Langsung ke konten utama

16th '13 March in memories

Hari ini tepat satu tahun yang lalu ketika sebuah jarum suntik dengan leluasa menusuk – nusuk lengan dan tangan saya. Tak hanya itu saja. Beberapa kali dokter mengambil sample darah saya untuk di cek. Kebencian terhadap jarum semakin membuncah. Kenapa harus ada jarum – jarum mengerikan itu di sini. Sungguh. Jika saja masih ada pilihan lain, tentu saya akan mengambil jalan itu. Bukan ini. Tuhan, harus seperti ini kah jalan ku..

Dua hari saya masih leluasa memakan apapun. Bahkan dokter pun menganjurkan saya makan yang banyak. Tetapi, untuk melanjutkan ke puncak, saya harus di transfuse darah. Dokter bilang saya darah rendah, dan saya harus menambah 2 kantong darah. Lebih menakutkan lagi, rumah sakit tempat saya di rawat sedang kekosongan darah golongan O. itu berarti jika saya tidak mendapatkan orang yang mau mendonorkan darah, saya akan lebih lama tinggal di sini. Berbagai cara kami lakukan untuk mendapatkan darah itu. Warga kampung saya yang rata - rata  tidak pernah megecek darahnya, menjadi masalah baru. Mereka memang bersedia mendonorkan darah untuk saya, tapi….

Tidak ada yang cocok.

Saya harus berusaha lagi. Iseng – iseng saya update status di facebook. Mungkin saja ada dari ratusan teman di sana yang bisa berbagi dengan saya. Memang ada beberapa yang sms menawarkan bantuan tapi akhirnya saya sendiri yang merasa tidak enak hati kepada orang tersebut. Saya merasa terlalu merepotkan. Dan darahpun belum saya dapatkan.

Semua tentu sangat resah, terlebih orangtua saya. Kasihan sekali mereka karena sampai saat ini masih saja saya buat repot. Orangtua mana yang tak bersedih ketika anak perempuan satu – satunya terserang penyakit yang serius? Kegundahan, kekhawatiran itu masih tergambar jelas dalam ingatan saya.
Beberapa tetangga mulai berdatangan menjenguk. Antara kasihan dan kagum beberapa terucap dari komentar mereka.

“kamu lah kok bisa – bisa nya memendam sakit sampai separah itu?”
“masih kecil kok sudah terkena penyakit begituan? Kasihan sekali, baru belajar merantau sudah harus pulang lagi”

Saya hanya tersenyum kecut. Ya, seandainya saja ada mesin waktu, tentu saya memilih mengulangi kejadian beberapa tahun lalu. Supaya saya bisa memeriksakan diri ke puskesmas jika muncul gangguan di tubuh. Ahh, yang lalu biarlah berlalu..

Entah bagaimana tiba – tiba Bapak sudah membawa 2 kantong darah untuk saya.
Ada sedikit harapan ketika itu. Karena sebentar lagi saya masuk ke ruang operasi.
Giliran saya yang di dera rasa takut. Beribu andai – andai terus beterbangan di fikiran saya kala itu. Ingin kabur saja, tak mau menghadapi operasi. Tapi mau bagaimana lagi? Haruskah saya mengecewakan orangtua saya lagi??

***
16 Maret 2013
Mulai hari ini saya di wajibkan puasa oleh tim dokter. Puasa di mulai setelah sarapan pagi. Saya ingat betul, waktu itu hanya setengah porsi makanan yang masuk.

Jarum jam seakan macet sampai di sini. Ahh.. hal itu semakin memperkuat ketakutan saya. Beberapa kali dokter melakukan USG dan nampaklah benjolan – benjolan itu bersarang di perut.

Sesuai janji dokter, jam dua nanti saya harus operasi. Jadi subuh dan dhuhur masih bisa saya lakukan meskipun dengan jarum infuse. Saya memohon jika ini hari terakhir saya hidup, mudah – mudahan Allah mengampuni dosa saya selama ini. Membahagiakan orangtua saya, dan dijadikan  kami anak yang soleh solehah..
Jika ini adalah cobaan kecil untuk saya, semoga di beri kekuatan dan kesabaran untuk melaluinya. Aamiin

Semuanya terlihat tegang. Terlebih Ibu yang kelihatan ingin menangis. Tapi saya tahu Ibu orang yang tegar. Beliau pantang menangis di depan putrinya. Gusti, tak berartinya diri saya kala itu. Maafkan nanda Bu, belum bisa membahagikan Ibu. Justru selalu saja merepotkan dan membuatmu sakit.. maafkan.. do’akan juga jika ini menjadi jalan untuk kepergian anakmu..

02.00 pm

Saya sudah siap memasuki ruang itu. Ada rasa malu karena saya masuk hanya dengan pakaian yang di kasih tim dokter. Udara dingin AC langsung menyambut saya, di ikuti oleh lampu – lampu yang menyala satu per satu. Saya di arahkan untuk rileks supaya dokter dapat menyuntikkan obat bius dengan tepat. Saya pasrah. Beberapa saat terbaring, saya merasa jari kaki saya perlahan mengeras dan tak bisa di gerakkan. Rasanya obat bius itu sudah bereaksi sampai ke tangan. Saya masih tersadar waktu itu. Hanya saja saya tidak merasakan sakit. Saya dapat melihat bagaimana gesitnya para dokter dalam menangani saya.

