Dalam novel "Cry, Better or Better Yet Beg" sosok Mathias digambarkan sebagai bangsawan yang sempurna di seantero jagat. Sebagai satu-satunya ahli waris keluarga Herdart, dia sudah ditakdirkan untuk menjadi pemimpin keluarga yang kaya raya yang memiliki banyak bisnis. Dia merupakan sosok yang paling berpengaruh di Arvis, tempat tinggal Layla, the female main lead.
Layla, perempuan malang yang tinggal di rumah Paman Bill sejak kecil adalah gadis yang sangat cantik. Dalam novelnya, Laila tumbuh menjadi gadis yang pemberani dan terpelajar. Dia mempunyai cita-cita menjadi seorang guru.
Di balik rutinitas kehidupannya, hubungan romance dua sejoli ini menuai banyak pro dan kontra dari pembaca. Banyak yang bilang menjadi Layla cukup menjadi gadis yang penurut sehingga tidak menimbulkan kerugian lainnya di belakang. di satu sisi, banyak juga yang mendukung sikap yang ditunjukan Layla kepada Mathias. Seorang gadis yang hidupnya hanya ingin membahagiakan Paman Bill Remmer tiba-tiba menjadi kakasih gelap seorang Mathias Herdart. Sebuah kehidupan yang amat tidak di inginkan.
But Why,,
Sebenarnya dalam opini pribadiku, kenapa Layla harus hidup seperti itu?
Jawabannya, mutlak karena dia tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan.
Bisa saja, dia menerima cinta Mathias yang ugal-ugalan dan menjadi Nyonya Herdart, tetapi dia lebih memilih penderitaan. Dia bukannya tidak mencintai pria menawan itu. Dia sungguh tahu, bahwa hanya Herdart yang diinginkan dalam kehidupan romansanya.
Layla hanya bersikap rasional.
Apa kata dunia jika dia menyerahkan dirinya pada Duke. Seorang yang bahkan kedua orangtuanya tidak menginginkannya, apakah mungkin akan diterima di keluarga Mathias yang penuh kuasa? Terlebih lagi, keluarga Herdart bukan sembarang keluarga kaya, tetapi pengaruhnya dapat membuat satu perintah mengambil nyawanya.
Di sisi lain, sikap yang ditunjukkan seorang Duke kepadanya sangat bertolak belakang jika ada orang lain. Sisi yang ditunjukkan ini sangat manis, menurut anggapan pembaca khususnya sepertiku. ehehehe
Meskipun di luar Mathias bersikap seolah-olah tidak peduli pada gadis itu, tetapi deep down dia sangat menginginkannya dan bahkan dia rela melepas sikap seorang Duke. bagian paling romantis dalam novelnya, menurutku ada pada bagaimana si Mamat berusaha terus dekat dengan Layla walopun wanita itu terus berontak. Salahnya mamat, kenapa ga straightforward aja? ungkapin isi hatinya itu.
sebagai penganut mahzab keterus terangan itu, saya juga tidak setuju dengan Duke.
Ga kebalik?
Well,
Menjadi seorang yang berterus terang memang bisa meminimalisisr drama. Tapi itulah masalahnya.
Mereka hidup di dunia novel.
Tetapi pembaca hidup di dunia realita.
Sebagai wanita, saya juga punya ekpektasi keterus terangan dari pasang.
Just say it. So that be clear.
Sebagai seorang manusia biasa yang tidak tahu bagaimana alur hidup kita seutuhnya, saya memahami perasaan seorang Layla. Tetapi itu tidak berarti saya sependapat sepenuhnya kenapa dia berbuat seperti itu.
This is contradictive, saya memahmi perasaannya tetapi saya juga menyalahkannya, kemudian jika saya menjadi dia, mungkin saya juga akan berbuat hal yang sama. ini bukan tentang kalah sebelum berperang. Tapi, tentang harap pada manusia.
As perfect as Mathias. He is just a person. He lacks on something.
Baiklah, mari kita hentikan perdebatan Mathias dan Layla. Bagaimanapun, mereka sudah hidup dengan bahagia. Tapi, please, kasih 1 Mathias yang mencintai Layla secara ugal-ugalan di hidup ini, Biar kita wanita-wanita independen ini bisa menjadi seorang yang bergantung seutuhnya kepada orang yang layak. Karena jadi mandiri itu capek. sekali-kali jadi bni.
Komentar