Langsung ke konten utama

Musuh Bebuyutan

Sedari kecil, aku tidak begitu suka dengan binatang. Salah satu alasannya karena aku tipikal orang yang kagetan. Kalian tahu sendiri, kan? Sebagian besar binatang itu ‘selalu’ mengagetkan.

“Aaargh.” Teriakan kencang  keluar spontan begitu saja. Sambil berjingkat-jingkat menghindari serangga  berwarna coklat dan mempunyai sepasang sayap. Sungguh menjijikkan hewan itu. Sepagi ini berani-itu beraninya membuat ulah denganku.  
“Ih, Rara! Ngapain sih pagi-pagi sudah berisik!”suara itu membuatku merasa bersalah. Tapi mau gimana lagi. Aku hanya ingin menyelamatkan diri dari makhluk jelek itu.
“Eh, nggak apa-apa mbak, tidur aja lagi,” kataku sambil nyengir seolah tak ada sesuatu yang terjadi.
Masih jam 5 pagi. Tapi sialnya, aku sudah kena semprot oleh Mbak Risa.

Setelah puas berteriak bak sedang di kepung oleh tentara VOC, aku mengambil semprotan pembasmi serangga. Benda itu kini menjadi senjata untuk melawannya. Dengan kaki gemetar dan mata yang nengok-takut tiba-tiba ia terbang dan mengenai badanku-beberapa semprotan telah mengenai punggung hewan itu. Namun kali ini ia tidak kapok. Beberapa temannya yang bersembunyi malah muncul satu per satu seolah membentuk tim pertahanan.

Aku semakin takut, mau berteriak, pasti mbak Risa ntar ngomel lagi, maka aku putuskan untuk semakin banyak menyemprotkan obat  itu ke tubuhnya.  Selang beberapa waktu salah satu dari kami menyerah. Sayangnya yang menyerah itu adalah aku. Bau yang menyengat dan membuat perih pada hidung dan mata yang membuatku menyerah. Aku membiarkan mereka lolos, tapi lain kali aku berjanji tak kan melepaskan kekalahan begitu saja.

Entah mengapa setiap aku melihat hewan kecil itu, kakiku selalu menggigil, gemetar. Bahkan dulu ketika masih leluasa berteriak, maka pilihan terbaikku adalah berteriak sekencang-kencangnya lalu kemudian kabur.
Hanya semenjak kena marah pagi itu oleh Mbak Risa, sebisa mungkin aku harus menutup mulut demi kenyamanan tidurnya yang sudah menjelang siang.

****

Paginya, aku mendapat ide untuk googling cara yang tepat untuk membasmi hewan jelek itu. untunglah, ternyata gampang. Lipas itu takut dengan cairan sabun. Tepat sekali. Kebetulan nanti malam adalah jadwalku untuk mencuci. Sengaja aku menambah bubuk detergen demi rencana itu. Yes! Matilah kau jelek! Kataku dalam hati.

Esoknya, sengaja aku menceritakan perang semalam pada Mbak Risa.
“Ih, kalau kecoa ‘mah jangan di bunuh, Ra.” Katanya.
“Lho, kenapa Mbak?”
“Karena di dalam perut kecoa itu terdapat cairan bakteri, atau virus gitu. Nah kalau cairan itu keluar, dia akan jadi bibit. Ntar tambah banyak.”
“Terus kalau ada kecoa lagi gimana?”
“Ntar kita cari cara!” ia mengakhiri keingin tahuanku.

            Solusinya, kami hanya lebih rajin membersihkan rumah agar tak menjadi tempat favorite para lipas untuk menelurkan bibitnya. Selain itu, kami juga tak pernah lagi membunuhnya. Hanya satu yang belum terbayar.

Aku masih saja berteriak dan menjadi gemetar ketika melihatnya. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Numpang Nama

One thing I don't like about my work culture is 'numpang nama'. This word is used for somebody whose name is in the decision letter for implementing activities, but they didn't do their job. And this is what I am experiencing now.  Terus terang aja, aku bukan tipical orang yang pinter juga, bukan juga orang yang sosialis juga. Tapi untuk pekerjaan aku prefer aku yang kerja jika emang ada namaku di sana. Kenapa sih tiap aku nanya tuh ga pernah dapat jawaban yg puas. Giliran ada masyarakat nanya2 informasi ke aku, kan aku jadi gapunya jawabannya.  Masa ada orang jauh-jauh datang ke kantor, aku cuma jawab 'Maaf pak saya gatau' kan lucu. Bayangin kalo orang itu adalah kamu atau orang terdekatmu. Kan Bangke! Herannya tiap aku bahas tentang hal ini ga ada yang kasih pendapat positif. Seakan aku tuh cuma outsider yang ga berhak apa2.  Kalo tau kaya gini aku gausah ada namaku di sana. Dapat ilmu dan pengalamannya minim tapi giliran ada apa-apa pasti keseret namanya.  Go...

Galau 2025

 Dear Aku,  udah lama nih aku ga curhat di sini. Entahlah. Makin ke sini makin jarang banget kita ngobrol ya.. padahal kalo mau, banyak banget loh yang bisa kita diskusiin, atau sekedar ngegabut ajaa..  And yes, as you know, AMU program has been finished since July last year. Even though I didn't get a good score, I tried my best. And then I took IELTS course at UI my score remain still. 5,5 for general.  This is our first time in 2025, yeah. It's been a while. I can tell I changed a lot. I'm not a person who loves read a book, I'm not a person who likes writing a diary as well as story as I used to be. Here I am, just an average girl with tons of laziness and excuses.  Dear Love,  I just don't understand myself anymore. I don't know how to tell you. I want to be back to myself as I was a decade ago. The day that I can write anything, even just nonsensical things, imagination, or even my odd poem. I was quite ambitious back then. I had a big dream. I u...

How is class in EF

 It's been a week i took an english class in EF.  It so funny that study english with native teacher and friends all around the world. Each class consist of maximal 9 student. Because we all in the same grade (intermediate) and mostly we have not fluent speak in english, so that sometimes we need take times to thinking what is that word in english.  In the class, teacher will ask us to speak and talking with other student for some issue, and then she will correct it. It is often happen, when i talk and suddenly got stuck because i don't know how to say in eglish, and i took time for searching on google translate.  We demanded to speak constantly, so that many of us still used 'a..a..aa' and so. In the end we laugh each other. Not underestimate..   Thankfully the teacher and all of student is understand that is an issue for us. And teacher giving support and cheer we up! That is going to be really funny moment. We had a flexible class along day. Each session...