya saja saya tidak merasakan sakit.
Saya dapat melihat bagaimana gesitnya para dokter dalam menangani saya.
04.00 pm
Ruang ICU ini menjadi
tempat penampungan saya setelah ruang operasi. Ada dua orang termasuk saya. Satunya
seorang nenek yang juga penderita kista seperti saya, tapi bedanya kista nenek
itu sudah sampai pada rahim. Kami tidak mengobrol karena memang waktu itu sakit
yang luar biasa kembali menghampiri. Efek obat bius yang telah habis.
Kata suster saya harus
menekuk kaki dan memiringkan badan saya. Bagaimana mungkin? Efek sakit ini
membuat saya hampir putus asa.
Beberapa kali saya
merasakan sesak nafas. Dokter lagi – lagi mengambil darah saya. Hb normal yang
harus di miliki adalah 9. tapi lagi – lagi hanya 7 yang mampir di tubuh saya.
Perkiraan dokter, saya
hanya butuh 2 kantong. Tapi setelahnya ternyata saya masih harus di transfuse 1
kantong lagi. Malam pertama ini ibarat siksaan bagi saya. Kehausan karena sejak
jam 7 pagi saya belum makan dan minum apa – apa. Dan sekarang sudah jam 12
malam saya belum juga di kasih minum.
Saya menambah daftar
bon dengan tiga tabung oksigen dalam semalam. Jam 4 pagi baru lah saya bisa
tertidur dengan keadaan yang sama. Kelaparan dan haus.
***
Tiga hari hanya bisa
minum. Bayangkan saja. Dalam sekejap berat badan saya turun 3kg.
Perlahan kesehatan
mulai membaik, alhamdulillah. Berkat do’a dan dukungan semua pihak saya bisa
sembuh, meskipun harus ada luka yang tertinggal.
Semua merupakan
pelajaran bagi saya. Sakit yang hanya di kira biasa ternyata akan besar
akibatnya. .
Rabbi, terimakasih
telah memberikan teman – teman yang baik, keluarga yang peduli, dan sahabat
yang selalu ada. Engkau jauh di atas segalanya.
Ampuni dosa – dosa kami
dan jadikanlah hidup ini penuh Rahmat dan Hidayah Mu. Aamiin.
Komentar