Langsung ke konten utama

Asal - Usul Batu Golong

Mentari mulai mengintip aktivitas bumi dengan malu – malu. Di kaki langit sana semburat warna kuningnya mulai nampak. Sepertinya dia enggan memulai aktivitasnya sendiri, tak seperti hari – hari biasanya. Pemandangan jalan masih lengang. Tapi tidak, terlihat beberapa laki – laki dan wanita memakai seragam lusuhnya, memakai caping hendak menjemput fajar di kaki langit bukit sana, di sebelah timur Desa mereka.
Satu dua orang mulai menyusul orang – orang tua itu. Semakin ramailah mereka berjalan menyusuri bukit keberkahan, tempat bercocok tanam mereka.
Sang Surya mulai merangkak tinggi ketika serombongan anak – anak gadis mengantarkan makanan untuk orang tua mereka. Mereka pun terlihat anggun, memakai kebaya serta selempang di pundak mereka. Bertapian kain panjang menutup betis – betis nan elok itu serta tak lupa pula dengan bakul – bakulnya. Sungguhkah mereka bak seorang pengantin pada masa lampau di sebuah kerajaan mereka.

Satu dua canda terlihat meramaikan jalan, membuat iri pada bidadari – bidadari yang sedang mandi di sebuah beji tempat tujuan mereka.
“masak apa kau hari ini, Yai?” pertanyaan lembut keluar dari salah satu gadis itu.
“oseng tahu sama sambel terong, kesukaan bapak. Nini masak apa?” balas gadis berkebaya biru itu.
“hanya tempe goreng dan sambal krosak Yai”
“ya sudahlah, tidak apa – apa. Semua akan terasa enak jika makan sama – sama” gadis lain yang berbernama Ningrum kemudian mengambil inisiatif menengahi.

“indah sekali ya Desa ciptaan Tuhan ini? Kita bisa melihat segalanya dari sini. Pucuk – pucuk menara listrik Desa seberang, bahkan truk – truk di bantaran kali lukula yang tak pernah sepi menambang pasir. Semuanya terlihat indah, hampir sempurna.”
“sawah – sawah bagai lautan emas di kala musim panen, ilalang seakan selalu menynyikan lagu rindu di kala kemarau. Sungguh tak ada habisnya keindahan Desa ini” yang lain menimpali.
“ya, tentu saja. Kita harus berterima kasih atas semua ini. Tanah yang subur, kerbau sapi pilihan, dan semuanya.”
“ada yang lain juga. Lihatlah, gunung – gunung berjejer, seolah menampakkan kokohnya bumi ciptaan Nya. Batu – batu dan pohon – pohon besar penghias ladang”.
“eh, tapi kamu tahu tidak kenapa batu besar itu di namakan batu Golong?”
“tidak tahu, tapi aku dulu pernah mendengar ada orang yang bercerita tentang asal – usul batu besar itu.”  Nini menunjuk bongkahan batu besar berdiameter kira – kira 10meter.

Tak terasa perjalanan menuju puncak bukit telah sampai.

“selamat pagi Pak, Bu” serempak keduanya menyapa orang – orangtua itu
“selamat pagi nduk, walah rajinnya anak – anak bapak ini” timpal kakek tua yang sedang mengusir gerahnya.
Namun meeka semua terbengong – bengong lantaran di sebut sebagai anak.
“kenapa kalian bingung? Semua yang di sini adalah anak – anak kakek, tidak peduli dia orangtuanya berasal dari mana,

“o, gitu kek, oke lah kakek”
“mari bapak – bapak kita makan bareng – bareng saja di sini, biar tambah enak” Ibu Seruni segera mengambil langkah.
“kakek, kenapa batu besar itu dinamakan batu golong kek?” tak sabar Nini menyerbu kakek dengan pertanyaannya.
“Nini, kakek sedang makan, tidak sopan nduk,” timpal Yai
“kakek makan dulu ya nduk, soalnya kakek sudah lapar”
“eheh, iya kek. Ceritanya nanti saja kalau sudah pulang”
“ya sudah, kalian pulang saja beresin rumah ya” kata Ibu seruni lagi.
“baik bu”

