Mentari mulai mengintip aktivitas
bumi dengan malu – malu. Di kaki langit sana
semburat warna kuningnya mulai nampak. Sepertinya dia enggan memulai
aktivitasnya sendiri, tak seperti hari – hari biasanya. Pemandangan jalan masih
lengang. Tapi tidak, terlihat beberapa laki – laki dan wanita memakai seragam
lusuhnya, memakai caping hendak menjemput fajar di kaki langit bukit sana , di sebelah timur
Desa mereka.
Satu dua orang mulai menyusul orang
– orang tua itu. Semakin ramailah mereka berjalan menyusuri bukit keberkahan,
tempat bercocok tanam mereka.
Sang Surya mulai merangkak tinggi
ketika serombongan anak – anak gadis mengantarkan makanan untuk orang tua
mereka. Mereka pun terlihat anggun, memakai kebaya serta selempang di pundak mereka.
Bertapian kain panjang menutup betis – betis nan elok itu serta tak lupa pula
dengan bakul – bakulnya. Sungguhkah mereka bak seorang pengantin pada masa
lampau di sebuah kerajaan mereka.
Satu dua canda terlihat meramaikan
jalan, membuat iri pada bidadari – bidadari yang sedang mandi di sebuah beji
tempat tujuan mereka.
“masak apa kau hari ini, Yai?”
pertanyaan lembut keluar dari salah satu gadis itu.
“oseng tahu sama sambel terong,
kesukaan bapak. Nini masak apa?” balas gadis berkebaya biru itu.
“hanya tempe goreng dan sambal krosak Yai”
“ya sudahlah, tidak apa – apa.
Semua akan terasa enak jika makan sama – sama” gadis lain yang berbernama
Ningrum kemudian mengambil inisiatif menengahi.
“indah sekali ya Desa ciptaan Tuhan
ini? Kita bisa melihat segalanya dari sini. Pucuk – pucuk menara listrik Desa
seberang, bahkan truk – truk di bantaran kali lukula yang tak pernah sepi
menambang pasir. Semuanya terlihat indah, hampir sempurna.”
“sawah – sawah bagai lautan emas di
kala musim panen, ilalang seakan selalu menynyikan lagu rindu di kala kemarau.
Sungguh tak ada habisnya keindahan Desa ini” yang lain menimpali.
“ya, tentu saja. Kita harus
berterima kasih atas semua ini. Tanah yang subur, kerbau sapi pilihan, dan
semuanya.”
“ada yang lain juga. Lihatlah,
gunung – gunung berjejer, seolah menampakkan kokohnya bumi ciptaan Nya. Batu –
batu dan pohon – pohon besar penghias ladang”.
“eh, tapi kamu tahu tidak kenapa
batu besar itu di namakan batu Golong?”
“tidak tahu, tapi aku dulu pernah
mendengar ada orang yang bercerita tentang asal – usul batu besar itu.” Nini menunjuk bongkahan batu besar
berdiameter kira – kira 10meter.
Tak terasa perjalanan menuju puncak
bukit telah sampai.
“selamat pagi Pak, Bu” serempak
keduanya menyapa orang – orangtua itu
“selamat pagi nduk, walah rajinnya
anak – anak bapak ini” timpal kakek tua yang sedang mengusir gerahnya.
Namun meeka semua terbengong –
bengong lantaran di sebut sebagai anak.
“kenapa kalian bingung? Semua yang
di sini adalah anak – anak kakek, tidak peduli dia orangtuanya berasal dari
mana,
“o, gitu kek, oke lah kakek”
“mari bapak – bapak kita makan
bareng – bareng saja di sini, biar tambah enak” Ibu Seruni segera mengambil
langkah.
“kakek, kenapa batu besar itu
dinamakan batu golong kek?” tak sabar Nini menyerbu kakek dengan pertanyaannya.
“Nini, kakek sedang makan, tidak
sopan nduk,” timpal Yai
“kakek makan dulu ya nduk, soalnya
kakek sudah lapar”
“eheh, iya kek. Ceritanya nanti
saja kalau sudah pulang”
“ya sudah, kalian pulang saja
beresin rumah ya” kata Ibu seruni lagi.
