Langsung ke konten utama

Keberuntungan ada karena di upayakan

Keberuntungan ada karena di upayakan

Seringkali kita merasa rendah, merasa orang yang paling sial di dalam menjalani hidup ini. Terkadang apa yang kita usahakan, yang kita inginkan tak di berikan Tuhan. Misalnya ingin masuk ke kampus yang terbaik. Ingin menjadi juara kelas, ingin menjadi perhatian public, dll. Ketika kita sudah berusaha maksimal, sudah belajar mati-matian kenapa malah tidak di terima? Sedangkan teman kita yang sehari-hari nilainya di bawah kita, mungkin. Yang sikapnya biasa-biasa saja justru di terima. Di sini kita seringkali merasa orang yang paling sial. Dan menganggap teman kita yang diterima seakan-akan dialah orang yang paling beruntung. Nah yang paling parah adalah sikap yang menyalahkan Tuhan.

Tapi tahukah kalian bahwa sebuah keberuntungan berawal dari sesuatu yang kecil ialah Habbit (kebiasaan). “Tapi aku udah berusaha maksimal kok, dasar dianya aja yang lagi beruntung.” Hei bro, coba deh tengok ke belakang, cari tahu apa sih yang membedakan antara aku sama dia? Kita sama-sama berusaha bahkan mungkin cenderung lebih pinter gue di bandingkan dia. Kita telaah satu per satu, habbitnya dia apa sih, sehingga dia bisa beruntung?

Habbit (kebiasaan) ialah sesuatu yang dilakukan secara berulang-ulang tanpa sadar. Maksudnya tanpa sadar bukan dilakukan dengan tidur ya, bro. Tapi sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan dan rutinitasnya. Seseorang yang memiliki habbit yang baik, cenderung memiliki time management yang baik. Kehidupannya seolah teromotasisasi oleh waktu. Sehingga mengerjakan apa yang menjadi kebiasaannya adalah hal yang otomatis dilakukan tanpa perintah otak.

Seorang ulama dapat menyampaikan dakwahnya juga berawal dari habbit. Seorang penulis best seller juga mengawali kariernya dengan habbit. Begitupun seorang yang gagal memulai kegagalannya dengan habbit. Jadi, habbit mempengaruhi kesuksesan & kegagalan seseorang.

Aku contohin deh di sini. Misalnya A ingin memasuki kampus tersohor di Jakarta. Nilai ujian akhir kemarin di atas rata-rata kelas. Stop sampai di sini, peluang dia untuk masuk di perguruan tinggi tersebut tentu harusnya tinggi, dong.

Ada lagi, teman sekelasnya B ingin bisa masuk ke perguruan tinggi yang sama. Nilai ujian akhirnya masuk lah ke perhitungan standar Pt yang bersangkutan. Jika stop sampai di sini seharusnya yang di terima A, dong. Iya kan? Harus iya! Ehhee. Tapi apa jadinya jika ternyata yang diterima adalah B?

Jika kita berada di pihak A, tentu kita akan merasakan sakit yang amat, menyesal berkepanjangan, mungkin. Atau marah, meraung-raung, memvonis dirinya bahwa dia adalah orang yang paling malang sedunia, menjudge Tuhan tidak adil, de el el.

Tuhan itu adil loh, ya. Dia memberi apa yang hambaNya usahakan. Tentunya usaha yang baik-baik. Oke, sampai di sini kalian boleh protes. Mari kita flash back kehidupan dua manusia itu.

Si A, rajin belajar ketika ulangan mau tiba. Besok pagi ulangan, malamnya baru belajar. Istilah Jawanya itu wayangan. Si B juga rajin belajar, tapi bukan hanya ketika ulangan saja, setiap hari minimal 10 menit B ini selalu menyempatkan diri untuk membaca. Membaca saja, tidak perlu belajar. Di tambah shalat malamnya yang sudah menjadi habbit, begitupun dengan bangun paginya.
Semua habbit yang baik sudah melekat di dalam diri B, makanya ketika penerimaan mahasiswa Tuhan memberikan keberuntungan pada si B. tapi ingat ini bukan masalah pilih kasih, tapi Dia memberikan hasil pada yang manusia upayakan.

Jadi, keberuntungan itu harusnya di usahakan. Kita tak pantas hanya menunggu. Dan pada intinya semua upaya adalah bagian dari habbits yang sering di lalaikan manusia.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Numpang Nama

One thing I don't like about my work culture is 'numpang nama'. This word is used for somebody whose name is in the decision letter for implementing activities, but they didn't do their job. And this is what I am experiencing now.  Terus terang aja, aku bukan tipical orang yang pinter juga, bukan juga orang yang sosialis juga. Tapi untuk pekerjaan aku prefer aku yang kerja jika emang ada namaku di sana. Kenapa sih tiap aku nanya tuh ga pernah dapat jawaban yg puas. Giliran ada masyarakat nanya2 informasi ke aku, kan aku jadi gapunya jawabannya.  Masa ada orang jauh-jauh datang ke kantor, aku cuma jawab 'Maaf pak saya gatau' kan lucu. Bayangin kalo orang itu adalah kamu atau orang terdekatmu. Kan Bangke! Herannya tiap aku bahas tentang hal ini ga ada yang kasih pendapat positif. Seakan aku tuh cuma outsider yang ga berhak apa2.  Kalo tau kaya gini aku gausah ada namaku di sana. Dapat ilmu dan pengalamannya minim tapi giliran ada apa-apa pasti keseret namanya.  Go...

Galau 2025

 Dear Aku,  udah lama nih aku ga curhat di sini. Entahlah. Makin ke sini makin jarang banget kita ngobrol ya.. padahal kalo mau, banyak banget loh yang bisa kita diskusiin, atau sekedar ngegabut ajaa..  And yes, as you know, AMU program has been finished since July last year. Even though I didn't get a good score, I tried my best. And then I took IELTS course at UI my score remain still. 5,5 for general.  This is our first time in 2025, yeah. It's been a while. I can tell I changed a lot. I'm not a person who loves read a book, I'm not a person who likes writing a diary as well as story as I used to be. Here I am, just an average girl with tons of laziness and excuses.  Dear Love,  I just don't understand myself anymore. I don't know how to tell you. I want to be back to myself as I was a decade ago. The day that I can write anything, even just nonsensical things, imagination, or even my odd poem. I was quite ambitious back then. I had a big dream. I u...

How is class in EF

 It's been a week i took an english class in EF.  It so funny that study english with native teacher and friends all around the world. Each class consist of maximal 9 student. Because we all in the same grade (intermediate) and mostly we have not fluent speak in english, so that sometimes we need take times to thinking what is that word in english.  In the class, teacher will ask us to speak and talking with other student for some issue, and then she will correct it. It is often happen, when i talk and suddenly got stuck because i don't know how to say in eglish, and i took time for searching on google translate.  We demanded to speak constantly, so that many of us still used 'a..a..aa' and so. In the end we laugh each other. Not underestimate..   Thankfully the teacher and all of student is understand that is an issue for us. And teacher giving support and cheer we up! That is going to be really funny moment. We had a flexible class along day. Each session...