Matahari baru saja beranjak pergi dari singgasana, tapi aku
sudah dikuasai emosi sejak pintu tidak di tutup.
Kamu tahu, pintu rumah kami ada 4, dimana 1 pintu depan dan
samping kami langsung berhadapan dengan kamar mandi yang tanpa sekat. Artinya,
jika kamu membuka salah satu pintu depan dan pintu samping, kamu akan melihat
dengan jelas apa yang dilakukan orang di kamar mandi.
Aku sedang di kamar mandi dan melakukan hal penting. Oleh
karena itu aku meminta orang rumah untuk menutup semua pintu agar aku bebas
melakukan apa saja, termasuk apabila harus telanjang. Tapi dengan alasan ayam,
pintu masih dibuka lebar.
Aku tersulut emosi dalam sekejap. Waktu masih sangat pagi,
tapi aku harus berdebat dengan orang yang kusayangi.
Selesai menunaikan hajat dikamar mandi, aku pun bergegas
membanting tong dan mbatan yang ada di depanku untuk memukul ayam-ayam kami.
Aku masih sangat marah karena mereka aku harus mengeluarkan begitu banyak
energi di pagi hari.
Setelahnya aku kembali ke kamar, mengambil salah satu buku
favorite yang akhir-akhir ini sedang kubaca. Buku itu berbahasa Inggris, dan
terkadang aku harus mengartikan agar kosakataku juga bertambah.
Aku random membuka halamannya,
dan tertarik pada bab ‘Relationship’. Aku tidak memahami semua kata-katanya,
tapi pada kesempatan aku membaca kisah Maeng Sa Seong (1360-1438).
Maeng Sa-seong adalah seseorang yang terkenal karena kepintarannya
pada zaman Dinasti Joseon. Dia mendapat nilai tertinggi pada ujian pegawai
negeri yang diselenggarakan pada usia 19 dan menjadi kepala Distrik pada usia
20. Suatu ketika dia berkehendak berkunjung ke salah satu Master Budha di
distriknya dan menanyakan apa yang harus ia lakukan sesuai dengan jabatannya.
Master Zen membalas, yang harus kamu lakukan adalah menjauhi
kejahatan dan melakukan hal-hal baik.
Tanpa menduga jawaban itu yang ia dapat, Maeng lantas
menyela ‘Jika itu anak kecil juga tahu’
Tanpa menunggu penjelasan sang Master, ia justru
meninggalkannya.
Setelah beberapa saat Maeng kembali pada Master Budha. Kali
ini Master Budha menuangkan teh ke dalam cangkir Maeng. Tetapi ia tidak
berhenti saat teh itu telah penuh dan tumpah ke lantai. Dengan reflek, Maeng
bertanya kepada sang Master apa yang sedang ia lakukan.
Master Zen menjawab,
Kamu tau bahwa terlalu banyak
teh akan merusak lantai (karena tumpahannya), tetapi bagaimana kamu tidak tahu, bahwa terlalu banyak pengetahuan dapat
merusak karakter seseorang?
Merasa malu, Maeng bergegas
menuju pintu hendak meninggalkan ruangan. Sesampainya di daun pintu, dia
menengok ke belakang. Master Budha kemudian berkata,
Jika kamu menundukkan
pandanganmu (rendah hati), kamu tidak akan terkena masalah.
Ini adalah refleksi yang aku dapatkan secara tidak sengaja
ketika membaca buku The Things You Can See Only When You Slow Down karya Haemin
Sunim.
Kadang, secara tak sadar aku memang membandingkan diriku
dengan sekeliling. Bagaimana dulu aku diperlakukan hingga bagaimana semua
perjalanan yang kulalui membentu diriku yang sekarang.
Ada saatnya aku merasa buruk karena perlakuan orang lain,
tetapi jika mengingat bagaimana diriku berubah sejauh ini, membuatku berprasangka
bahwa semua karena pengetahuan. Karena aku membaca dan rajin belajar akhirnya
aku sampai pada titik ini.
Setelah membaca penggalan kisang Maeng dan Zen aku jadi
merasa tertampar, bahwa sebenarnya, aku bukanlah siapa-siapa. Even apa yang aku
capai semua ini.
Dan karena Maeng, aku jadi tergerak menulis kisah ini dan
merefleksikan kembali untuk diriku, sebagai pengingat yang berharga.
Apapun pencapaianku,
aku tetap bukan siapa-siapa dihadapan orang yang melahirkanku.

Komentar