Langsung ke konten utama

“KATANYA ORANG JAWA, TAPI KOK NGGAK BISA BAHASA JAWA?!”

Sering mendengar celetukan itu? Atau malah orang lain yang mengatakan itu kepada kita? Duh, malunya kalau kita yang kena.

“ajining diri saka lathi”

Kira-kira begitulah ungkapan dalam bahasa Jawa yang intinya bahwa orang lain menilai dan menghormati kita dari cara berbicara. Saat kita berbicara dengan orang dengan bahasa yang sopan santun, rendah hati, dan menghormati lawan bicara, tidak menutup kemungkinan bahwa orang lain juga akan menghormati kita. Begitu juga sebaliknya.
Ketika kita berbicara dengan orang lain dengan sembrono, sopan santunnya tidak dijaga, ditambah pola bahasa yang amburadul mungkin orang lain akan menilai kita “Katanya orang Indonesia, tapi perilakunya kok tidak mencerminkan adab orang timur.”

Betapa pentingnya peran bahasa untuk menciptakan komunikasi yang baik. Terlebih dalam dunia global yang saat ini menuntut seseorang untuk menguasai bahasa international jika tidak ingin terkucilkan dari dunia luar, dunia penuh kebebasan.

Masuknya budaya baru telah banyak mempengaruhi penggunaan bahasa oleh masyarakat Indonesia. Sadar atau tidak, Indonesia mengalami pergeseran budaya yang mana mereka lebih cenderung melebur kepada kebudayaan yang baru itu. Sehingga kebudayaan bangsa yang sejatinya agung menjadi tidak diminati atau ditinggalkan.

Saya, meskipun tinggal di daerah perindustrian di kota, tetap berusaha menggunakan bahasa daerah jika berada di rumah. Di kantor kebetulan ada satu karyawan yang selalu menyapa dan berbicara dengan saya dengan bahasa daerah. Krama inggil. Penguasaan saya yang minim tentang bahasa krama alus itu tidak jarang membuat saya pusing dan harus memutar otak mengingat pelajaran zaman SD. Tapi saya niatkan untuk tidak menjawab dengan bahasa Indonesia karena itu sama saja dengan tidak menghormati beliau. Dengan kondisi seperti ini, saya mendapatkan dua keuntungan sekaligus, yaitu belajar bahasa krama sekaligus belajar menerapkan sikap menghormati orang yang lebih tua.

Bahasa daerah merupakan identitas asal bagi seseorang. Bagian dari komunikasi sebagai alat sosialisasi dalam masyarakat. Adalah suatu kebanggaan tersendiri jika kita mampu melestarikan dan menjaga warisan budaya yang sudah diterima turun-temurun tanpa melihat dengan sebelah mata kebudayaan baru yang masuk.

Berbagai macam bentuk dan ukuran pamphlet tersebar menawarkan kursus bahasa asing yang tumbuh bagai jamur di musim hujan. Dari bahasa Korea, Jepang, Inggris, dan sebagainya. Tapi pernahkah Anda menjumpai “Kursus Bahasa Jawa” atau “Kursus Bahasa Dayak?”

Pemandangan orang-orang yang berbicara dengan bahasa asing  mulai menjadi trend di kalangan masyarakat. Orang berbondong-bondong masuk kursus bahasa luar negeri meski dengan harga yang melangit. Ketertarikan dengan bahasa asing dapat memicu lunturnya bahasa daerah. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, seperti adanya unsur keuntungan yang akan diperoleh, hingga soal  prestise yang melekat pada diri seseorang.

Beberapa faktor lain yang menyebabkan lunturnya bahasa daerah adalah vitalisasi etnolinguistik. Contohnya, orang Jawa yang merantau ke daerah lain. Jika penggunaan bahasa daerah tidak memungkinkan maka orang itu mau tidak mau harus menyesuaikan dengan bahasa baru dan lama kelamaan akan meninggalkan bahasa daerahnya.

Adanya rasa malu (minder) menggunakan bahasa daerah atau takut dibilang katro, ndeso, dan sebagainya juga dapat menyebabkan seseorang enggan menggunakan bahasa daerah.

Yang lebih menyedihkan, adalah cara pandang dari masyarakat. Di beberapa daerah, bahasa krama alus di identikkan dengan bahasa orang pondokkan. Jadi, seseorang yang menggunakan bahasa krama  alus di luar pondok biasanya ada yang mengatakan sok kalem, sok sopan, dan lain-lain. Walaupun ada beberapa yang mengapresiasi dengan positif.
Sejuta ironi untuk negeri ini. Lha orang niatnya baik kok, malah dipandang sebelah mata. Mereka sendiri tidak mendukung upaya pelestarian bahasa daerahnya. Bagaimana dengan orang lain? Saya yakin sekali hanya satu dari seribu keluarga yang mengajarkan anaknya bahasa krama.

Belum lagi sistem pendidikan di Indonesia yang menganak tirikan bahasa daerah. Fakta yang kita temukan, pelajaran bahasa Ingris di sekolah bisa sampai 3-4 kali pertemuan atau sekitar 6-8 jam dalam seminggu. Bandingkan dengan bahasa daerah yang hanya diberi waktu sekali pertemuan atau 2 jam dalam 7 hari.  Tak mengherankan jika kita menyaksikan fenomena anak yang mahir dalam bahasa ingris tapi tidak mengenal bahasa daerahnya.
Jika menilik laporan media, kita akan menemukan banyak hal yang amat mencengangkan. Puluhan bahasa daerah dinyatakan punah dan ratusan lainnya berada dalam situasi terancam punah. Jika hal ini terus dibiarkan tanpa tindak lanjut yang serius, lantas apa yang bisa dibanggakan oleh bangsa ini?