****
“Dahulu kala di sebuah Desa hidup seorang gadis yang sangat cantik. Matanya bercahaya pertanda dia mempunyai sifat pengasih kepada semua orang. Cara berjalannya bagaikan seorang putri raja, melenggak lenggok menarik siapapun yang memandangnya. Telah banyak pemuda yang melamar, namun belum ada satupun yang berhasil mencuri hatinya. Gadis itu masih sendirian. Tapi seorang pemuda selalu menggodanya. Ia telah beberapa kali di tolak cinta oleh gadis tersebut, namun rupanya hasrat memiliki begitu kuat sampai – sampai ia tak mau melepaskan gadis itu dari pelukannya. Ia selalu mendekati, melirik, menggoda dan seribu jurus untuk menarik perhatian gadis itu di keluarkan. Tapi sejauh ini sepertinya gadis itu masih tuli, tak mau mendengarkan semua rayuan gombalnya.
Dia masih kekeh, tak mau bergeming. Walaupun begitu, mereka tetap menjalin hubungan baik sebagai teman.

Tersebutlah seorang pemuda yang gagah dari desa seberang juga mencoba peruntungan melamar gadis jelita itu. Pemuda itu segera menemui kedua orangtua gadis tersebut, meminta persetujuannya. Tak banyak halangan berarti. Keduanya melangkah menuju pelaminan dengan mulus.
Alkisah, pada zaman itu sebuah adat masih di pegang teguh oleh para pemegangnya. Setelah ijab Kabul itu, dalam adat Jawa seorang pengantin perempuan di haruskan munjungi mertuanya. Gadis itu pun menuruti adat. Dia membawa bakul dengan selendangnya. Berpakaian kebaya dan selembar kain sebagai bawahan yang menutupi betis – betis ayu itu.

Untung tak dapat di raih, malang tak dapat di tolak. Ketika sang pengantin berdua hendak menuruni jalan yang sedikit curam, sang pengantin perempuan tergelincir. Bakul yang berisi nasi dan lauk pauknya itu pun tumpah. Bersamaan dengan itu, angin kencang menyapu membawa kabur selendang yang di pakai untuk membawa bakul tadi. Konon cerita, bakul nasi itu jatuh telungkup membentuk batu hitam yang sangat besar di sebut dengan batu golong. Golong dalam bahasa Jawa adat setempat artinya gulung (menggelundung), sedangkan nasinya membentuk anakan batu golong. Anakan batu ini memiliki diameter yang relatif lebih kecil jika di banfingkan dengan batu golong sendiri, paling – paling hanya berdiameter 5 meter. Selendang itu terbawa angin kencang. Ia terbang jauh menjelma Gunung Brujul di sebelah timur batu Golong tersebut.”
“Nah, begitulah ceritanya nduk, kenapa batu besar itu di namakan batu Golong. Sekarang sudah tidak penasaran lagi kan?” kata kakek.
“iya kek, sekarang Nini tau. Terimakasih kek” ucap Nini senang.          
“sama – sama nduk. Ayo di lanjut belajarnya sama mbakyu mu”
“mbakyu ndak belajar kok kek, mbakyu lagi ngalamun tu,,”
serentak semua menoleh kepada Yai, gadis berwajah tirus dengan lesung pipi nya yang manis.
“yee, apaan sih aku kan udah selesai belajarnya” Yai berlalu meninggalkan mereka yang masih heran dengan sikap anehnya.

***
 Sapuan awan menuju kelam
Masihkah engkau mengharapkan rembulan?
Bahkan bintang gemintang enggan bercengkerama
Menatap diam pada sosok yang merindukan sayang

Rembulan jingga
Melantunkan ayat – ayat
Bergelantung pada kaki langit di awan sana
Akar – akar rumput liar merunduk mengiba
Merebah dalam tanah mengubur derita cinta

Cinta, apakah segampang itu menikah dengan orang yang di cintai? Baru saja senja tadi membawa berita duka baginya.
Ahh gadis yang malang. Pertemuan dengan lelaki itu tempo hari ternyata bukan sinyal yang baik untuk hatinya. Lelaki yang di pujanya, yang selalu spesial dalam tangisan do’a – do’anya, lelaki yang telah merebut sebagian hatinya.