04.00 pm
Ruang ICU ini menjadi tempat penampungan saya setelah ruang operasi. Ada dua orang termasuk saya. Satunya seorang nenek yang juga penderita kista seperti saya, tapi bedanya kista nenek itu sudah sampai pada rahim. Kami tidak mengobrol karena memang waktu itu sakit yang luar biasa kembali menghampiri. Efek obat bius yang telah habis.
Kata suster saya harus menekuk kaki dan memiringkan badan saya. Bagaimana mungkin? Efek sakit ini membuat saya hampir putus asa.
Beberapa kali saya merasakan sesak nafas. Dokter lagi – lagi mengambil darah saya. Hb normal yang harus di miliki adalah 9. tapi lagi – lagi hanya 7 yang mampir di tubuh saya.

Perkiraan dokter, saya hanya butuh 2 kantong. Tapi setelahnya ternyata saya masih harus di transfuse 1 kantong lagi. Malam pertama ini ibarat siksaan bagi saya. Kehausan karena sejak jam 7 pagi saya belum makan dan minum apa – apa. Dan sekarang sudah jam 12 malam saya belum juga di kasih minum.
Saya menambah daftar bon dengan tiga tabung oksigen dalam semalam. Jam 4 pagi baru lah saya bisa tertidur dengan keadaan yang sama. Kelaparan dan haus.

*** 
Tiga hari hanya bisa minum. Bayangkan saja. Dalam sekejap berat badan saya turun 3kg.
Perlahan kesehatan mulai membaik, alhamdulillah. Berkat do’a dan dukungan semua pihak saya bisa sembuh, meskipun harus ada luka yang tertinggal.

Semua merupakan pelajaran bagi saya. Sakit yang hanya di kira biasa ternyata akan besar akibatnya. .

Rabbi, terimakasih telah memberikan teman – teman yang baik, keluarga yang peduli, dan sahabat yang selalu ada. Engkau jauh di atas segalanya.
Ampuni dosa – dosa kami dan jadikanlah hidup ini penuh Rahmat dan Hidayah Mu. Aamiin. 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Numpang Nama

One thing I don't like about my work culture is 'numpang nama'. This word is used for somebody whose name is in the decision letter for implementing activities, but they didn't do their job. And this is what I am experiencing now.  Terus terang aja, aku bukan tipical orang yang pinter juga, bukan juga orang yang sosialis juga. Tapi untuk pekerjaan aku prefer aku yang kerja jika emang ada namaku di sana. Kenapa sih tiap aku nanya tuh ga pernah dapat jawaban yg puas. Giliran ada masyarakat nanya2 informasi ke aku, kan aku jadi gapunya jawabannya.  Masa ada orang jauh-jauh datang ke kantor, aku cuma jawab 'Maaf pak saya gatau' kan lucu. Bayangin kalo orang itu adalah kamu atau orang terdekatmu. Kan Bangke! Herannya tiap aku bahas tentang hal ini ga ada yang kasih pendapat positif. Seakan aku tuh cuma outsider yang ga berhak apa2.  Kalo tau kaya gini aku gausah ada namaku di sana. Dapat ilmu dan pengalamannya minim tapi giliran ada apa-apa pasti keseret namanya.  Go...

Galau 2025

 Dear Aku,  udah lama nih aku ga curhat di sini. Entahlah. Makin ke sini makin jarang banget kita ngobrol ya.. padahal kalo mau, banyak banget loh yang bisa kita diskusiin, atau sekedar ngegabut ajaa..  And yes, as you know, AMU program has been finished since July last year. Even though I didn't get a good score, I tried my best. And then I took IELTS course at UI my score remain still. 5,5 for general.  This is our first time in 2025, yeah. It's been a while. I can tell I changed a lot. I'm not a person who loves read a book, I'm not a person who likes writing a diary as well as story as I used to be. Here I am, just an average girl with tons of laziness and excuses.  Dear Love,  I just don't understand myself anymore. I don't know how to tell you. I want to be back to myself as I was a decade ago. The day that I can write anything, even just nonsensical things, imagination, or even my odd poem. I was quite ambitious back then. I had a big dream. I u...

How is class in EF

 It's been a week i took an english class in EF.  It so funny that study english with native teacher and friends all around the world. Each class consist of maximal 9 student. Because we all in the same grade (intermediate) and mostly we have not fluent speak in english, so that sometimes we need take times to thinking what is that word in english.  In the class, teacher will ask us to speak and talking with other student for some issue, and then she will correct it. It is often happen, when i talk and suddenly got stuck because i don't know how to say in eglish, and i took time for searching on google translate.  We demanded to speak constantly, so that many of us still used 'a..a..aa' and so. In the end we laugh each other. Not underestimate..   Thankfully the teacher and all of student is understand that is an issue for us. And teacher giving support and cheer we up! That is going to be really funny moment. We had a flexible class along day. Each session...