Pagi ini mendung seperti kemarin. Sang surya pun enggan beranjak untuk menampakkan dirinya lagi, seolah ia telah malas berhubungan dengan bumi. Bagaimana tidak? Bumi yang dulu cantik nan elok kini telah menjelma menjadi tanah yang tandus, kering dan bahkan ganas. Ah, fenomena kehidupan modern di zamanku, atau bahkan mungkin kehidupan tak beradap lagi. Entahlah, aku tak tahu, bingung membedakan mana itu kebiadapan.dan mana itu kemoderenisasian. Aku tak peduli.Bahkan sangat tidak peduli tentang semua itu. tentang diriku pun aku tidak pernah peduli. Ya, aku memang terlahir sebagai orang yang tidak peduli. Mungkin lebih tepatnya lagi setelah aku kehilangan orang yang paling aku sayang. Dia adalah MAMA.
Aku Nia.
Mamaku meninggal 3 tahun yang lalu. Ketika itu tahun baru hijriah, ya,, tanggal 1 syura tepat ketika hari terakhirku memiliki seorang mama. Bukan kehendakku untuk kehilangan. Apalagi dia adalah hartaku dan jiwaku, dialah tempat aku menumpahkan segala permasalahanku, dan dialah mata air yang abadi. Yang akan terus memberikan kesejukan dan kehidupan bagi orang2 di sekelilingnya, yaitu aku. Akulah yang menjadi tanah kering dalam keluarga kami. Sedang dia tak pernah sekalipun berhenti mengucurkan mata airnya. Agar aku basah dan dapat ditumbuhi berbagai macam bunga.
Mama memang suka berbagai macam bunga. Sekalipun kami tak punya koleksi satupun. Karena kami miskin. Kami tak pernah punya uang lebih untuk mengoleksi bunga-bunga kesukaan mama.
Tapi itu tak jadi soal. Mama tau benar apa arti hidup ini. Biarpun tak ada hiasan bunga- di rumah kami,, toh mama masih memiliki aku. Dan apa kalian tau? Aku jauh lebih berharga dan lebih indah di banding bunga-bunga itu..Setidaknya itulah yang pernah mama ucapakan padaku sewaktu kami melihat bunga mawar milik tetangga kami.. Dan mama benar kok, aku selalu ada buat mama. Kami pun menjadi keluarga yang bahagia. walau tanpa seorang ayah.
Ayahku pergi. Tak tahulah kemana. Kata mama ayah pergi merantau ke kalimantan. Sebuah pulau di sebelah utara Laut Jawa. Ayah pergi ikut kenalannya, tetangga desa kami. Namun dia sudah memiliki keluarga dan tinggal disana...
Sedang ayahku??
Ah,, tak pernah kami dengar lagi kabar ayah disana? Entah apa dia masih ingat pada kami yang selalu merindukannya. Atau ayahku telah memiliki wanita lain?? Aku tak terlalu memikirkannya. Karena aku TAK PEDULI..Itulah aku.
Begitulah setiap harinya. aku dan mama hanya menjalani hidup berdua saja. Aku tak iri karena tak mempunyai ayah. Tapi aku kasihan sama mama, setiap hari mama menjalankan perannya juga sebagai ayah.
Mamaku wanita terhebat yang pernah aku temui. Mama tak pernah mengeluh. Tapi tulang-tulangnya yang berbicara kepadaku. Setiap aku memandang mama, ku dapati kehangatan dalam matanya. bersinar menerangi jalan hidupku yang bisa di bilang suram,.
Suatu hari saat petang mama bertanya padaku. "apakah kamu merindukan ayahmu sayang?" sambil di belai rambutku dengan tulus. Ku jawab. "tidak". Aku tak berkata apa- apa lagi . Karena aku merasa Mama sedang merindukan ayah. Kali ini kulihat mama menangis. Ku peluk erat mama. Karena aku tak mau kehilangan dia,. Aku takut..
Malam itu langit kelabu, tak da bintang seperti hati mama,,,,
***
Pagi yang buruk kurasa. Ingatanku kembali pada mama. Disaat-saat seperti ini aku selalu menangis. Sesenggukan. Tapi peercuma saja. Sekeras apapun tangisan yang ku buat, tak akan ada yang mendengarnya.
