Langsung ke konten utama

Side Hustle: Antara Financial Freedom dan Kurang Bersyukur

 

image from: Paydia

Yeps. Fenomena side hustle makin menjamur belakangan ini khususnya di kalangan Gen Z. 
Aku sendiri punya berbagai macam keinginan untuk memiliki pekerjaan sampingan nih, tapi,,, 

ga pernah kesampean! 👀

Kok gitu?

Soalnya, aku bukan tipe yang mudah belajar. Mungkin pada awalnya aku akan senang melakukan sesuatu yang baru, atau belajar tentang hal-hal yang tak pernah ku pelajari sebelumnya. For instance, aku pingin banget punya side job kaya jadi data analis karena menurut aku pekerjaan yang sedang tren itu keren. Khususnya kerena aku pikir pekerjaan sebagai data analis itu ga butuh effort banyak. I mean, pekerjaan itu bisa dikerjakan dari mana aja dan gajinya gede!. 

Siapa aja juga mau kan? 

Tapi, 

Setelah lama memendam keinginanku, akhirnya aku beranikan diri mendaftar course sebagai calon data analis nih. Niat awalnya emang buat cari kerjaan baru, karena saat itu kerjaan kantor lagi sepi nih. Iseng-iseng deh bikin gebrakan hahaa. 

Setelah ikut seminar gratisan (yaps aku suka yang gratiss hehe) akhirnya sedikit terbayang sih gimana cara kerjanya. Well, I can tell menekuni hal yang baru itu nggak mudah!. Awalnya aku excited banget nih, berasa keren kalo udah jadi profesi data analis padahal aku gatau apapun tentang profesi itu. 

Akhirnya setelah beberapa kali ikut seminar gratisan, mulailah memberanikan diri ambil kursus yang berbayar. Judulnya sih dasar-dasar jadi data analis atau gimana jadi seorang data analis walopun pemula banget. Aku ikut seminar dari seorang influencer yang lumayan terkenal sih, dan kursusnya itu cuma 2 bulan kalo ga salah. 

Nah as we predict, aku ketiduran di pertemuan pertama!

Bayangpun, dah buang2 duit malah tidur cukk! asli nyebelin sih tapi aku kasih keringanan juga mengingat saat itu bener-bener capek sepulang ngantor ditambah kelas sangat pasif dan yang ngisi ternyata bukan si influencer tsb tetapi orang2nya dia. 

Dia tuh ngejelasin ga dari awal banget. Aku yang ga paham seputar dunia komputer dan programing tentu syik syak syok sama penjelasannya karena jauh banget dari ekspektasi. 

Endingnya bisa ditebak. Aku akhirnya sama sekali ga ngikutin kelas karena udah down duluan sebelum mencoba dan ngerasa sirkel bahasanya sama sekali ga bisa dipahami dari konteks orang awam. 

Huhu..sedih sih, tapi aku gamau kelewat mikir karena selain pekerjaan numpuk ternyata keinginan untuk jadi seorang data analis juga kian pudar dan juga keinginan untuk punya side hustle itu sendiri.



credit: shopify

Kalo di inget-inget, kenapa ya dulu aku ngebet banget pengen punya banyak kerjaan sampingan?

Kalo bener, aku sedikit banyak terpengaruh sama tontonan sosmed yang nunjukin kalo bisa side hustle why not? Aku ngikutin banyak banget influencer yang menggembar gemborkan financial freedom dengan cara salah satunya memiliki pekerjaan sampingan. 

Bahkan, salah seorang influencer yang kuikuti pernah punya side job sampai 4 macam sehari! hingga akhirnya dia bisa financial freedom sekarang. 

Well, kalo liat kacamata orang bagus banget. Keren gitu punya sampingan. Apalagi buat yang kerjaan utamanya pe-en-es ini berapa sih gajinya dibanding mereka yang kerja di swasta dan luar negeri tapi tinggal di Indo... 

Suka sedih, karena orang taunya yang enak-enak aja. Tapi bukan berarti aku lagi ngeluh ya. Emang aku bersyukur bisa dapetin pekerjaan yang banyak orang pengen, tapi di satu sisi ada rasa insecurities dari dalam diri aku karena aku ga punya kebebasan as people do. 

Oleh karena itu, kata-kata yang kutemui tiap hari yang berhubungan dengan kebebasan tentu saja menarik perhatianku. Aku sungguh haus kebebasan. Entah bebas dalam hal apa asal sesuai norma ya!

