Langsung ke konten utama

Mentawai, impian antara timbul dan tenggelam

Aku tidak tahu harus memulai ceritaku dari mana. Tetapi akan kucoba merangkai satu demi satu agar bisa di mengerti oleh kalian yang membaca blogku ini. Ah tidak, mungkin mengerti bagi kalian adalah satu hal yang sulit. setidaknya, biar menjadi sedikit ringan apaapa yang menjadi bebanku.

Aku tidak tahu mengapa harus menceritakan ini, tetapi sejujurnya aku merasa berat jika harus memndamnya sendiri.

Usiaku 22tahun. dan aku bekerja di sebuah instansi di sebuah kabupaten di SUmatera Barat. Kabupaten Kepulauan Mentawai. Kau terbayang di manakah tempat itu? Bukalah google dan ketikkan nama tempat itu lalu kau akan menjumpai sebuah oh tidak, beberapa Pulau di Seberang Pulau Sumatera. Tepatnya agak ke bawah dari Pulau Nias. Itulah Kepulauan Mentawai tempatku bekerja.

Tetapi pada kenyataannya aku tidak tinggal di sana. Melainkan di sebuah Kota yang jauh dari sana. Selama 1.5 tahun masa kerjaku, aku baru ke sana sekali saja.

Apakah ada yang mengganjal? Aku bekerja pada sebuah instansi yang mengharuskan kegiatan pelayanan kepada masyarakat. *Ah, sampai di sini aku kehabisan kata-kata.

Aku akan pindah ke Mentawai. Sudah berkali-kali kami mendapat cibiran dari orangorang bahwa tak seharusnya kami di sini. Kami harus kembali meskipun dengan segala kekurangan dan keterbatasan di sana.
Bukan aku keberatan, memang benar bahwa seharusnya kami pindah ke sana. Memang seharusnya kami tak pernah ada di sini.

Bukan, bukan itu yang kusayangkan.
Lain bukan, karena mereka berkata apa yang mereka tak tahu. Mereka bicara tentang Mentawai seolah tahu segalanya kondisi di sana. Padahal mereka hanya mendengar dari cerita orang. Yang mereka tahu hanya keindahannya, keelokannya. Mereka tak tahu sepenuhnya dan kata-katanya menyuruh kami hengkang segera.

Baik. sekarang tengoklah ke dalam suatu bangunan yang berdiri tahun 2007. Bangunan sepuluh tahun lau tidak begitu besar. Hanya 300 meter luasnya. Berdiri agak masuk dari jalan Raya yang kanan kirinya masih banyak di tumbuhi hutan dan semak. Jalanan dari Ibu Kota pun lumayan jauh. Sepuluh Kilometer. Sama dengan jarak rumahku ke kota!

Di lihat dari kejauhan, bangunan itu masih kokoh berdiri. tetapi mendekatlah sedikit agar penilaian kau itu tak keliru. Jalanan yang becek apabila hujan mengguyur. Ya, masih berupa tanah merah. Masuklah ke dalam bangunannya. Dinding yang semula berwarna putih, kini sudah banyak pudar warnanya. Atap yang masih bolong-bolong dan sinar lampu yang tak mencukupi di seluruh ruangan.
Tak cukup sampai di situ. Perhatikanlah temboknya yang berlubang! Dan dari sini kau bisa menggambarkan bahwa itu adalah bangunan tua yang tak terawat. Terlantar!

Dan itulah kantorku!

Kami bersembilan (kalau yang lain tak keberatan di sebut). Tetapi jika kau sudah melihat kami bekerja di 'kantor' kau akan tahu berapa pegawai 'sesungguhnya' di sana. Ah, rasanya tidak adil jika harus menceritakan semuanya.

Kembali pada acara pindahan itu.
Setelah dipikirpikir, aku ingat. Dulu sekali aku pernah menginginkan hidup jauh dari orangtua, mencoba berkelana dan hidup sendiri. Aku membayangkan "Merdeka!" dan sekarang ketika Allah menyajikan di depan mataku, aku menjadi gamang.

Pernah sekali waktu aku ke sana (read: Mentawai) pada awal masa kerjaku. Mengintip gimana sih 'kantorku' itu? Menyengangkan, karena seminggu di sana aku terbebas dari pekerjaanku untuk sementara waktu. Kesan pertama aku datang, semuanya terlihat kotor, kumuh. Ah, seperti yang kubilang di awal, sebuah bangunan tua yang terlantar. Kami berangkat dari Padang jam 5 sore, berangkat dari dermaga sekitar jam 9 malam. Dan kapal mendarat tepat jam 7 pagi di dermaga Tuapejat (Ibukota Kabupaten).

