Langsung ke konten utama

Soal Mutasi

Lagi heboh soal mutasi dan rotasi nih, dari PNS maupun P3K yang baru di sebuah instansi. Tepatnya, di kantor tempatku bekerja saat ini. 


Sangat menyedihkan, jika mendengar curhatan mereka tentang isu-isu yang berkembang saat ini.. 

Bagaimana tidak? 

Hampir setiap hari aku mendengar perbincangan dan keluh kesah mereka soal jauh dari keluarga. 

betapa tidak mengenakannya jika seorang Ibu harus jauh dari anaknya, dan hanya bersua di akhir pekan. 

Jujur, aku tidak tahu perasaan apa itu, karena aku belum berkeluarga dan memiliki anak. 

Tapi, aku telah jauh dari keluarga untuk 12 tahun. Aku yang sebatang kara di sini, sangat tidak relate dengan curhatan itu. 

Apalagi, ketika dikaitkan dengan performa kinerja pegawainya. Jika setiap orang maunya kerja di kantor terdekat, ya jangan jadi ASN, begitu pikirku. 

Mungkinkah aku yang terlalu egois?

Aku yang setiap hari terpikir tentang bagaimana layanan instansi ini untuk masyarakat, langsung dihadapkan kenyataan hubungan Ibu dan Anak. 

Aku selama ini berusaha untuk menjaga idealismeku. 

Melakukan yang terbaik dan berusaha melakukan dengan benar, sesuai aturan. 

Sontak, ketika aku mendengar celotehan itu aku merasa down. 

Aku perlahan mulai melepas semua idealis yang selama ini kupegang mati-matian, 

Untuk apa aku bekerja begitu keras, jika mereka yang santai2 saja, gajinya akan lebih tinggi dariku. Bahkan tunjangannya juga. 

Aku merasa beban di tubuhku semakin berat. Tanggungjawab semakin komplek, dari koordinator yang satu menjadi koordinator yang lain juga. Bukan saja teknis tapi juga pertanggungjwaban keuangan. 

Aku muak

Aku lelah

Aku ingin merasakan keluarga lagi.. 

Padahal kalo di pikir2, mereka masih enak, cuma di rotasi seprovinsi. Mereka juga masih punya keluarga.

Kalo emang mau nuntut di samain dengan PNS, ya ikutin juga resiko jadi ASN.

Anw, gaji dan tunjangan P3K itu lebih besar dari PNS. 

Misalnya, golongan 3a (lulusan S1) PNS. gaji 2,8 tukin 3,4 itupun dalam setahun sebelum dikokohkan menjadi PNS gaji hanya terima 80%. sedangkan P3K gaji 3,, dan tukin mereka setara dengan pejabat eselon (koordinator) kisaran 4 jutaan. 

Mereka masuk instansi tidak melalui tahapan tes yang rumit, yang penting ada kenalan orang dalam, berkali-kali ikut tes CPNS ga lolos karena standar tesnya tinggi dan banyak. 

Belum lagi sertijab dan kursus-kursus lainnya sehingga diangkat jadi PNS setaun kemudian. 

Kenapa mereka tak menuntut itu juga? 

Kenapa hanya yang enak-enak aja yang diminta? Kalo mau di samarata ya harusnya mereka sama juga merasakan apa yang kami rasakan. 

Well, ini bukan perasaan iri. Lebih ke, idealis aja lah.. 

Aku sendiri udah 1 dekade bergabung di instansi ini, dan perasaan tetap sama, beban PNS dan P3K itu jauh sekali. bayaran tinggi mereka, tapi giliran tanggung jawab pekerjaan dilimpahkan ke kita. 

Capek, tapi mana mau bos-bos yang di atas perhatiin keluh kesah ini? 



credit: Jabar Ekspres

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Numpang Nama

One thing I don't like about my work culture is 'numpang nama'. This word is used for somebody whose name is in the decision letter for implementing activities, but they didn't do their job. And this is what I am experiencing now.  Terus terang aja, aku bukan tipical orang yang pinter juga, bukan juga orang yang sosialis juga. Tapi untuk pekerjaan aku prefer aku yang kerja jika emang ada namaku di sana. Kenapa sih tiap aku nanya tuh ga pernah dapat jawaban yg puas. Giliran ada masyarakat nanya2 informasi ke aku, kan aku jadi gapunya jawabannya.  Masa ada orang jauh-jauh datang ke kantor, aku cuma jawab 'Maaf pak saya gatau' kan lucu. Bayangin kalo orang itu adalah kamu atau orang terdekatmu. Kan Bangke! Herannya tiap aku bahas tentang hal ini ga ada yang kasih pendapat positif. Seakan aku tuh cuma outsider yang ga berhak apa2.  Kalo tau kaya gini aku gausah ada namaku di sana. Dapat ilmu dan pengalamannya minim tapi giliran ada apa-apa pasti keseret namanya.  Go...

Galau 2025

 Dear Aku,  udah lama nih aku ga curhat di sini. Entahlah. Makin ke sini makin jarang banget kita ngobrol ya.. padahal kalo mau, banyak banget loh yang bisa kita diskusiin, atau sekedar ngegabut ajaa..  And yes, as you know, AMU program has been finished since July last year. Even though I didn't get a good score, I tried my best. And then I took IELTS course at UI my score remain still. 5,5 for general.  This is our first time in 2025, yeah. It's been a while. I can tell I changed a lot. I'm not a person who loves read a book, I'm not a person who likes writing a diary as well as story as I used to be. Here I am, just an average girl with tons of laziness and excuses.  Dear Love,  I just don't understand myself anymore. I don't know how to tell you. I want to be back to myself as I was a decade ago. The day that I can write anything, even just nonsensical things, imagination, or even my odd poem. I was quite ambitious back then. I had a big dream. I u...

How is class in EF

 It's been a week i took an english class in EF.  It so funny that study english with native teacher and friends all around the world. Each class consist of maximal 9 student. Because we all in the same grade (intermediate) and mostly we have not fluent speak in english, so that sometimes we need take times to thinking what is that word in english.  In the class, teacher will ask us to speak and talking with other student for some issue, and then she will correct it. It is often happen, when i talk and suddenly got stuck because i don't know how to say in eglish, and i took time for searching on google translate.  We demanded to speak constantly, so that many of us still used 'a..a..aa' and so. In the end we laugh each other. Not underestimate..   Thankfully the teacher and all of student is understand that is an issue for us. And teacher giving support and cheer we up! That is going to be really funny moment. We had a flexible class along day. Each session...