"Anak sekolah kerjaannya main melulu. Belajar !"
Teriakan itu di susul dengan serangkaian caci maki yang lain. Wanita paruh baya itu begitu geram. Marah. Anak sulungnya selalu saja membantah. Bahkan beberapa kali ini dia mulai berani membantah perintahnya.
"mau jadi apa kamu kalau tidak pernah mau belajar. Jadi gelandangan? Hah"
Remaja tanggung itu beringsut dari tempat duduknya. Padahal baru saja ia pulang sudah kena semprot. Bukan hal baru baginya menerima cacian - cacian itu. Setiap hari bahkan sejak ia berumur enam tahun pemandangan itu selalu ada. Menyebalkan. Selalu saja wanita itu menyuruhnya belajar. Memangnya kenapa kalau tidak belajar? Mati? Ia masih tak kalah geram mendengar semprotan wanita paruh baya itu.
"Nah Molor. Main molor main molor. Di terus - terusin aja. Anak tak tahu di untung!. Brengsek!"
"Kalau anaknya brengsek berati orangtuanya juga brengsek! Anjing" anak muda itu tak mau kalah.
"Apa!!! bicara sekali lagi. Hah. Ngomong apa kamu tadi. Coba bilang!!" wanita itu masih ngamuk mendengar jawaban tak terduga dari anaknya. Mimpi apa ia semalam hingga mendapatkan jawaban mengejutkan seperti itu.
Namun sayang kali ini amukannya gagal. Anak muda itu telah terlanjur membanting pintu dan mengunci diri di dalam ruangan pribadinya.
"Anak kerjaannya molor terus. Gak pernah mau bantu orangtua! Heh bangun! Cari rumput bantuin kakek! Ir"
Wanita itu masih saja mengomel. Hingga menimbulkan protes seisi rumah.
"Itu anak kalau gak di ajarin dari kecil nanti dia ngelunjak. Kamu ga usah nglindungi dia. Dia itu anakku. Biar saja aku yang urus." suara kali ini tak kalah sangarnya dengan ketika ia bicara dengan anaknya.
"owalah jadi anak kok kaya gitu banget ya sama orangtua. Dari keciiil selalu bentak - bentak orang tua. Laa haula wala quwwata illa billah.. Gusti... salah apa aku ini, hingga anakku berani membentak Ibunya sendiri" suara lirih nenek tua itu terkalahkan oleh omelan panjang anaknya. Tangisnya selalu tanpa suara. Bukan saja matanya yang menangis. Hatinya pun juga menangis. Ia merasa tak pernah di hargai oleh anaknya sendiri.
Selalu apa yang di lakukan salah di mata anak ke-dua nya.
Ia tak ingin pindah, meski tubuhnya kini semakin kering saja. Lagi pula masih ada Ibunya. Ya, nenek itu masih mempunyai Ibu yang selalu di sayangnya sepenuh hati. Bukan tidak pernah ia mendambakan anak yang selalu mengerti. Sudah terlalu sering, namun do'a yang di pintanya seolah masih tetap bergeming di sisi Tuhan.
Teriakan itu di susul dengan serangkaian caci maki yang lain. Wanita paruh baya itu begitu geram. Marah. Anak sulungnya selalu saja membantah. Bahkan beberapa kali ini dia mulai berani membantah perintahnya.
"mau jadi apa kamu kalau tidak pernah mau belajar. Jadi gelandangan? Hah"
Remaja tanggung itu beringsut dari tempat duduknya. Padahal baru saja ia pulang sudah kena semprot. Bukan hal baru baginya menerima cacian - cacian itu. Setiap hari bahkan sejak ia berumur enam tahun pemandangan itu selalu ada. Menyebalkan. Selalu saja wanita itu menyuruhnya belajar. Memangnya kenapa kalau tidak belajar? Mati? Ia masih tak kalah geram mendengar semprotan wanita paruh baya itu.
"Nah Molor. Main molor main molor. Di terus - terusin aja. Anak tak tahu di untung!. Brengsek!"
"Kalau anaknya brengsek berati orangtuanya juga brengsek! Anjing" anak muda itu tak mau kalah.
"Apa!!! bicara sekali lagi. Hah. Ngomong apa kamu tadi. Coba bilang!!" wanita itu masih ngamuk mendengar jawaban tak terduga dari anaknya. Mimpi apa ia semalam hingga mendapatkan jawaban mengejutkan seperti itu.
Namun sayang kali ini amukannya gagal. Anak muda itu telah terlanjur membanting pintu dan mengunci diri di dalam ruangan pribadinya.
"Anak kerjaannya molor terus. Gak pernah mau bantu orangtua! Heh bangun! Cari rumput bantuin kakek! Ir"
Wanita itu masih saja mengomel. Hingga menimbulkan protes seisi rumah.
"Itu anak kalau gak di ajarin dari kecil nanti dia ngelunjak. Kamu ga usah nglindungi dia. Dia itu anakku. Biar saja aku yang urus." suara kali ini tak kalah sangarnya dengan ketika ia bicara dengan anaknya.
"owalah jadi anak kok kaya gitu banget ya sama orangtua. Dari keciiil selalu bentak - bentak orang tua. Laa haula wala quwwata illa billah.. Gusti... salah apa aku ini, hingga anakku berani membentak Ibunya sendiri" suara lirih nenek tua itu terkalahkan oleh omelan panjang anaknya. Tangisnya selalu tanpa suara. Bukan saja matanya yang menangis. Hatinya pun juga menangis. Ia merasa tak pernah di hargai oleh anaknya sendiri.
Selalu apa yang di lakukan salah di mata anak ke-dua nya.
Ia tak ingin pindah, meski tubuhnya kini semakin kering saja. Lagi pula masih ada Ibunya. Ya, nenek itu masih mempunyai Ibu yang selalu di sayangnya sepenuh hati. Bukan tidak pernah ia mendambakan anak yang selalu mengerti. Sudah terlalu sering, namun do'a yang di pintanya seolah masih tetap bergeming di sisi Tuhan.
Komentar