Langsung ke konten utama

TETANGGA MENYEBALKAN DEPAN RUMAH

Aku ingin menghayal saja. Sebab tak mungkin dua orang menyebalkan di depan rumah akan nyata hadir dalam hidup. Biarlah mereka tebang kesana kemari dalam sebuah alur yang telah kubuat di dalamnya. Hingga mereka tak bisa melepaskan diri dari belenggu cerita.

Namaku Ve. Aku tinggal di sebuah daerah industri kota kecil. Tepat di depan rumah ada dua orang laki – laki yang sangat menyebalkan. Sebut saja mereka dengan sebutan yang membuatmu lega. Sbab aku pun belum pernah berkenalan. Ya, selama aku tinggal di sini, kami memang belum pernah bertegur sapa. Maklum, jam kerja kami berbeda, sehingga amatlah jarang kami bertemu, walau di hari libur.
Jujur saja aku memang ingin mengenal dua pria itu. Bukan karena wajahnya yang ruapawan. Tapi karena mereka berasal dari kota yang sama denganku. Dan aku memang sedang dalam sayembara mencari teman.
Mungkin karena rupaku jelek sehingga mereka enggan menyapa? Atau ada hal lain yang membuatku sangat kesal karena sampai saat ini mereka belum menunjukkan sinyal yang pas terhadapku. Andai saja, ada koin kaleng yang bisa mengabulkan semua permintaanku.

***
Aku termasuk orang yang aktiv nongkrong di dunia maya. Berkumpul dengan teman – teman di grup menjadi alternative bagiku untuk melepaskan semua keluh kesahku.
Berbagi cerita, saling komentar di status teman, atau hanya sekedar membaca apa yang mereka bagikan di grup.
Beberapa nama selalu muncul menyajikan karya yang luar bisaa. Ketertarikan itu membawa dampak lain. Aku menjadi semakin aktiv mengomentari setiap postingannya. Sebut saja ia Ichi. Agak sentimental bukan? Kupikir dia memang orang yang perasa. Pantas saja, setiap kata yang di torehkan pasti membuatku merinding membacanya.
Kupastikan ichi mempunyai beribu karya yang aku tak tahu, atau lebih tepatnya dia menyembunyikan karya – karya nya dari konsumsi umum.

Ahhh, menyebalkan. Apa karena wajahku buruk sehingga mereka tak mau menjalin hubungan denganku. Meski hanya sebuah teman? Rasanya ingin sekali aku berteriak lalu menyalahkan semua orang. Kenapa mereka hanya mau berteman dengan yang sederajat?
Hanya karena harta, aku terbuang ke sudut – sudut lorong yang gelap.

Sendiri.

Cerita koin kaleng yang diwariskan turun temurun dari nenek buyutku sempat menarik perhatianku. Tadinya aku tidak percaya sama sekali tentang cerita itu. Karena mustahil sebuah koin yang di lempar ke dalam kaleng ajaib akan dapat mengabulkan semua permintaan kita. Tapi aku bosan dengan hidupku yang selalu sendiri. Aku ingin kaleng ajaib itu dating dan…

“ka,, minta koinnya ka. Kasihanilah saya. Seharian ini belum makan”

Ohh, ternyata pengemis dating menghampiriku. Membuyarkan semua lamunanku tentang kaleng ajaib dan koinnya. Segera ku alihkan pandangan kepadanya. Ku ambil satu lembaran uang lima ribuan untuk gadis malang itu.

“terimakasih kak”

Dan hanya ku balas dengan senyum tipis. Bagaimana mungkin anak belia seusianya sudah ‘tamat? Di manakah orangtua yang seharusnya menjaga dan merawat nya?
Ah kasihan sekali gadis kecil tadi..
Langkahku gontai seiring kepergian gadis kecil tadi. Bemacam dugaan tiba – tiba saja muncul di kepalaku.

Mungkin orangtuanya sudah meninggal. Mungkin dia tidak punnya biaya untuk membayar sekolah. Mungkin ada hal lain yang tak boleh ku ketahui. Bla,,bla,,bla.