“baik bu”
****
“Dahulu kala di sebuah Desa hidup
seorang gadis yang sangat cantik. Matanya bercahaya pertanda dia mempunyai
sifat pengasih kepada semua orang. Cara berjalannya bagaikan seorang putri
raja, melenggak lenggok menarik siapapun yang memandangnya. Telah banyak pemuda
yang melamar, namun belum ada satupun yang berhasil mencuri hatinya. Gadis itu
masih sendirian. Tapi seorang pemuda selalu menggodanya. Ia telah beberapa kali
di tolak cinta oleh gadis tersebut, namun rupanya hasrat memiliki begitu kuat
sampai – sampai ia tak mau melepaskan gadis itu dari pelukannya. Ia selalu
mendekati, melirik, menggoda dan seribu jurus untuk menarik perhatian gadis itu
di keluarkan. Tapi sejauh ini sepertinya gadis itu masih tuli, tak mau mendengarkan
semua rayuan gombalnya.
Dia masih kekeh, tak mau bergeming.
Walaupun begitu, mereka tetap menjalin hubungan baik sebagai teman.
Tersebutlah seorang pemuda yang
gagah dari desa seberang juga mencoba peruntungan melamar gadis jelita itu.
Pemuda itu segera menemui kedua orangtua gadis tersebut, meminta
persetujuannya. Tak banyak halangan berarti. Keduanya melangkah menuju
pelaminan dengan mulus.
Alkisah, pada zaman itu sebuah adat
masih di pegang teguh oleh para pemegangnya. Setelah ijab Kabul itu, dalam adat Jawa seorang pengantin
perempuan di haruskan munjungi mertuanya. Gadis itu pun menuruti adat.
Dia membawa bakul dengan selendangnya. Berpakaian kebaya dan selembar kain
sebagai bawahan yang menutupi betis – betis ayu itu.
Untung tak dapat di raih, malang tak dapat di
tolak. Ketika sang pengantin berdua hendak menuruni jalan yang sedikit curam,
sang pengantin perempuan tergelincir. Bakul yang berisi nasi dan lauk pauknya
itu pun tumpah. Bersamaan dengan itu, angin kencang menyapu membawa kabur selendang
yang di pakai untuk membawa bakul tadi. Konon cerita, bakul nasi itu jatuh
telungkup membentuk batu hitam yang sangat besar di sebut dengan batu golong.
Golong dalam bahasa Jawa adat setempat artinya gulung (menggelundung),
sedangkan nasinya membentuk anakan batu golong. Anakan batu ini memiliki
diameter yang relatif lebih kecil jika di banfingkan dengan batu golong
sendiri, paling – paling hanya berdiameter 5 meter. Selendang itu terbawa angin
kencang. Ia terbang jauh menjelma Gunung Brujul di sebelah timur batu Golong
tersebut.”
“Nah, begitulah ceritanya nduk,
kenapa batu besar itu di namakan batu Golong. Sekarang sudah tidak penasaran
lagi kan ?”
kata kakek.
“iya kek, sekarang Nini tau.
Terimakasih kek” ucap Nini senang.
“sama – sama nduk. Ayo di lanjut
belajarnya sama mbakyu mu”
“mbakyu ndak belajar kok kek,
mbakyu lagi ngalamun tu,,”
serentak semua menoleh kepada Yai,
gadis berwajah tirus dengan lesung pipi nya yang manis.
“yee, apaan sih aku kan udah selesai
belajarnya” Yai berlalu meninggalkan mereka yang masih heran dengan sikap
anehnya.
***
Sapuan awan menuju kelam
Masihkah engkau mengharapkan
rembulan?
Bahkan bintang gemintang enggan
bercengkerama
Menatap diam pada sosok yang merindukan sayang
Rembulan jingga
Melantunkan ayat – ayat
Bergelantung pada kaki langit di
awan sana
Akar – akar rumput liar merunduk
mengiba
Merebah dalam tanah mengubur derita
cinta
Cinta, apakah segampang itu menikah
dengan orang yang di cintai? Baru saja senja tadi membawa berita duka baginya.
Ahh gadis yang malang . Pertemuan dengan lelaki itu tempo
hari ternyata bukan sinyal yang baik untuk hatinya. Lelaki yang di pujanya,
yang selalu spesial dalam tangisan do’a – do’anya, lelaki yang telah merebut
sebagian hatinya.
Lamunan itu bukan tanpa airmata.
Sudah sejak tadi ia menahan dirinya untuk tidak menangis. Airmatanya sudah
habis, hanya menyisakan kantong keringnya saja. Matanya telah lelah, lelah
menangis untuk orang yang sekarang tidak lagi penting buatnya. Tidak akan
pernah lagi spesial di hatinya, juga do’a – do’anya.
Komentar
tadi pagi iseng buka blog, eh ada yang terlewat selama ini :)
terimakasih Bun sdh berkenan membaca tulisan acak adul ini,,semoga menjadi motivasi tersendiri buat saya, aamiin