Bahasa internasional memang penting untuk kelangsungan hidup di masa yang akan datang, seperti dalam hal karir, tapi itu bukan berarti menganggap bahasa daerah tidak penting. Hilangnya bahasa daerah menimbulkan pertanyaan baru tentang Nasionalisme.

Media menyebutkan Bahasa Jawa yang identik dengan bahasa daerah di Indonesia tumbuh subur di negara tetangga Malaysia yang notabenenya bahasa melayu. Nah, kalau seandainya nanti mereka meng-hak patenkan kita mau apa? Menyalahkan mereka, demo sana-sini mengakuinya? Kalau mereka berkelakar ‘ah yang punya saja tidak mau melestarikannya’ kita mau jawab apa?

Sadar atau tidak, lunturnya bahasa daerah juga menyebabkan masyarakat jauh dari tata krama, sopan santun atau ‘tindak tanduk’. Kita tidak dapat menyanggah berbagai kasus yang menimpa negeri ini. “Seorang anak membunuh orang tuanya karena tidak di beri uang untuk membeli hp”. Judul yang menarik bukan?
Dalam ajaran manapun hal tersebut tidak dibenarkan. Terlebih dalam tatakrama orang Jawa. Bagaimana peran pemerintah dalam hal ini? Polisi menangkap pelaku, kemudian diperiksa ke rumah sakit jiwa. Lantas kemudian dikurung sekian tahun. Ah! Pernahkah kita berfikir bahwa semua berawal dari sebuah runtuhnya bahasa yang mengatur semua tata tertib berkehidupan?

Jika memang benar pendidikan adalah gerbang kemajuan bangsa, kenapa belum ada kebijakan yang menambah jam pelajaran untuk muatan lokal masing-masing daerah? Saya justru pernah mendengar di berita bahwa pemerintah akan menghapus mutan lokal dari kurikulum. Jika itu memang benar, lantas bahasa daerah yang seharusnya dijunjung tinggi mau dibawa kemana? Di lempar jauh agar jadi bahan rebutan negara lain, kah?

Kita tidak membutuhkan target jika ingin mengembalikan kebudayaan luhur ini. Alon-alon asal klakon begitu dalam pepatah jawa. Yang kita butuhkan adalah komitmen dan kegigihan. Dan jangan lupa peran semua pihak (pemerintah, sekolah, masyarakat, media cetak/elektronik).

Saya yakin tidak ada orang yang ingin benda berharganya di curi orang lain. Kekayaan budaya negeri ini adalah kebanggaan kita semua, jadi saya yakin tidak ada yang rela bahasa daerahnya di akui oleh negara lain. Bahasa daerah, cermin kekayaan kita bersama. Dan SAYA BANGGA MENGGUNAKAN BAHASA DAERAH SAYA.  

"Tulisan ini disertakan dalam kontes GA SADAR HATI -Bahasa Daerah Harus Diminati" http://infolombanulis.blogspot.com/2014/09/lomba-menulis-blog-berhadiah-tablet.html


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Numpang Nama

One thing I don't like about my work culture is 'numpang nama'. This word is used for somebody whose name is in the decision letter for implementing activities, but they didn't do their job. And this is what I am experiencing now.  Terus terang aja, aku bukan tipical orang yang pinter juga, bukan juga orang yang sosialis juga. Tapi untuk pekerjaan aku prefer aku yang kerja jika emang ada namaku di sana. Kenapa sih tiap aku nanya tuh ga pernah dapat jawaban yg puas. Giliran ada masyarakat nanya2 informasi ke aku, kan aku jadi gapunya jawabannya.  Masa ada orang jauh-jauh datang ke kantor, aku cuma jawab 'Maaf pak saya gatau' kan lucu. Bayangin kalo orang itu adalah kamu atau orang terdekatmu. Kan Bangke! Herannya tiap aku bahas tentang hal ini ga ada yang kasih pendapat positif. Seakan aku tuh cuma outsider yang ga berhak apa2.  Kalo tau kaya gini aku gausah ada namaku di sana. Dapat ilmu dan pengalamannya minim tapi giliran ada apa-apa pasti keseret namanya.  Go...

Galau 2025

 Dear Aku,  udah lama nih aku ga curhat di sini. Entahlah. Makin ke sini makin jarang banget kita ngobrol ya.. padahal kalo mau, banyak banget loh yang bisa kita diskusiin, atau sekedar ngegabut ajaa..  And yes, as you know, AMU program has been finished since July last year. Even though I didn't get a good score, I tried my best. And then I took IELTS course at UI my score remain still. 5,5 for general.  This is our first time in 2025, yeah. It's been a while. I can tell I changed a lot. I'm not a person who loves read a book, I'm not a person who likes writing a diary as well as story as I used to be. Here I am, just an average girl with tons of laziness and excuses.  Dear Love,  I just don't understand myself anymore. I don't know how to tell you. I want to be back to myself as I was a decade ago. The day that I can write anything, even just nonsensical things, imagination, or even my odd poem. I was quite ambitious back then. I had a big dream. I u...

How is class in EF

 It's been a week i took an english class in EF.  It so funny that study english with native teacher and friends all around the world. Each class consist of maximal 9 student. Because we all in the same grade (intermediate) and mostly we have not fluent speak in english, so that sometimes we need take times to thinking what is that word in english.  In the class, teacher will ask us to speak and talking with other student for some issue, and then she will correct it. It is often happen, when i talk and suddenly got stuck because i don't know how to say in eglish, and i took time for searching on google translate.  We demanded to speak constantly, so that many of us still used 'a..a..aa' and so. In the end we laugh each other. Not underestimate..   Thankfully the teacher and all of student is understand that is an issue for us. And teacher giving support and cheer we up! That is going to be really funny moment. We had a flexible class along day. Each session...