***
Aku heran melihat kaleng yang di bawa gadis kecil kemarin ada di depan pintu.  Tapi tunggu dulu. Ada sebuah tulisan di sana.
“jika kamu memasukkan sebuah koin ke dalam kaleng ini, satu permintaan akan terwujud”
Ingin rasanya itu adalah kaleng dan koinnya yang ajaib sungguhan. Pasti gadis kecil yang kemarin sore telah membuat kejutan untukku hari ini.
Tapi karena iseng saja, aku memasukkan satu koin kedalam kaleng misterius itu. Ku sebutkan permintaan yang menjadi mimpi – mimpiku selama ini.

***
Seperti biasa, aktivitas sebelum bekerja adalah nongkrong di jejaring sosialku. Grup demi grup tempat bisaa mangkal pun tak luput dari kunjunganku.
Kebetulan waktu itu aku nongkrong di grup KEMUNCUNG. Mereka yang ada di sini adalah orang – orang perantauan dari kota asal kami. Meskipun kami berjauhan, tapi semangat menjalin silaturahmi begitu kuat.

Aku hanya berperan sebagai pembaca waktu itu. Dan lagi – lagi sebuah nama hamper menguasai halaman walaupun dia hanya mampir di pos seorang temannya lagi.
Kubaca, dank u perhatikan kata – katanya. Bisa jadi dia adalah orang pendiam, berwajah teduh, yang paling tidak mungkin adalah jomblo.

Aku memang tidak begitu tertarik dengan orang – orang itu. Bagaimanapun kalimat yang di ucapkan belum tentu sama dengan sifat yang ia miliki.

Tapi sekarang ada hobi baru bagiku. Setidaknya celoteh mereka sedikit bisa menghiburku. Ada beberapa teman cewe yang klop dan siapa tahu nanti akan menjadi teman di sini.

Ku pandangi nama – nama yang setidaknya sedikit cocok dengan karakter tetanggaku. Meskipun mereka menyebalkan, justru itu yang menjadi daya tariknya. (aduh L )
***
Sebuah nama muncul ingin menjalin teman denganku. Ternyata dia adalah orang yang sama yang selalu ku pandangi di grup. Wow,, belum seberapa si, tapi lumayanlah.
Tanpa berfikir panjang aku menerima permintaanya. Dari awal perkenalan itu, entahlah, aku merasa cocok dengan perangainya. Beberapa kali pun dia menghubungiku lewat ponsel. Semakin hari semakin akrab saja hubungan kami berdua.
Hingga pada suatu ketika dia mengutarakan niatnya untuk menemuiku. J

Aku bingung hendak menjawab apa. Tapi yang aku takutkan dari pertemuan itu adalah jika dia tak mau menerima keadaanku. Kami memang sama – sama belum tahu bagaimana wajah dari satu sama lain. Karena di dalam akunnya dia tidak menyertakan foto. Jadilah hubungan kami ini sebagai hubungan tanpa wajah. Hehe..

Mau tidak mau aku menyerah juga. Rindu pun tak mampu selamanya mengalah. Dan pertemuan itu tiba. Aku memintanya bertemu di taman dekat rumah pamanku. Bagaimanapun aku tak mau menerima tamu laki – laki jika keadaan sedang sendiri.

Baru aku tahu ternyata dia pemalu sepertiku. Jadilah pertemuan hari itu hanya perbincangan kesana kemari tanpa menghadap satu sama lain. Sebentar – sebentar menunduk, membuang pandangan ke arah jauh, atau memalingkan wajah. Hehe J
Dan…sukses. Tentu yang dimaksud bukan sukses mengupas tuntas orangnya. Tapi sukses rencana itu gagal. Karena sama sekali kami tidak beradu pandang.

***
Selepas pertemuan hari itu, kami masih saja berhubungan baik. Seperti sudah berkenalan tahun lamanya.  Sesekali ia menanyakan apakah aku sudah ada yang punya?
Sepertinya sinyal bagus! Tapi aku tidak boleh gegabah.
Hari – hari berlalu dengan di sertai kehadiran dirinya.

