Malam yang sangat bersih, dan syahdu. Jika kau dongakkan kepalamu memandang langit, kau akan dapati berjuta bintang bertebaran malam itu. Hening, hanya ada suara jangkrik, pertanda musim kan segera berganti.
Aku masih berkutat pada setumpuk tugas yang membuatku hampir gila. Setengah mati penasaran berusaha memecahkan lembaran-lembaran permasalahan. Apalah daya, dengan kapasitas otakku yang sudah tumpul ini, memang sudah menjadi nasib-aku tak mampu memahami dan menyelesaikan persoalan itu.
Ahh!! aku merengut, menarik napas panjang, dan mendengus kesal. Mengapa aku bodoh begini, sedangkan semua temanku bisa menyelesaikannya. Aku bagai itik di tengah-tengah mereka. Aku merasa tersisih, dan semacam ada barrier yang menghalangi kami. Aku ada tapi tak terlihat. Aku hadir tapi tak nampak. Aku hanyalah setitik debu di tumpukan pasir. Mustahil terjamah dan di perdulikan.
Pukul 08.30 malam ketika sedang hening-heningnya, ketika aku sedang mendengus sebal dan kesal dengan diriku, tiba-tiba ayah datang tergopoh-gopoh. Dengan serba terburu-buru, dia mengabarkan berita kematian dari Jakarta. Adik kami telah berpulang selamanya.
Aku terkonjak kaget mendengar berita itu. Bagaimana tidak, dua hari lusa kabarnya dia sudah cukup baik kondisinya, meskipun masih dalam perawatan rumah sakit. Adik kami, begitu muda, tiga tahun usianya dibawahku dan telah menikah dengan teman SMP nya.
Aku masih terpaku dalam kebingungan, hingga akhirnya aku ingin benar-benar memastikan kebenaran berita itu. bertolak pesanku kepada Saudara di Jakarta, dan aku dapati berita hitam itu benar adanya.
Lekas aku ke rumah saudaraku, Ibu dari adik sepupuku ini dan di sana telah banyak orang-orang datang dari tarawih, maupun sanak saudara yang jauh. Berita cepat tersebar, dan keheningan malam sesaat telah penuh dengan tangisan orang-orang.
Orang datang silih berganti, menyiapkan segala sesuatu untuk keperluan takziah, dan yang paling tidak bisa aku lupa adalah erangan sang Ibu. Rasanya tidak mungkin, dan berat bagi kami untuk menerima kebenaran berita itu. Sang Ibu terus meronta-ronta meminta anaknya yang telah meninggal itu untuk dibawa pulang dan di makamkan di kampung halaman. Semua oran terlibat. Hanya aku, yang hanya bisa menatapi kepedihan orang-orang. Sesekali air mata berlinang, karena kematian teman masa kecilku. Dia, anak pertama dari sang Ibu yang sangat bisa diandalkan. Pembawaan yang kalem dan cekatan membuatnya disukai orang-orang.
Namanya Imam, dan sudah hampir sebulan yang lalu ia jatuh sakit. Sebenarnya ini bukan kali pertama ia sakit parah. Tahun lalu ia terkena tipes, dan untuk sementara waktu di rawat di kampung halaman. Dia ulet, pekerja keras dan sedikit bicara. Mungkin pekerjaan yang membuatnya sampai harus begitu. Meskipun pekerjaan yang sudah di jalani sekitar empat tahun belakangan begitu menguras tenaga, tapi ia tetap berjuang untuk menambah pundi-pundi rupiah, apalagi dengan kondisi rumah tangga baru, dan masih ada adik-adik yang mesti ia bantu.
"Kembalikan Imam!! Kembalikan anakku!! Bawa pulang anakku!! hu hu hu hu!!" jeritan dengan suara agak parau kembali terdengar. Sudah sejak satu jam yang lalu wanita itu menangis, berteriak dan tangan mungilnya mencoba menggapai sesuatu. Suara yang hampir habis, dibarengi dengan teriakan pilu itu-siapa yang tak menangis mendengarnya. Air mata turut menggenang di pipi kami, dan bayangan kematian terus memburu dan merasuk ke dada kami. Seolah kami menyaksikan kematian itu sendiri, dan merasakan kehilangan orang yang kami cintai. Begitu dalam kesedihan dan menyakitkan.
Lihatlah! seorang wanita paruh baya tengah tergolek di ranjangnya. Meratapi kepergian anak yang sangat di cintainya, dan menyesali kemalangan sang anak. Hatinya teriris, betapa beberapa hari kemarin sang Ibu baru mendapat kabar baik tentang kondisi kesehatannya, dengan tiba-tiba ia seolah mendapat tindihan batu besar yang menghimpit dada.
Ia jatuh tersungkur, tak sadarkan diri dan saat tersadar kembali berterian memanggil manggil anaknya yang telah tiada. Ia meringkuk, dengan mata terpejam, dan bibir yang tak lagi berwarna. Begitu dalam ia merengkuh dukanya itu, dan hanya akhirnya hanya terdengar isak tangis yang lemah. Ia tertidur dalam lelah tangis yang berkepanjangan.
Selamat jalan adikku, selamat jalan teman masa kecilku. Semoga dengan jalan ini dengan sakit yang kau rasakan pertanda Allah telah menghapuskan dosa-dosamu. Allah ingin kau menghadap tanpa dosa, dan bersanding dengan orang-orang yang saleh di sisiNya. tenanglah, usah cemaskan kami, kami akan bersamasama bertahan dari kesedihan ini, dan berusaha ikhlas dengan apa yang menimpa kami. Nikmat Allah telah dicukupkan atasmu, tugas kami mensyukuri nikmat Allah yang diberi kepada kami. Allahummaghfirlahu warhamhu wa'afihi wa'fu'anhu.
