Waktu itu hari selasa dan Bapak baru saja pulang dari pasar.
Tanpa komando aku langsung memberesi belanjaan bapak. Di tengah kesibukanku
beberes terdengar dering sms masuk
“awas kamu ya Man kalau masih mengganggu istri orang”
Srrr darahku berdesir detak jantungku tak lagi beraturan
seperti satu menit yang lalu. Ada
perasaan yang tak bisa di ungkap dalam peristiwa ini. Aku mengacuhkannya begitu
saja namun otak ini serasa di penuhi oleh kalimat sms tadi.
Selesai beberes dagangan aku memberi tahu Ibu perihal sms
itu. Aku yang tadinya mengira hanya orang salah kirim menjadi berubah pikiran.
Ibu marah ataukah cemburu pada saat itu tak bisa lagi di bedakan. Ia menghardik
Bapak yang belum lagi selesai makan.
Ahh harusnya aku tidak memberi tahu soal sms tadi kepada
ibu. Harusnya bukan seperti ini reaksi ibu yang kuharapkan. Seketika aku merasa
menjadi orang yang sangat bodoh telah menyulut bara api yang setiap saat bisa
membakar diriku sendiri.
Bapak hanya diam menanggapi serangan ibu. Entahlah beliau
sedang berfikir apa. Begitu setiap hari. Selalu menanggapi dengan diam dan
diam.
“ya sudah bapak mengaku kalau dulu memang bapak pernah
selingkuh sama Yatun. Tapi sekarang bapak sudah tobat. Ndak usah lah di
perbesar masalah ini”
Itu yang aku dengar sewaktu bapak berkomentar tentang sms
itu. Aku yang mendengar sontak kaget dan menghentikan acara makan bersama kami.
Aku hamper saja menangis tapi sekuatnya aku tahan ingin segera mendengar
pengakuan apalagi yang di buat oleh Bapak. Aku tak tahu seperti apa hancurnya ibu
waktu itu. karena aku belum mengerti tentang masalah ini.
Setelah kejadian di ruang makan itu aku menjadi banyak diam.
Terlebih ibu yang setiap hari terlibat pertengkaran dengan Bapak. Kini
keluargaku di ambang ‘kehancuran.
Ahh aku menyesali kejadian selasa itu yang memberi tahu Ibu.
Seandainya saja waktu bisa di putar aku akan merubahnya sehingga orangtuaku
akan baik-baik saja.
Aku menyaksikan banyak airmata yang tumpah menggenangi wajah
ibu, setelah selesai solat, maupun menjelang tidur. Wanita itu kini runtuh
mungkin aku yang akan di jadikan benteng pertahanan olehnya. Aku tak mau
menangis, meski hati rasanya tak sanggup lagi membendung semua luka ini. Aku
menangis meski tak ada yang menjadi saksi airmata ini.
Ibu menjadi sangat sensitive. Aku bisa sedikit memahami itu.
hampir sudah satu minggu beliau pulang ke rumah nenek di dusun sebelah. aku
memang menginap beberapa malam. Aku ingin bersama ibu. Namun apa yang beliau
katakana kepadaku?
“sudah ndok pulang saja kamu urus Bapak. Nanti bapak tidak
makan kalau kamu ndak masak. Sudah masakin buat Bapak sama Jento”
Aku menurut saja. Bahkan aku tak perlu menyiapkan nasi untuk
kami bertiga di rumah (Bapak, aku dan adik ku) sebab kami di bawakan makanan
dari rumah nenek.
Aku lupa sudah yang ke berapa tangisan ini. Semakin ku
dekatkan diriku kepada Nya agar Dia menyatukan kembali rumah tangga keluarga
kami. Aku sesenggukan mengemis di hadapan Nya.
Ya Allah yang Maha
Pengampun, ampunilah segala dosa-dosa kami, dosa kedua orangtua kami. Ya Allah
berikanlah kami cahayamu supaya kami keluar dari permasalahan ini. Jagalah kami
Ya Rabb dari bisikan syaitan yang terkutuk yang akan menjerumuskan kami ke
lembah Jahannam. Perbaikilah hubungan orangtua kami supaya kami tetap bersama
membangun keluarga yang sakinah, mawaddah warahmah.
Beri kemudahan kepada
kami untuk melihat permasalahan dengan jernih.
Tess…semakin deras airmata ini mengalir. Begitu tak
berdayanya aku menghadapi semua ini. Ambang kehancuran sudah ada di depan mata
dan kami hampir saja jatuh ke dalamnya.
