Senja, ketika sebuah pesan masuk ke ponselku.
“Yayu, ajarin PR Bahasa Inggris.”
Itu pesan dari adikku. Entah, tiap kali aku menerima pesan
seperti itu, hatiku selalu terasa sesak. Bukan karena enggan mengajarinya. Tapi
karena…
“Halo,” terdengar suara dari seberang.
Aku senang ketika adikku antusias mengerjakan tugas
sekolahnya. Dulu, saat dia masih SD, untuk mengajarinya belajar bahkan kami
harus beradu mulut. Tapi sekarang, ketika kesadaran belajarnya mulai tumbuh,
ketika semangatnya berapi-api, aku justru merasa sedih.
“Ngomongnya yang bener! Kalau Bahasa Inggris cara bacanya
beda!” bentakku.
Dia kembali mengulang sebuah soal yang membuatnya rumit. Tapi
begitu ia mengulangi, aku membentaknya lagi. Dia begitu lambat mengerti apa
yang ku ucapkan. Hingga kekesalannya membuncah,
“Anjing! Belajar cuma di omelin terus!”
Lalu suara di seberang terputus.
Pipiku terasa hangat. Ah! Seharusnya aku bisa bersabar lagi.
Dia, seharusnya kudukung agar tak bosan menggapai mimpinya.
Dan saat itu, aku baru tahu bahwa aku telah mengikis
semangatnya. Ah!
Komentar