***
Kepercayaan dan hubungan baik yang kami bina membuahkan hasil. Dia mengutarakan niatnya ingin menjalin hubungan ini lebih serius lagi. Alhamdulillah, jika itu benar adanya. Ketika dia meminta kami bertemu lagi, aku menyanggupinya.
Tapi ada yang beda dengannya kali ini. Dia meminta izinku untuk menemui di rumah saja, tadinya aku menolak, namun alasannya membuatku cukup mampu untuk diam.

“memangnya kenapa kalau di tempat yang kemarin?” tanyaku
“ya ndak apa – apa. Tapi kan paling baik di rumah” balasnya

Jadilah, untuk pertemua kedua kalinya, kami bertemu di rumahku. Selidik demi selidik, aku tahu. Ternyata dia tetangga kontrakan yang aku bilang menyebalkan waktu itu. Aduhhh malunya J.

Akhirnya kami memang benar – benar di pertemukan oleh takdir.
Hari – hari setelah pertemuan itu kami lalaui dengan sedikit canggung. Bagaimana mungkin, tetangga yang begitu menyebalkan kini menjadi seseorang yang special di hati J

***
Kami menikah setahun setelah itu. kepercayaan dan kesetiaan yang di bangun semoga kan abadi selamanya…

TAMAT

   

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Numpang Nama

One thing I don't like about my work culture is 'numpang nama'. This word is used for somebody whose name is in the decision letter for implementing activities, but they didn't do their job. And this is what I am experiencing now.  Terus terang aja, aku bukan tipical orang yang pinter juga, bukan juga orang yang sosialis juga. Tapi untuk pekerjaan aku prefer aku yang kerja jika emang ada namaku di sana. Kenapa sih tiap aku nanya tuh ga pernah dapat jawaban yg puas. Giliran ada masyarakat nanya2 informasi ke aku, kan aku jadi gapunya jawabannya.  Masa ada orang jauh-jauh datang ke kantor, aku cuma jawab 'Maaf pak saya gatau' kan lucu. Bayangin kalo orang itu adalah kamu atau orang terdekatmu. Kan Bangke! Herannya tiap aku bahas tentang hal ini ga ada yang kasih pendapat positif. Seakan aku tuh cuma outsider yang ga berhak apa2.  Kalo tau kaya gini aku gausah ada namaku di sana. Dapat ilmu dan pengalamannya minim tapi giliran ada apa-apa pasti keseret namanya.  Go...

Galau 2025

 Dear Aku,  udah lama nih aku ga curhat di sini. Entahlah. Makin ke sini makin jarang banget kita ngobrol ya.. padahal kalo mau, banyak banget loh yang bisa kita diskusiin, atau sekedar ngegabut ajaa..  And yes, as you know, AMU program has been finished since July last year. Even though I didn't get a good score, I tried my best. And then I took IELTS course at UI my score remain still. 5,5 for general.  This is our first time in 2025, yeah. It's been a while. I can tell I changed a lot. I'm not a person who loves read a book, I'm not a person who likes writing a diary as well as story as I used to be. Here I am, just an average girl with tons of laziness and excuses.  Dear Love,  I just don't understand myself anymore. I don't know how to tell you. I want to be back to myself as I was a decade ago. The day that I can write anything, even just nonsensical things, imagination, or even my odd poem. I was quite ambitious back then. I had a big dream. I u...

How is class in EF

 It's been a week i took an english class in EF.  It so funny that study english with native teacher and friends all around the world. Each class consist of maximal 9 student. Because we all in the same grade (intermediate) and mostly we have not fluent speak in english, so that sometimes we need take times to thinking what is that word in english.  In the class, teacher will ask us to speak and talking with other student for some issue, and then she will correct it. It is often happen, when i talk and suddenly got stuck because i don't know how to say in eglish, and i took time for searching on google translate.  We demanded to speak constantly, so that many of us still used 'a..a..aa' and so. In the end we laugh each other. Not underestimate..   Thankfully the teacher and all of student is understand that is an issue for us. And teacher giving support and cheer we up! That is going to be really funny moment. We had a flexible class along day. Each session...