Ya Allah jangan
biarkan Ibu menangis. Kuatkan hatinya untuk menghadapi cobaan ini. Engkau yang
Maha Melihat. Satukan keluarga kami yang tercerai berai ini Ya Allah…
Berita itu segera saja menjadi berita burung bagi warga
kampong kami. Selang sehari saja kicauan warga tentang keluargaku begitu
dahsyat. Ada
yang kasihan kepada Ibu karena di hianati ada juga yang mencibir karena ulah
Bapak.
Aku masih saja belum mengerti apa yang harus kulakukan. Aku
anak pertama dan harus mengurus Rizki. Untunglah dia mungkin agak mengerti
tentang masalah ini. Rewelnya berkurang dan jarang mengundang emosi lagi.
Tak hanya menyerang Bapak, ibu juga menyerang selingkuhannya
bapak. Tepatnya tetangga sebelah kami. Anehnya, suami wanita itu bukan membela
dirinya yang telah di hianati. Dia justru menyalahkan Bapakku yang godain istri
orang.
Ibu tak terima dengan tuduhan itu. Ibu menuduh bahwa yatun
lah yang memulai sehingga bapak tergoda kepadanya.
“alah dasar saja istrimu. Kegatelan. Menggoda suami orang.
Kalau belanja nunggu aku pergi dulu biar dikasih Cuma-Cuma. Kesininya pasti
kalau aku sudah pergi. Di amat amati daganganku habis ga ada duitnya. Oo
ternyata lari sama tetangga sendiri. Dasar murahan. Wanita murahan”
Semua saling balas saling serang. Tak ada yang mau kalah
seperti sebuah pertandingan. Mungkin hanya satu alasan. Harga diri,harga mati.
Begitu kata Ibu.
Ketegangan itu berlangsung cukup lama bahkan sampai memasuku
bulan puasa.
Duhh bulan suci itu kini ternodai oleh keluarga kami yang
saling membenci. Ampuni kami Ya Allah,,
Do’aku belum juga terjawab. Cahaya itu masih saja suram dan
tak dapat kami lihat. Rabbi, apakah Engkau lupakan hamba yang hina ini? Padahal
tahajud pun tak ku tinggalkan hanya demi kerukunan orangtuaku.
Titik Terang
Hariku masih saja kelabu. Padahal tak ada awan yang
menutupinya karena musin kali ini adalah musin kemarau. Ya, panasnya matahari
tak sepanas hati ini jika melihat kedua orangtua masih saja saling menghardik
dan saling membenci. Jika saja aku sudah tak punya Allah yang menyayangiku
mungkin aku sudah berada di bawah gundukan tanah.
Kakek dan nenek dari pihak Ibu terus mencari jalan keluar.
Sedangkan nenek dari pihak Bapak hanya menasihati kami. Semua sepakat ingin
kembali kerukunan yang tercipta. Bapak pun sudah mengakui kesalahannya dan
sudah bertaubat. Hanya kini Ibu yang masih tersiksa dengan penghianatan ini.
Pernah beberapa kali beliau ingin mengajukan cerai kepada pengadilan agama
namun dari pihak keluarga tak menyetujuinya.
“ingat sama anakmu yang masih kecil. Apa kamu ndak kasihan
sama mereka kalau ndak punya Bapak lagi. Di fikir baik-baik kalau mau mengambil
keputusan jangan Cuma pakai emosi. Besok menyesal tak akan ada guna lagi”
Malam itu keluarga Ibu sama bapak kumpul di rumahku. Ibu
masih saja seperti anak kecil yang merengek kepada nenek. Hancur berkeping
keping perasaannya, hatinya. Hingga untuk makan pun beliau tidak mau.
“ibarat orang sedang berjalan Diman itu baru kepleset, belum
terjatuh. Yang sudah ya biarkan sudah tidak usah di sebut lagi kesalahannya.
Sekarang Bapak sama Ibu ingin kalian rukun lagi. Menjalankan perintah agama.
Tidak perlu berebut siapa yang benar dan siapa yang menang. Serahkan semua
kepada yang Maha Kuasa. Semua harus bisa saling memaafkan sebab kodrat manusia adalah tempat salah dan
dosa”
Semua terdiam mendengarkan petuah Kakek. Beliau memang di
segani semua orang, mungkin karena usianya yang sudah ‘sepuh.
Alhamdulillah perundingan malam itu membuahkan hasil
positive untuk kami. Bapak pun berjanji tidak akan mengulangi kelakuan jahat
itu dan beliau sungguh-sungguh bertobat dengan taubat Nasuha.
Terimakasih Ya Allah inilah jawaban dari do’a yang tak
pernah lelah aku pinta di setiap sujudku. janjiMu selalu benar. Ampuni kami
yang masih meragukan kasih sayangMu.
Izinkan kami mendekat kepadaMu ya Rabb, agar kami menjadi
bagian dari hambaMu yang di rindukan Nabi kami. Aamiin
#rintik hujan
Komentar