Lamunan itu bukan tanpa airmata. Sudah sejak tadi ia menahan dirinya untuk tidak menangis. Airmatanya sudah habis, hanya menyisakan kantong keringnya saja. Matanya telah lelah, lelah menangis untuk orang yang sekarang tidak lagi penting buatnya. Tidak akan pernah lagi spesial di hatinya, juga do’a – do’anya. 

Komentar

Rina mengatakan…
tulisannya bagus-bagus :)
Bunda, baru tahu ternyata kita bisa lihat komen di blog, hehee

tadi pagi iseng buka blog, eh ada yang terlewat selama ini :)

terimakasih Bun sdh berkenan membaca tulisan acak adul ini,,semoga menjadi motivasi tersendiri buat saya, aamiin

Postingan populer dari blog ini

Numpang Nama

One thing I don't like about my work culture is 'numpang nama'. This word is used for somebody whose name is in the decision letter for implementing activities, but they didn't do their job. And this is what I am experiencing now.  Terus terang aja, aku bukan tipical orang yang pinter juga, bukan juga orang yang sosialis juga. Tapi untuk pekerjaan aku prefer aku yang kerja jika emang ada namaku di sana. Kenapa sih tiap aku nanya tuh ga pernah dapat jawaban yg puas. Giliran ada masyarakat nanya2 informasi ke aku, kan aku jadi gapunya jawabannya.  Masa ada orang jauh-jauh datang ke kantor, aku cuma jawab 'Maaf pak saya gatau' kan lucu. Bayangin kalo orang itu adalah kamu atau orang terdekatmu. Kan Bangke! Herannya tiap aku bahas tentang hal ini ga ada yang kasih pendapat positif. Seakan aku tuh cuma outsider yang ga berhak apa2.  Kalo tau kaya gini aku gausah ada namaku di sana. Dapat ilmu dan pengalamannya minim tapi giliran ada apa-apa pasti keseret namanya.  Go...

Galau 2025

 Dear Aku,  udah lama nih aku ga curhat di sini. Entahlah. Makin ke sini makin jarang banget kita ngobrol ya.. padahal kalo mau, banyak banget loh yang bisa kita diskusiin, atau sekedar ngegabut ajaa..  And yes, as you know, AMU program has been finished since July last year. Even though I didn't get a good score, I tried my best. And then I took IELTS course at UI my score remain still. 5,5 for general.  This is our first time in 2025, yeah. It's been a while. I can tell I changed a lot. I'm not a person who loves read a book, I'm not a person who likes writing a diary as well as story as I used to be. Here I am, just an average girl with tons of laziness and excuses.  Dear Love,  I just don't understand myself anymore. I don't know how to tell you. I want to be back to myself as I was a decade ago. The day that I can write anything, even just nonsensical things, imagination, or even my odd poem. I was quite ambitious back then. I had a big dream. I u...

How is class in EF

 It's been a week i took an english class in EF.  It so funny that study english with native teacher and friends all around the world. Each class consist of maximal 9 student. Because we all in the same grade (intermediate) and mostly we have not fluent speak in english, so that sometimes we need take times to thinking what is that word in english.  In the class, teacher will ask us to speak and talking with other student for some issue, and then she will correct it. It is often happen, when i talk and suddenly got stuck because i don't know how to say in eglish, and i took time for searching on google translate.  We demanded to speak constantly, so that many of us still used 'a..a..aa' and so. In the end we laugh each other. Not underestimate..   Thankfully the teacher and all of student is understand that is an issue for us. And teacher giving support and cheer we up! That is going to be really funny moment. We had a flexible class along day. Each session...