Kebetulan, perjalanan kami semalam di temani hujan sehingga kami dapat menyaksikan sepanjang perjalanan berupa tanah merah (tanah liat). Kami mampir sebentar sarapan soto ditraktir Pak Bayu (Aku lebih pewe manggil Pa Bay). Sekitar 30menit kemudian Pa Yatna mengkondikan situasi. Kami ada motor 2 unit di sana, jadi mungkin beliau minta buat di antar motor itu. Selebihnya kami naik, kalau bisa di bilang angkot.
tetapi di lihat model dan kendaraannya lebih mirip angkot jaman dahulu di kampungku.

Alas dan tempat duduknya tinggi. Tidak ada pegangan di dalamnya jadi tangan kita harus pegangan bagian bawah jok. Jalanan di sana kebanyakan aspal yang hancur jadi siap-siap mabok aja kalau yang jarang bepergian. heheh

Tidak ada tempat tidur di sana (iyalah, kan kantor :P) jadi kami harus berbagi alas tidur. Aku cewek sendiri di antara sekian banyak orang di kantor :(

Jika aku berkata jujur, aku ingin kami lebih optimal melayani masyarakat. Itulah mengapa aku tak keberatan untuk pindah. Tapi..mbok ya jangan gitu seenaknya nyuruh pindah. Lihatlah dulu situasi dan kondisi di sana. Kami harus berjuang melawan segala kekurangan dan keterbatasan kami. Usaha kami akan lebih berat tidak seperti kalian yang bekerja di kota.

Its okay. setidaknya aku harus punya keyakinan dan azzam yang kuat, bahwa di manapun aku berada aku harus menjadi manusia yang berguna. Semangat! Bismillah pindahan :D

Postingan populer dari blog ini

Numpang Nama

One thing I don't like about my work culture is 'numpang nama'. This word is used for somebody whose name is in the decision letter for implementing activities, but they didn't do their job. And this is what I am experiencing now.  Terus terang aja, aku bukan tipical orang yang pinter juga, bukan juga orang yang sosialis juga. Tapi untuk pekerjaan aku prefer aku yang kerja jika emang ada namaku di sana. Kenapa sih tiap aku nanya tuh ga pernah dapat jawaban yg puas. Giliran ada masyarakat nanya2 informasi ke aku, kan aku jadi gapunya jawabannya.  Masa ada orang jauh-jauh datang ke kantor, aku cuma jawab 'Maaf pak saya gatau' kan lucu. Bayangin kalo orang itu adalah kamu atau orang terdekatmu. Kan Bangke! Herannya tiap aku bahas tentang hal ini ga ada yang kasih pendapat positif. Seakan aku tuh cuma outsider yang ga berhak apa2.  Kalo tau kaya gini aku gausah ada namaku di sana. Dapat ilmu dan pengalamannya minim tapi giliran ada apa-apa pasti keseret namanya.  Go...

Galau 2025

 Dear Aku,  udah lama nih aku ga curhat di sini. Entahlah. Makin ke sini makin jarang banget kita ngobrol ya.. padahal kalo mau, banyak banget loh yang bisa kita diskusiin, atau sekedar ngegabut ajaa..  And yes, as you know, AMU program has been finished since July last year. Even though I didn't get a good score, I tried my best. And then I took IELTS course at UI my score remain still. 5,5 for general.  This is our first time in 2025, yeah. It's been a while. I can tell I changed a lot. I'm not a person who loves read a book, I'm not a person who likes writing a diary as well as story as I used to be. Here I am, just an average girl with tons of laziness and excuses.  Dear Love,  I just don't understand myself anymore. I don't know how to tell you. I want to be back to myself as I was a decade ago. The day that I can write anything, even just nonsensical things, imagination, or even my odd poem. I was quite ambitious back then. I had a big dream. I u...

How is class in EF

 It's been a week i took an english class in EF.  It so funny that study english with native teacher and friends all around the world. Each class consist of maximal 9 student. Because we all in the same grade (intermediate) and mostly we have not fluent speak in english, so that sometimes we need take times to thinking what is that word in english.  In the class, teacher will ask us to speak and talking with other student for some issue, and then she will correct it. It is often happen, when i talk and suddenly got stuck because i don't know how to say in eglish, and i took time for searching on google translate.  We demanded to speak constantly, so that many of us still used 'a..a..aa' and so. In the end we laugh each other. Not underestimate..   Thankfully the teacher and all of student is understand that is an issue for us. And teacher giving support and cheer we up! That is going to be really funny moment. We had a flexible class along day. Each session...