Belakangan entah kenapa suka mikir, dan bertanya sama diri sendiri,
Besok, kalau dah rumah tangga mau punya rumah yang kayak gimana si?
Pertanyaan pertanyaan seperti ini, semakin sering muncul di kepala, sama halnya dengan aku pengen rumah tanggaku besok bakal gimana.
Bicara tentang rumah, aku rasa bukan hanya bicara tentang hunian mewah dengan berbagai perabotan estetiknya.
Bukan juga tentang desain dan mode yang digunakan. Meski, itu juga salah satu bagian yang penting karena bagaimana kita akan nyaman di tempat yang bahkan desain warna dan modenya tidak kita suka.
Mungkin jika sekedar nyaman bisa di kondisikan. Artinya, akan menyesuaikan dengan kemampuan dan kemampuan penghuninya.
Tetapi yang terpenting dalam membangun rumah bagiku pada dengan siapa dan mengapa?
Kita harus tahu apa yang kita butuhkan dan kita inginkan.
Rumah impianku sendiri, ialah bangunan kokoh yang mengadopsi gaya jepang (pada tampilan luarnya).
Warna coklat pada kayu memberikan nuansa yang cozy dan homi.. Susunan kayu pada rumah gaya jepang memberikan nuansa sederhana tetapi mewah.
Walaupun biaya pembuatannya lebih mahal daripada rumah gaya orang Indonesia pada umumnya yang menggunakan bata. Selain itu biaya perawatannya pun lebih mahal dan susah. Susunan kayu jika tidak dirawat akan menimbulkan masalah yang bisa saja menelan biaya yang lebih besar.
Lain jepang, lain pula rumah-rumah scandinavia di belahan bumi utara.Rumah ini sangat unik yang ditonjolkan dengan model atapnya yang menggunakan rumput.
Tentu saja pembuatan model rumah seperti ini sesuai dengan tujuan dan fungsi dari rumah itu sendiri.
Orang-orang skandinavia mungkin saja memiliki cuaca yang panas di musim summer, sehingga penggunaan rumput akan memberikan kesejukan. Di musim dingin, rumput-rumput ini mungkin akan membeku tetapi jaringan akarnya tidak membuat rumah menjadi lebih dingin.
Hidup di negara tropis yang memiliki musim panas sepanjang tahun akan terlihat sejuk memiliki hunian hijau seperti skandinavian, tetapi bisa saja akan memberikan masalah saat musim penghujan. Belum lagi, tipe atap yang rendah, apakah mengakomodir keluar masuknya udara di suhu panas?
Lain di negara orang, lain juga di negeri sendiri.
Sebagai seorang wanita Jawa, nenek moyang juga memiliki bangunan khas yang disebut rumah.
Masih dengan bahan baku kayu sebagai material bangunannya, rumah ini disebut rumah Joglo. Bentuk dan coraknya khas sekali dengan bangunan-bangunan jaman dulu di Jawa tengah. Sedikit banyak rumah-rumah di Mirit juga masih menggunakan gaya Joglo ini.



Komentar