Langsung ke konten utama

Merebut CintaNya

Aku masih berkutat pada buku – buku di depanku. Membolak – balik seolah  mencari sesuatu yang hilang. Sebentar – sebentar meraih tumpukan buku yang lain di samping kiri dan kanan. Bercecer.
Sementara suara keras TV di ruang tamu semakin membuatku tak bisa konsentrasi. Coratan di kertas yang sedang aku pegang semakin tak beraturan. Angka – angka yang tertulis rapi di dalam otak sepertinya enggan untuk keluar.
“Sudah malam, waktunya tidur Nduk,” Ibu memergoki masih setia mengerjakan soal seabreg yang ku pinjam dari tetangga tempo hari.
“Belum ngantuk Bu, nanggung, sebentar lagi.” Jawabku.
Beberapa saat setelah itu seisi rumah gelap. Hanya tinggal lampu kamarku saja yang masih menyala ditemani suara – suara berisik kertas yang kubuka dengan kasar.
****
            Kaki langit menghitam, seolah hendak menumpahkan amarahnya kepada bumi dan isinya. Suara gemuruh di sertai kilatan petir menambah heboh suasana di rumahku.
            “Gimana kalau hujannya terus – terusan gini?” Aku bertanya dengan gelisah.
            “Kita nggak usah berangkat saja. Lagian ini hanya do’a bersama kan?” Fitri menimpali.
Ya, benar juga sih hanya acara do’a bersama. Tapi kan do’a bersama juga penting, pikirku.
            “Karti mana ya, kok dia belum muncul – muncul juga?” tanyaku lagi. Aneh, jam sudah mundur setengah jam dari perjanjian kami bertiga. Setelah menunggu agak lama kami putuskan untuk meninggalkannya.
            Kami menembus ribuan titik – titik air itu. Hanya demi satu tujuan.
            Menembus impian…
****
            Senja mulai tenggelam oleh balutan nyanyian malam. Jejak hujan masih terlihat di sana – sini meninggalkan becek yang membuat kami malas beranjak dari musola. Untungnya, Pak Agus selaku guru pembimbing do’a bersama mengajak kami menonton sebuah film layar lebar. “Laskar Pelangi.”
Ratusan mata kini mulai tertuju pada sebuah tembok di depan kami, hampir tak mengedipkan mata. Sebuah kisah persahabatan, perjuangan yang mampu memporak porandakan kami sebagai pelajar. Semangat Ikal, itu yang kami dapat. Perjuangannya merebut lembar – lembar ilmu dari kampung terpencil di Belitung.
            Perjuangan ‘anak kampung’ itu telah berhasil mendobrakku. Jika mereka bisa, aku pun harus bisa.
****
            Nilai try out minggu lalu telah keluar. Aku segera menyambangi papan pengumuman itu. Kejutan, hasilnya sungguh mengecewakan. Bukan hanya kami, tapi juga pihak sekolah.
            Sepertiga malam yang semula sepi, kini riuh rendah oleh do’a – do’aku. Berharap cintaNya akan luluh bersama airmata yang terjatuh. Allah, izinkan hamba memulai dari sini. Untuk mencintaiMu. Maka perkenankanlah hamba merebut juara itu.
****
             Hari pengumuman pun tiba. Aku menunggu kertas pengumuman itu tak sabar. Juga harap – harap cemas. Allah, izinkan hamba untuk membahagiakan orangtua hamba.
Lamat, Ibuku keluar dengan secarik kertas di tangannya. Aku melihat senyum. Tapi, mengapa pula beliau menangis? Ah, ada apakah dengan kertas itu? dan tiba – tiba ibu telah memelukku.
            Aku meraih kertas yang membuatnya menangis. Kertas berstempel itu bahkan hampir robek oleh kecerobohanku.
Allah! Aku begitu bahagia, Engkau mencintai hamba ya Allah. Aku masih mendekap kertas yang telah lusuh itu.
           
****
             

Raudhatul Jannah. Penulis lahir di Kebumen, 03 Oktober 1994. Saat ini penulis bekerja sebagai karyawan di salah satu perusahaan swasta di daerah Cikarang.
Teman – teman bisa berteman dengannya di Facebook dengan account name Supinah atau  twitter @supinah94. Atau bisa juga menghubungi supinah94@gmail.com.
            Do’akan ya teman – teman supaya  bisa terus menebar manfaat melalui tulisan, aamiin.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Numpang Nama

One thing I don't like about my work culture is 'numpang nama'. This word is used for somebody whose name is in the decision letter for implementing activities, but they didn't do their job. And this is what I am experiencing now.  Terus terang aja, aku bukan tipical orang yang pinter juga, bukan juga orang yang sosialis juga. Tapi untuk pekerjaan aku prefer aku yang kerja jika emang ada namaku di sana. Kenapa sih tiap aku nanya tuh ga pernah dapat jawaban yg puas. Giliran ada masyarakat nanya2 informasi ke aku, kan aku jadi gapunya jawabannya.  Masa ada orang jauh-jauh datang ke kantor, aku cuma jawab 'Maaf pak saya gatau' kan lucu. Bayangin kalo orang itu adalah kamu atau orang terdekatmu. Kan Bangke! Herannya tiap aku bahas tentang hal ini ga ada yang kasih pendapat positif. Seakan aku tuh cuma outsider yang ga berhak apa2.  Kalo tau kaya gini aku gausah ada namaku di sana. Dapat ilmu dan pengalamannya minim tapi giliran ada apa-apa pasti keseret namanya.  Go...

Galau 2025

 Dear Aku,  udah lama nih aku ga curhat di sini. Entahlah. Makin ke sini makin jarang banget kita ngobrol ya.. padahal kalo mau, banyak banget loh yang bisa kita diskusiin, atau sekedar ngegabut ajaa..  And yes, as you know, AMU program has been finished since July last year. Even though I didn't get a good score, I tried my best. And then I took IELTS course at UI my score remain still. 5,5 for general.  This is our first time in 2025, yeah. It's been a while. I can tell I changed a lot. I'm not a person who loves read a book, I'm not a person who likes writing a diary as well as story as I used to be. Here I am, just an average girl with tons of laziness and excuses.  Dear Love,  I just don't understand myself anymore. I don't know how to tell you. I want to be back to myself as I was a decade ago. The day that I can write anything, even just nonsensical things, imagination, or even my odd poem. I was quite ambitious back then. I had a big dream. I u...

How is class in EF

 It's been a week i took an english class in EF.  It so funny that study english with native teacher and friends all around the world. Each class consist of maximal 9 student. Because we all in the same grade (intermediate) and mostly we have not fluent speak in english, so that sometimes we need take times to thinking what is that word in english.  In the class, teacher will ask us to speak and talking with other student for some issue, and then she will correct it. It is often happen, when i talk and suddenly got stuck because i don't know how to say in eglish, and i took time for searching on google translate.  We demanded to speak constantly, so that many of us still used 'a..a..aa' and so. In the end we laugh each other. Not underestimate..   Thankfully the teacher and all of student is understand that is an issue for us. And teacher giving support and cheer we up! That is going to be really funny moment. We had a flexible class along day. Each session...