And then semakin aku tertarik semakin aku haus akan itu. Financial freedom yang menggiurkan. Dan akupun jatuh makin dalam jebakan.

Akhirnya aku sibuk cari kursus sana kursus sini yang pada akhirnya aku sadar, mungkin side hustle bukanlah jalanku. Dan kembali aku merenung dan berpikir, kenapa sih harus banget punya kerjaan sampingan? walopun mungkin iya kamu bakal gaji yang lebih gede, dan tambahan uang jajan, tapi kamu juga harus bayar dengan sisa waktu luangmu. Emang sih, aku juga bukan orang yang disiplin banget soal waktu, masih suka nyia-nyiain untuk hal ga berguna itu.

Aku sedikit bertanya, inikah yang emang bener-bener aku butuhin sekarang? I mean, having financial freedom is good indeed, but it's far in the future. Ya kalo misalnya kita hidup sampai 20-30 tahun lagi mungkin kita bakal bisa nikmatin,, kalo nggak ya bagus juga kita bisa warisin ke orang lain. Yaps, akhirnya kita kerja mati-matian bukan untuk kita nikmati sekarang.

Pernah ga sih mikir, orang yang kerja mati-matian itu orang yang kurang bersyukur!. Hmm, kalo aku sendiri tergantung mindset orangnya sih, karena mau gamau kita harus paham bahwa posisi orang itu ga sama, dan ga semua orang siap dan mau hanya bersantai-santai dengan apa yang dia punya saat ini.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Numpang Nama

One thing I don't like about my work culture is 'numpang nama'. This word is used for somebody whose name is in the decision letter for implementing activities, but they didn't do their job. And this is what I am experiencing now.  Terus terang aja, aku bukan tipical orang yang pinter juga, bukan juga orang yang sosialis juga. Tapi untuk pekerjaan aku prefer aku yang kerja jika emang ada namaku di sana. Kenapa sih tiap aku nanya tuh ga pernah dapat jawaban yg puas. Giliran ada masyarakat nanya2 informasi ke aku, kan aku jadi gapunya jawabannya.  Masa ada orang jauh-jauh datang ke kantor, aku cuma jawab 'Maaf pak saya gatau' kan lucu. Bayangin kalo orang itu adalah kamu atau orang terdekatmu. Kan Bangke! Herannya tiap aku bahas tentang hal ini ga ada yang kasih pendapat positif. Seakan aku tuh cuma outsider yang ga berhak apa2.  Kalo tau kaya gini aku gausah ada namaku di sana. Dapat ilmu dan pengalamannya minim tapi giliran ada apa-apa pasti keseret namanya.  Go...

Galau 2025

 Dear Aku,  udah lama nih aku ga curhat di sini. Entahlah. Makin ke sini makin jarang banget kita ngobrol ya.. padahal kalo mau, banyak banget loh yang bisa kita diskusiin, atau sekedar ngegabut ajaa..  And yes, as you know, AMU program has been finished since July last year. Even though I didn't get a good score, I tried my best. And then I took IELTS course at UI my score remain still. 5,5 for general.  This is our first time in 2025, yeah. It's been a while. I can tell I changed a lot. I'm not a person who loves read a book, I'm not a person who likes writing a diary as well as story as I used to be. Here I am, just an average girl with tons of laziness and excuses.  Dear Love,  I just don't understand myself anymore. I don't know how to tell you. I want to be back to myself as I was a decade ago. The day that I can write anything, even just nonsensical things, imagination, or even my odd poem. I was quite ambitious back then. I had a big dream. I u...

How is class in EF

 It's been a week i took an english class in EF.  It so funny that study english with native teacher and friends all around the world. Each class consist of maximal 9 student. Because we all in the same grade (intermediate) and mostly we have not fluent speak in english, so that sometimes we need take times to thinking what is that word in english.  In the class, teacher will ask us to speak and talking with other student for some issue, and then she will correct it. It is often happen, when i talk and suddenly got stuck because i don't know how to say in eglish, and i took time for searching on google translate.  We demanded to speak constantly, so that many of us still used 'a..a..aa' and so. In the end we laugh each other. Not underestimate..   Thankfully the teacher and all of student is understand that is an issue for us. And teacher giving support and cheer we up! That is going to be really funny moment. We had a flexible class along day. Each session...