Aku memang cengeng.Tapi aku tidak lemah.Buktinya sampai sekarang aku masih bisa menjalani hari2ku tanpa mama.
Hari pertama aku bekerja. Di sini aku mulai melihat dunia luar. Dimana ego akan selalu menjadi pemenang dalam setiap pertarungan batin. Meski ada segelintir orang yang masih berbaik hati, tapi itu hanya dalam hitungan jari.
Jadwal kerjaku bisa dibilang padat. Mungkin akan terkesan sok sibuk,, karena pekerjaan kecil-kecil dan agaknya 'kurang penting'. Tapi bukankah kita bisa mengambil pelajaran yang begitu besar dari hal yang kita anggap tak berharga?
Begitulah aku menjaani hari - hari ku. tanpa lelah,,,dan tak boleh putus asa. Seperti kata mama "hiduplah engkau seperti lilin sayangku'
'kenapa ma'? tanyaku
'karena dia akan bisa menjadi penerang bagi sekelilingnya. Ia rela tubuhnya terbakar. Tapi tak pernah dia menolak untuk di jadikan lilin,, putriku'
Ku renungkan kembali kata-kata mama. Ku simpan di hati ini. brsama cinta mama yang abadi.
***
Sedang ayahku??
Ah,, tak pernah kami dengar lagi kabar ayah disana? Entah apa dia masih ingat pada kami yang selalu merindukannya. Atau ayahku telah memiliki wanita lain?? Aku tak terlalu memikirkannya. Karena aku TAK PEDULI..Itulah aku.
Begitulah setiap harinya. aku dan mama hanya menjalani hidup berdua saja. Aku tak iri karena tak mempunyai ayah. Tapi aku kasihan sama mama, setiap hari mama menjalankan perannya juga sebagai ayah.
Mamaku wanita terhebat yang pernah aku temui. Mama tak pernah mengeluh. Tapi tulang-tulangnya yang berbicara kepadaku. Setiap aku memandang mama, ku dapati kehangatan dalam matanya. bersinar menerangi jalan hidupku yang bisa di bilang suram,.
Suatu hari saat petang mama bertanya padaku. "apakah kamu merindukan ayahmu sayang?" sambil di belai rambutku dengan tulus. Ku jawab. "tidak". Aku tak berkata apa- apa lagi . Karena aku merasa Mama sedang merindukan ayah. Kali ini kulihat mama menangis. Ku peluk erat mama. Karena aku tak mau kehilangan dia,. Aku takut..
Malam itu langit kelabu, tak da bintang seperti hati mama,,,,
***
Pagi yang buruk kurasa. Ingatanku kembali pada mama. Disaat-saat seperti ini aku selalu menangis. Sesenggukan. Tapi peercuma saja. Sekeras apapun tangisan yang ku buat, tak akan ada yang mendengarnya.
Aku memang cengeng.Tapi aku tidak lemah.Buktinya sampai sekarang aku masih bisa menjalani hari2ku tanpa mama.
Hari pertama aku bekerja. Di sini aku mulai melihat dunia luar. Dimana ego akan selalu menjadi pemenang dalam setiap pertarungan batin. Meski ada segelintir orang yang masih berbaik hati, tapi itu hanya dalam hitungan jari.
Jadwal kerjaku bisa dibilang padat. Mungkin akan terkesan sok sibuk,, karena pekerjaan kecil-kecil dan agaknya 'kurang penting'. Tapi bukankah kita bisa mengambil pelajaran yang begitu besar dari hal yang kita anggap tak berharga?
Begitulah aku menjaani hari - hari ku. tanpa lelah,,,dan tak boleh putus asa. Seperti kata mama "hiduplah engkau seperti lilin sayangku'
'kenapa ma'? tanyaku
'karena dia akan bisa menjadi penerang bagi sekelilingnya. Ia rela tubuhnya terbakar. Tapi tak pernah dia menolak untuk di jadikan lilin,, putriku'
Ku renungkan kembali kata-kata mama. Ku simpan di hati ini. brsama cinta mama yang abadi.
***
Komentar
terimakasih