Secara tak sengaja, hari ini aku membuka hari dengan menyalakan laptop untuk mencari apa sesuatu yang kira-kira bisa kulakukan. dan terpampang seorang wajah perempuan berjibab menjadi ikon google hari ini.
Rasuna Said.Nama yang tak begitu asing di telinga. Tapi, sepanjang yang aku tahu, itu memang digunakan sebagai nama sebuah jalan di Padang. Tapi mengenai siapa dia dan bagaimana kehidupan sang tokoh, aku tak pernah tahu.
Di bayanganku, Rasuna Said adalah seorang pria. Karena namanya memang terdengar begitu kan?
Aku tak menyangka bahwa beliau adalah seorang wanita, dan hebatnya juga beliau adalah seorang pejuang, tokoh dan mendapat gelar pahlawan Nasional pada tahun 1974.
Aku menjadi semakin penasaran dengan kisah hidup sang tokoh. Dan kubuka pranala link di sebuah wikipedia.
Beliau adalah keturunan bangsawan Minang, dan pernah berguru pada HAMKA. seperti tokoh minang lainnya yang bersekolah di sekolah diniyah, beliau juga sekolah di sana. Sempat menjadi asisten guru, dan mendirikan sekolah perempuan juga. Dan hebatnya beliau juga aktif dalam perjuangan kemerdekaan dari Belanda saat itu.
Beliau menentang keras kolonialisme dan menjadi perempuan pertama yang dipenjara Belanja karena delik bicara menentang Belanda. Beliau di makamkan di Semarang dan diantarkan oleh kurleb 1000 orang ketika akan diasingkan dengan kapal dari Sumatera.
Selain sebagai tokoh agama dan politik, beliau juga merupakan jurnalis. Rasuna Said mendirikan sebuah majalah Menara Poetri yang berisikan gagasan-gagasannya mengenai perempuan dan kemerdekaan Indonesia. akan tetapi majalah tersebut pada akhirnya ditutup karena bangkrut, karena dari penjualan majalah, hanya separuh yang membayarnya. Konon kasus serupa sering terjadi pada perusahaan malajah. Beliau disebut-sebut sebagai orator yang ulung dan kritiknya selalu tepat sasaran.
Hajjah Rangkayo Rasuna Said pasca kemerdekaan pernah menjabat sebagai perwakilan KNIP, anggoota DPR sementara. Karena perjuangannya tersebut nama beliau akhirnya di pakai untuk nama jalan arteri Jakarta, Padang dan Payakumbuh serta nama stasiun KRL di Jakarta.
Aku tak henti meneteskan air mata ketika membaca ringkasan kisah yang begitu hebat. Dadaku terasa sesak ketika membayangkan beapa berat jalan yang ia lalui untuk memajukan perempuan dan kemerdekaan bansa. Fakta bahwa beliau telah mengerahkan semua yang ia punya termasuk kehebatan orasinya sungguh mengingatkanku pada tokoh-tokoh lain yang dengannya berkobarlah semangat meraih kemerdekaan.
Aku tak bisa membayangkan, seandainya para pendiri bangsa masih hidup di tengah-tengah kita, apa yang akan mereka katakan pada kita semua? Generasi yang telah hidup nyaman dengan segala fasilitas dan kecanggihan teknologi yang ada.
Apakah mereka akan menyesal telah mengorbankan dirinya hanya demi ini?
Pergolakan polotik selalu ada. Politik bukanlah sesuatu yang bisa dihilangkan begitu saja dari muka bumi. justru Keberadaannya haruslah menjadi sebuah jalan untuk meraih sebuah tujuan dan cita-cita bangsa.
Komentar